RADARBANYUWANGI.ID - Nama Ali Larijani kembali menjadi sorotan dunia setelah Israel mengklaim telah menewaskan tokoh kunci politik dan keamanan Iran tersebut dalam serangan udara terbaru.
Klaim ini langsung mengguncang geopolitik kawasan. Pasalnya, Larijani bukan sekadar pejabat biasa, melainkan salah satu figur paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Iran.
Jika kabar tersebut benar, ia akan menjadi tokoh paling senior yang tewas sejak pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada awal konflik.
Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi. Namun, perhatian publik global telanjur tertuju pada sosok Larijani—figur yang selama puluhan tahun berada di pusat kekuasaan Republik Islam Iran.
Latar Belakang dan Pendidikan
Ali Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak. Ia berasal dari keluarga religius yang memiliki pengaruh kuat dalam lingkaran elite Iran.
Pendidikan ditempuh di University of Tehran dengan fokus pada filsafat Barat.
Latar belakang akademis ini membuatnya dikenal sebagai salah satu politisi Iran yang intelektual, bahkan mendalami pemikiran filsuf seperti Immanuel Kant.
Karier Militer dan Awal Politik
Karier Larijani tidak lepas dari dunia militer. Ia pernah menjadi bagian dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), institusi militer paling berpengaruh di Iran.
Pengalaman tersebut membentuk jaringan kuatnya dengan militer dan intelijen.
Sejak awal Republik Islam berdiri, Larijani telah terlibat dalam berbagai posisi strategis, menjadikannya figur penting dalam transisi kekuasaan dan stabilitas negara.
Karier Politik Panjang dan Strategis
Larijani dikenal sebagai salah satu politisi paling senior di Iran dengan rekam jejak panjang di pemerintahan. Ia pernah menjabat:
- Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (2005–2007, dan kembali sejak 2025)
- Ketua Parlemen Iran (Majles) periode 2008–2020
- Menteri Kebudayaan
- Kepala penyiaran negara (IRIB)
- Anggota Dewan Kebijaksanaan
Posisi-posisi tersebut menempatkannya di jantung pengambilan kebijakan strategis negara.
Arsitek Strategi Nuklir dan Diplomasi
Dalam kancah internasional, Larijani dikenal sebagai arsitek kebijakan nuklir Iran.
Ia juga pernah menjadi negosiator utama dalam perundingan nuklir, termasuk yang mengarah pada kesepakatan nuklir 2015.
Bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Larijani aktif menjalin komunikasi dengan negara Barat, Rusia, hingga negara-negara Teluk.
Ia sering disebut sebagai “jembatan” antara kepentingan militer, ulama, dan elite politik Iran.
Power Broker di Teheran
Di dalam negeri, Larijani dikenal sebagai “power broker”—pengendali kekuasaan di balik layar di Tehran.
Ia bahkan disebut sebagai pemimpin de facto Iran dalam beberapa fase krisis terbaru.
Meski memiliki pengaruh besar, ia tidak bisa menjadi pemimpin tertinggi karena bukan berasal dari kalangan ulama.
Perubahan Citra: Dari Moderat ke Garis Keras
Pada awal kariernya, Larijani dikenal sebagai tokoh pragmatis dan moderat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sikapnya cenderung mengeras.
Hal ini seiring meningkatnya ketegangan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat serta gagalnya berbagai upaya diplomasi.
Peran Kunci dalam Konflik 2025–2026
Dalam konflik terbaru, Larijani memegang peran vital dalam strategi politik dan keamanan Iran. Ia terlibat dalam:
- Koordinasi respons militer terhadap serangan AS-Israel
- Pengendalian situasi domestik
- Diplomasi regional
Ia menjadi salah satu tokoh utama yang menentukan arah kebijakan Iran di tengah perang.
Sanksi dan Kontroversi
Larijani juga tidak lepas dari kontroversi. Ia masuk dalam daftar pejabat Iran yang dikenai sanksi oleh United States, terkait dugaan keterlibatan dalam penindasan demonstrasi domestik.
Bahkan, AS sempat menawarkan hadiah hingga 10 juta dolar untuk informasi terkait dirinya dan pejabat tinggi lain yang berafiliasi dengan IRGC.
Target Serangan Israel
Eskalasi konflik memuncak ketika Israel mengklaim telah menargetkan Larijani dalam serangan udara terbaru.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut Larijani termasuk dalam daftar tokoh yang “dieliminasi”.
Operasi tersebut disebut dilakukan atas perintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Jika kematiannya dikonfirmasi, dampaknya diperkirakan sangat besar, tidak hanya bagi Iran tetapi juga bagi stabilitas kawasan.
Dampak Global dan Situasi Terkini
Konflik antara Iran dan Israel kini memasuki pekan ketiga, dengan lebih dari 2.000 korban jiwa.
Ketegangan juga berdampak pada jalur energi global, termasuk penutupan sebagian Strait of Hormuz.
Ledakan dilaporkan terjadi di berbagai kota besar Iran seperti Ahvaz, Isfahan, dan Shiraz.
Situasi ini menandai konflik yang semakin meluas dan berpotensi mengguncang stabilitas global.
Sosok yang Sulit Tergantikan
Lebih dari sekadar politisi, Larijani adalah figur yang mampu menggabungkan kekuatan militer, politik, dan diplomasi dalam satu kendali.
Jika benar ia tewas, maka Iran kehilangan salah satu otak strategisnya.
Sebaliknya, hal ini juga berpotensi memperkuat dominasi militer, khususnya IRGC, dalam menentukan arah masa depan negara.
Dunia kini menunggu konfirmasi resmi dari Teheran—yang akan menentukan babak baru dalam konflik paling panas di Timur Tengah saat ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin