RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan di Timur Tengah terus memanas setelah konflik antara Israel dan Iran memasuki hari ke-11.
Pemerintah Israel menegaskan bahwa mereka tidak menginginkan perang berkepanjangan dengan Iran, meskipun operasi militer masih terus berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, dalam konferensi pers di Jerusalem pada Selasa (10/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Saar menegaskan bahwa Israel akan berkoordinasi dengan sekutu utamanya, yaitu Amerika Serikat, terkait kapan operasi militer terhadap Iran akan dihentikan.
“Kami akan melanjutkan hingga saat kami dan mitra kami menganggap bahwa sudah tepat untuk berhenti,” ujar Saar dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Jerman.
Ia juga menegaskan bahwa Israel tidak memiliki niat untuk terjebak dalam konflik militer tanpa akhir.
“Kami tidak menginginkan perang tanpa akhir,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Saar saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, yang datang ke Israel dalam rangka pembahasan situasi keamanan kawasan.
Perang Memasuki Hari ke-11
Konflik militer antara Israel dan Iran kini telah memasuki hari ke-11 dan semakin meluas dampaknya di kawasan Timur Tengah.
Selain menyerang target di Israel, serangan Iran juga dilaporkan menghantam beberapa wilayah di negara-negara tetangga, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik regional yang lebih luas.
Situasi ini membuat berbagai negara di dunia menyerukan de-eskalasi dan solusi diplomatik guna mencegah perang yang lebih besar di kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik panas geopolitik dunia.
Target Israel: Program Nuklir dan Rudal Iran
Pemerintah Israel menyatakan bahwa tujuan utama operasi militernya adalah untuk melemahkan kekuatan pemerintahan ulama di Iran.
Hal tersebut dilakukan dengan menargetkan fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir dan pengembangan rudal balistik milik Teheran.
Israel menilai bahwa program nuklir Iran selama ini menjadi ancaman serius terhadap keamanan kawasan, termasuk terhadap keamanan nasional Israel sendiri.
Selain itu, Israel juga menyebut operasi tersebut bertujuan menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran melakukan perubahan politik di negaranya.
Menurut Saar, konflik yang sedang berlangsung dapat membuka peluang bagi masyarakat Iran untuk merebut kembali kebebasan mereka dari pemerintahan saat ini.
“Ada peluang untuk menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk merebut kembali kebebasan mereka,” ujarnya.
Namun, ia juga mengakui bahwa perubahan tersebut kemungkinan besar tidak akan terjadi selama perang berlangsung.
Saar menambahkan bahwa perubahan politik di Iran bisa saja terjadi setelah konflik berakhir.
“Kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini dengan hasil yang parsial,” tegasnya.
Jerman Dorong Jalur Diplomasi
Kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman ke Israel juga menjadi sorotan internasional. Johann Wadephul disebut sebagai pejabat asing senior pertama yang secara terbuka mengunjungi Israel sejak perang dengan Iran dimulai.
Dalam konferensi pers yang sama, Wadephul menyatakan keyakinannya bahwa Israel dan Amerika Serikat masih membuka ruang bagi solusi diplomatik untuk menghentikan konflik.
Menurutnya, jalur diplomasi tetap menjadi opsi penting guna mencegah konflik semakin meluas.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap solusi diplomatik harus mencakup kesepakatan komprehensif dengan Iran.
Kesepakatan tersebut, kata dia, harus mencakup pembatasan program nuklir Iran, pengembangan rudal balistik, serta dukungan Teheran terhadap berbagai milisi di kawasan Timur Tengah.
Persyaratan tersebut sebelumnya juga telah disampaikan oleh negara-negara Barat dalam berbagai forum internasional.
Namun, pemerintah Iran hingga kini menyatakan belum siap untuk menerima syarat-syarat tersebut dalam perundingan yang sedang berlangsung.
Risiko Eskalasi Konflik Regional
Perang yang melibatkan Israel dan Iran saat ini memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi eskalasi konflik regional yang lebih luas.
Kawasan Timur Tengah memiliki jaringan aliansi militer yang kompleks, termasuk kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran di beberapa negara seperti Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman.
Jika konflik terus meluas, banyak analis memperingatkan bahwa perang tersebut dapat menyeret lebih banyak negara ke dalam konfrontasi langsung.
Karena itu, berbagai pihak internasional kini mendorong langkah-langkah diplomatik guna menghentikan pertempuran dan mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih besar.
Meski demikian, hingga saat ini Israel menegaskan akan terus melanjutkan operasi militernya hingga tujuan strategis yang mereka tetapkan tercapai. (*)
Editor : Ali Sodiqin