Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

China Tolak Bantu AS Buka Selat Hormuz, Perang Iran Bikin Trump Tunda Kunjungan ke Beijing

Ali Sodiqin • Rabu, 18 Maret 2026 | 11:34 WIB

China tak bantu AS buka Selat Hormuz. Perang Iran paksa Trump tunda kunjungan ke Beijing, picu kekhawatiran geopolitik global.
China tak bantu AS buka Selat Hormuz. Perang Iran paksa Trump tunda kunjungan ke Beijing, picu kekhawatiran geopolitik global.

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah China menolak membantu Amerika Serikat membuka kembali jalur vital energi dunia, Selat Hormuz.

Permintaan tersebut sebelumnya diajukan oleh Presiden AS, Donald Trump, di tengah memanasnya konflik dengan Iran.

Penolakan ini terjadi saat perang antara AS dan Iran memasuki pekan ketiga, dengan dampak signifikan terhadap distribusi minyak global yang terhenti di jalur strategis tersebut.

Perang Iran Seret AS, China Diuntungkan?

Sejumlah analis menilai situasi ini justru menguntungkan China, rival geopolitik utama AS.

Ketidakmampuan Washington membuka Selat Hormuz secara mandiri dianggap sebagai pukulan terhadap citra kekuatan globalnya.

Ali Wyne dari International Crisis Group menyebut langkah Trump sebagai bentuk salah perhitungan.

“Amerika Serikat kini membutuhkan bantuan dari pesaing strategisnya sendiri untuk mengatasi krisis yang mereka ciptakan,” ujarnya.

Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa operasi militer yang dimaksudkan untuk menekan lawan justru membuka celah kelemahan AS di mata dunia.

China Pilih Netral, Serukan Penghentian Konflik

Pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri tidak secara langsung menolak, namun juga tidak memberikan komitmen membantu.

Beijing hanya menegaskan pentingnya menghentikan operasi militer dan mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat mengguncang ekonomi global.

Sikap ini memperkuat posisi China sebagai pihak yang mencoba tampil sebagai penyeimbang, tanpa harus terlibat langsung dalam konflik.

Kunjungan Trump ke Beijing Ditunda

Dampak lain dari krisis ini adalah tertundanya kunjungan kenegaraan Trump ke China yang sebelumnya dijadwalkan pada 31 Maret 2026.

Meski belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh Beijing, komunikasi antara kedua negara disebut masih berlangsung.

Presiden Xi Jinping disebut tetap membuka peluang untuk menjadwalkan ulang pertemuan tersebut.

Trump sendiri menyatakan hubungan kerja dengan China masih berjalan baik dan penundaan ini tidak menjadi masalah besar bagi kedua pihak.

China Fokus Diplomasi dan Bantuan Kemanusiaan

Di tengah konflik, China justru aktif membangun diplomasi di kawasan Timur Tengah.

Beijing bahkan menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai USD200 ribu kepada Iran melalui Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, khususnya untuk korban serangan di sekolah di Minab.

Langkah ini dinilai sebagai strategi “soft power” China untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan tanpa terlibat konflik militer.

AS Terancam Kehilangan Fokus di Asia

Perpindahan aset militer AS dari kawasan Indo-Pasifik ke Timur Tengah memunculkan kekhawatiran baru.

Menurut Zack Cooper dari American Enterprise Institute, kondisi ini bisa membuat sekutu AS di Asia meragukan komitmen Washington.

“Semakin lama perang berlangsung, semakin besar kekhawatiran bahwa AS kehilangan fokus strategis di Asia,” ujarnya.

Dampak ke Taiwan dan Hubungan AS-China

Penundaan kunjungan Trump juga berpotensi menghambat pembahasan penting, termasuk penjualan senjata ke Taiwan.

Isu Taiwan sendiri tetap menjadi titik paling sensitif dalam hubungan antara AS dan China.

Di satu sisi, AS berkewajiban membantu pertahanan Taiwan, sementara China menegaskan akan mengambil alih wilayah tersebut jika diperlukan.

China Dinilai “Menang Tanpa Bertempur”

Sejumlah pengamat menilai China tidak perlu melakukan banyak hal dalam situasi ini.

Dengan AS yang terseret konflik di Timur Tengah, Beijing justru mendapat ruang untuk memperkuat posisinya di panggung global.

“Amerika Serikat sedang melemahkan dirinya sendiri. China cukup menunggu,” ungkap Cooper.

Krisis Global di Depan Mata

Ketegangan di Selat Hormuz bukan hanya persoalan regional, tetapi ancaman serius bagi ekonomi dunia.

Jika konflik terus berlanjut dan jalur distribusi minyak tetap terganggu, dampaknya bisa meluas ke krisis energi global.

Situasi ini menempatkan dunia pada persimpangan berbahaya—antara eskalasi konflik atau upaya diplomasi yang belum tentu berhasil.

Perkembangan ini menjadi pengingat bahwa dalam geopolitik modern, kekuatan tidak selalu ditentukan oleh senjata, tetapi juga oleh strategi, timing, dan kemampuan membaca situasi global. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#China Tolak Bantu AS #selat hormuz #china #donald trump #beijing #perang iran #geopolitik global