Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kapal Induk USS Abraham Lincoln Diserang Drone di Laut Oman, Iran Sebut Pasukan AS Mundur 1.000 Km

Ali Sodiqin • Minggu, 8 Maret 2026 | 17:00 WIB

Ilustrasi empat rudal balistik Iran menghantam kapal induk AS di Laut Arab.
Ilustrasi empat rudal balistik Iran menghantam kapal induk AS di Laut Arab.

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan militer di Timur Tengah kembali memanas. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim berhasil menargetkan kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln (CVN-72) menggunakan drone produksi dalam negeri di kawasan Laut Oman.

Serangan tersebut disebut memaksa kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat mundur dari wilayah yang berada di dekat perairan Iran.

Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara Khatam al-Anbiya Central Headquarters pada Rabu, 4 Maret 2026.

Ia mengatakan kapal induk tersebut dicegat sekitar 340 kilometer dari batas maritim Iran ketika berada di wilayah Laut Oman.

Menurutnya, kehadiran kapal induk Amerika Serikat itu merupakan bagian dari peningkatan kekuatan militer Washington di sekitar Iran.

Drone Iran Disebut Targetkan Kapal Induk AS

Dalam pernyataan resmi militer Iran, IRGC menyebut drone buatan dalam negeri digunakan untuk menargetkan kapal induk tersebut.

Serangan itu terjadi ketika kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat memasuki wilayah yang disebut Iran sebagai kawasan sensitif di dekat jalur strategis Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia karena sebagian besar pengiriman minyak global melewati kawasan tersebut.

Menurut juru bicara militer Iran, kapal induk USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal perusak pengawal sempat berada di kawasan itu untuk memantau aktivitas militer serta mengawasi jalur pelayaran strategis.

Namun setelah serangan drone terjadi, kapal induk dan kapal pengawalnya disebut meninggalkan zona pertempuran dengan kecepatan tinggi.

Armada AS Disebut Mundur Lebih dari 1.000 Kilometer

Juru bicara militer Iran menyatakan kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat kemudian mundur lebih dari 1.000 kilometer dari wilayah yang dekat dengan perairan Iran.

Ia menegaskan bahwa langkah tersebut menunjukkan upaya Amerika Serikat untuk menekan Iran melalui kehadiran militer tidak berhasil mencapai tujuan.

“Kehadiran militer Amerika di kawasan tidak akan mampu mengintimidasi Iran,” kata juru bicara tersebut dalam pernyataan yang dikutip oleh Press TV pada Jumat, 6 Maret 2026.

Meski demikian, hingga laporan ini diterbitkan, pihak Pentagon belum memberikan komentar resmi terkait klaim tersebut, termasuk mengenai kemungkinan kerusakan pada kapal induk atau alasan penarikan armada dari wilayah tersebut.

Ketegangan Meningkat Setelah Serangan Militer AS dan Israel

Insiden di Laut Oman ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Beberapa hari sebelumnya, militer Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran.

Situasi tersebut memperburuk hubungan yang selama ini sudah tegang antara Teheran dan Washington.

Iran menilai kehadiran kapal induk Amerika Serikat di kawasan tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan militer terhadap negara itu.

IRGC Sebelumnya Klaim Tembakkan Rudal Balistik

Sebelum klaim serangan drone terbaru ini, IRGC juga mengaku telah menargetkan USS Abraham Lincoln menggunakan empat rudal balistik pada Sabtu sebelumnya.

Serangan itu disebut sebagai respons atas tindakan Amerika Serikat yang menyerang fregat Iran IRIS Dena di perairan dekat Sri Lanka.

Menurut laporan media Iran, kapal perang tersebut sedang dalam perjalanan pulang dari India ketika insiden terjadi.

Lebih dari 120 pelaut Iran berada di atas kapal saat serangan berlangsung.

Insiden tersebut memicu kecaman keras dari pejabat Iran serta sejumlah pihak internasional yang menilai eskalasi militer di kawasan berpotensi memicu konflik yang lebih luas.

Laut Oman dan Selat Hormuz Jadi Titik Strategis Konflik

Kawasan Laut Oman dan Selat Hormuz sejak lama menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global.

Selain menjadi jalur perdagangan minyak dunia, wilayah tersebut juga sering menjadi lokasi patroli militer berbagai negara besar.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan beberapa insiden militer yang melibatkan kapal perang, drone, maupun sistem rudal.

Para analis keamanan internasional menilai setiap eskalasi militer di wilayah tersebut berpotensi mempengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah serta perdagangan energi global.

Karena itu, perkembangan terbaru terkait klaim serangan terhadap kapal induk USS Abraham Lincoln menjadi perhatian luas di tingkat internasional. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#laut oman #ketegangan Iran AS #konflik Iran Amerika Serikat 2026 #selat hormuz #kapal induk AS diserang drone Iran #irgc #IRGC serang USS Abraham Lincoln