Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Israel Klaim Bunuh Ali Larijani, Tokoh Kunci Iran, Konflik Timur Tengah Kian Memanas

Ali Sodiqin • Selasa, 17 Maret 2026 | 21:27 WIB

Ali Larijani.
Ali Larijani.

RADARBANYUWANGI.ID - Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas. Israel mengklaim telah menewaskan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam politik dan keamanan Iran, Ali Larijani, dalam serangan udara yang dilakukan semalam.

Jika klaim tersebut terbukti benar, Larijani akan menjadi pejabat paling senior Iran yang tewas sejak pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada hari pertama pecahnya perang.

Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi maupun bantahan resmi atas kabar tersebut.

Namun, jika kematian Larijani benar terjadi, dampaknya dipastikan sangat besar karena ia merupakan figur sentral dalam struktur politik dan keamanan Iran di tengah situasi krisis.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut operasi militer tersebut juga menargetkan tokoh penting lainnya.

Ia mengklaim komandan pasukan paramiliter Basij, Gholamreza Soleimani, turut tewas bersama sejumlah pejabat senior Basij.

“Larijani dan komandan Basij dieliminasi semalam dan menyusul Khamenei serta anggota poros kejahatan lainnya,” ujar Katz dalam pernyataannya, Selasa.

Di sisi lain, media pemerintah Iran sempat menayangkan catatan tulisan tangan dari Larijani. Dalam pesan tersebut, ia mengenang para pelaut Iran yang tewas akibat serangan Amerika Serikat.

Namun, catatan itu tidak dapat dijadikan bukti bahwa Larijani masih hidup karena diduga ditulis sebelum serangan Israel terjadi.

Jika kematian Larijani dan sejumlah tokoh lainnya terkonfirmasi, hal ini menunjukkan kemampuan intelijen Israel yang masih mampu melacak pergerakan elite Iran di ibu kota Teheran.

Dukungan kendali udara yang hampir sepenuhnya dikuasai Amerika Serikat juga disebut menjadi faktor penting dalam keberhasilan serangan tersebut.

Beberapa hari sebelum kabar serangan, Larijani masih terlihat menghadiri peringatan Hari Quds di Teheran.

Ia juga diketahui baru menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sejak Agustus lalu, menyusul gelombang serangan AS-Israel ke Iran pada Juni 2025.

Dalam pernyataan terakhirnya pada Senin, Larijani menyerukan solidaritas umat Muslim dunia untuk mendukung Iran.

Ia juga mengkritik negara-negara Teluk yang masih mengizinkan pangkalan militer AS digunakan untuk melancarkan serangan terhadap negaranya.

Sebelum konflik memuncak, Larijani dikenal aktif dalam jalur diplomasi. Bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, ia berupaya meyakinkan negara-negara Teluk agar mencegah terjadinya serangan terhadap Iran.

Ia juga sempat mengunjungi Muscat, Oman, untuk bertemu mediator dalam proses negosiasi.

Sementara itu, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa Benjamin Netanyahu telah memerintahkan langsung operasi untuk “mengeliminasi pejabat senior rezim Iran”.

Perang antara AS-Israel melawan Iran kini memasuki pekan ketiga. Sedikitnya 2.000 orang dilaporkan tewas, dan konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Dampak global pun mulai terasa. Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, sebagian besar masih tertutup.

Sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair global melewati jalur tersebut.

Namun, sejumlah sekutu AS menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk membantu membuka kembali akses tersebut.

Dalam pesan tulisannya, Larijani sempat memuji keberanian para pelaut Iran yang tewas akibat serangan kapal selam AS di perairan dekat Sri Lanka.

“Kenangan mereka akan selalu hidup di hati bangsa Iran dan akan memperkuat fondasi angkatan bersenjata Republik Islam,” tulisnya.

Sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh, Larijani dikenal mampu menggabungkan strategi militer dan politik Iran.

Kepergiannya, jika benar, diyakini akan semakin memperkuat dominasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam pemerintahan.

Sehari sebelum kabar serangan, mantan komandan IRGC Mohsen Rezaee bahkan telah ditunjuk sebagai penasihat militer bagi pemimpin tertinggi Iran yang baru.

Larijani sendiri memiliki rekam jejak panjang dalam pemerintahan Iran. Lahir di Najaf, Irak, pada 1958, ia meniti karier dari menteri kebudayaan, kepala penyiaran negara, hingga menjabat ketua parlemen selama lebih dari satu dekade.

Ia juga dikenal luas sebagai kepala perunding nuklir Iran yang berperan penting dalam pembentukan kesepakatan nuklir 2015 dengan negara-negara Barat.

Meski sebelumnya dianggap sebagai tokoh pragmatis, sikap Larijani dalam beberapa bulan terakhir dinilai semakin keras seiring meningkatnya ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat serta gagalnya jalur diplomasi.

Amerika Serikat bahkan sempat menawarkan hadiah hingga 10 juta dolar AS bagi informasi terkait pejabat tinggi Iran, termasuk Larijani, dalam daftar yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam.

Jika kematiannya dikonfirmasi, jumlah pejabat tinggi Iran yang tewas akibat serangan Israel sejak konflik terbaru dimulai akan meningkat menjadi sepuluh orang, termasuk beberapa komandan militer penting seperti Ali Shamkhani.

Sementara itu, laporan terbaru menyebutkan ledakan besar terus terjadi di sejumlah wilayah Iran.

Selain Teheran, kota-kota seperti Ahvaz, Isfahan, dan Shiraz juga dilaporkan mengalami serangan dalam beberapa jam terakhir.

Situasi ini menandai konflik yang semakin meluas dan berpotensi membawa dampak besar tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga stabilitas global. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Perang Iran Israel #Teheran diserang #Ali Larijani Tewas #konflik timur tengah #israel iran #IRGC Iran