Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

7.000 Warga Jatim Terjebak di Timur Tengah: Konflik Iran-AS-Israel Memanas, KBRI Siapkan Antisipasi Evakuasi

Ali Sodiqin • Senin, 9 Maret 2026 | 09:30 WIB

Ledakan dan kobaran api terlihat setelah militer Israel menyerang sejumlah kompleks penyimpanan bahan bakar di Teheran, Iran, Sabtu (7/3).
Ledakan dan kobaran api terlihat setelah militer Israel menyerang sejumlah kompleks penyimpanan bahan bakar di Teheran, Iran, Sabtu (7/3).

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia setelah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel terus memanas dalam beberapa waktu terakhir.

Situasi tersebut ikut memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga negara Indonesia (WNI), terutama para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di berbagai negara di kawasan tersebut.

Di Jawa Timur, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) mencatat ribuan pekerja migran asal provinsi ini masih berada di kawasan Timur Tengah. Dalam lima tahun terakhir, jumlahnya mencapai sekitar 7.000 orang.

Kepala BP3MI Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana, menjelaskan bahwa mayoritas pekerja migran asal Jatim bekerja di Arab Saudi.

Data tersebut tercatat melalui Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI).

“Dari SISKOP2MI, mayoritas penempatan PMI asal Jawa Timur berada di Arab Saudi dengan jumlah mencapai 3.994 orang,” ujar Gimbar, Senin (9/3).

Tidak Ada PMI Legal Jatim di Iran dan Israel

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, BP3MI memastikan bahwa tidak ada pekerja migran Indonesia asal Jawa Timur yang tercatat bekerja secara resmi di Iran maupun Israel dalam lima tahun terakhir.

Menurut Gimbar, data penempatan PMI legal menunjukkan bahwa negara-negara yang saat ini menjadi pusat konflik bukan merupakan tujuan utama penempatan tenaga kerja migran asal Jawa Timur.

“Jika spesifik bicara negara-negara tersebut, penempatannya sangat jarang. Bahkan tidak tercatat adanya PMI legal asal Jawa Timur yang ditempatkan di Israel maupun Iran selama lima tahun terakhir,” jelasnya.

Sementara itu, jumlah PMI asal Jawa Timur yang bekerja di negara Timur Tengah lainnya juga relatif kecil.

Misalnya di Lebanon hanya tercatat satu orang pekerja migran. Sedangkan di Yordania terdapat 13 orang PMI asal Jawa Timur.

Kondisi tersebut membuat pemerintah relatif lebih tenang karena sebagian besar pekerja migran berada di negara-negara yang dinilai lebih stabil.

Arab Saudi Masih Jadi Tujuan Utama

Selain Arab Saudi, sejumlah negara Timur Tengah lainnya juga menjadi tujuan penempatan PMI asal Jawa Timur. Di antaranya Turki dan Qatar.

Data BP3MI mencatat terdapat 958 pekerja migran asal Jawa Timur yang bekerja di Turki. Sementara di Qatar jumlahnya mencapai 638 orang.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja migran Indonesia dari Jawa Timur bekerja di negara-negara yang relatif aman dan jauh dari wilayah konflik utama.

Meski demikian, pemerintah tetap memantau perkembangan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah secara intensif.

Pemerintah Siapkan Hotline 24 Jam

Untuk memastikan komunikasi dengan para pekerja migran tetap berjalan lancar, pemerintah menyiapkan layanan hotline yang dapat diakses selama 24 jam.

Melalui layanan ini, PMI yang berada di luar negeri dapat melaporkan berbagai persoalan yang mereka hadapi, termasuk jika terjadi kondisi darurat akibat konflik di negara tempat mereka bekerja.

“KP2MI sendiri memiliki hotline 24 jam yang dapat dihubungi PMI yang berada di luar negeri melalui nomor 02129244800,” terang Gimbar.

Menurutnya, layanan tersebut terbuka untuk seluruh PMI tanpa terkecuali. Bahkan pekerja migran yang berangkat melalui jalur nonprosedural atau ilegal juga tetap bisa menyampaikan pengaduan.

“Kami melayani penerimaan pengaduan baik dari PMI legal maupun ilegal,” tambahnya.

Pemerintah Siapkan Skenario Evakuasi

Selain membuka layanan komunikasi darurat, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi jika konflik di Timur Tengah semakin meluas.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembentukan tim khusus yang bertugas memantau perkembangan situasi geopolitik di kawasan tersebut.

Jika situasi memburuk dan mengancam keselamatan PMI, pemerintah telah menyiapkan skenario evakuasi bagi para pekerja migran Indonesia.

“KP2MI telah menyiapkan berbagai skenario dan kemungkinan yang dapat terjadi, mengingat konflik yang masih dapat mengalami eskalasi, termasuk dalam hal evakuasi Pekerja Migran Indonesia,” tegas Gimbar.

Repatriasi Melalui Bandara Juanda

Dalam skenario darurat, proses pemulangan PMI dapat dilakukan melalui berbagai jalur transportasi yang aman.

Untuk pekerja migran asal Jawa Timur, repatriasi direncanakan melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya.

BP3MI Jawa Timur juga memastikan akan memberikan pendampingan bagi para PMI yang kembali ke tanah air, terutama jika mereka mengalami trauma atau gangguan kesehatan akibat situasi konflik.

“Jika pekerja migran pulang dalam kondisi tertekan atau mengalami gangguan kesehatan, pemerintah daerah akan menyiapkan rehabilitasi fisik maupun psikologis,” jelasnya.

Selain itu, BP3MI juga siap membantu proses pemulangan para PMI hingga ke daerah asal masing-masing.

PMI Diminta Tetap Tenang

Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, BP3MI mengimbau para pekerja migran Indonesia untuk tetap tenang dan terus memantau informasi resmi dari pemerintah.

Para PMI juga diminta untuk segera melapor kepada perwakilan Indonesia di luar negeri atau melalui hotline pemerintah jika menghadapi situasi darurat.

Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta perwakilan Indonesia di luar negeri, diharapkan keselamatan para pekerja migran Indonesia tetap dapat terjaga meski situasi geopolitik dunia sedang tidak menentu. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#evakuasi PMI #pekerja migran indonesia #Arab Saudi #konflik Iran Israel #konflik Timur Tengah 2026 #BP3MI Jawa Timur