Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Iran Tegaskan Tak Tutup Selat Hormuz, Dubes di Indonesia Sebut Hanya Berlakukan Protokol Perang

Ali Sodiqin • Minggu, 8 Maret 2026 | 14:00 WIB

IMO imbau kapal hindari Selat Hormuz usai eskalasi Iran-AS-Israel.
IMO imbau kapal hindari Selat Hormuz usai eskalasi Iran-AS-Israel.

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memanas di tengah konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Di tengah situasi tersebut, Iran kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup sepenuhnya, meski pihaknya menerapkan protokol lalu lintas khusus selama masa perang.

Penegasan itu disampaikan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi usai menghadiri acara doa bersama untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026).

Boroujerdi menjelaskan bahwa kebijakan yang diterapkan Iran bukanlah penutupan total jalur laut strategis tersebut, melainkan penerapan aturan keamanan khusus bagi kapal yang melintas.

Menurut dia, kapal-kapal yang mematuhi protokol tersebut tetap dapat melewati jalur pelayaran internasional tersebut tanpa hambatan.

“Yang kami lakukan adalah protokol lalu lintas khusus pada masa perang. Pihak-pihak yang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz,” ujar Boroujerdi.

Selat Hormuz Disebut Dijaga Iran Sejak Ratusan Tahun

Dalam pernyataannya, Boroujerdi menegaskan bahwa Iran memiliki sejarah panjang dalam menjaga keamanan Selat Hormuz.

Ia menyebut kawasan tersebut telah menjadi jalur strategis yang dijaga stabilitasnya oleh Iran selama ratusan tahun.

Karena itu, menurutnya, keamanan Selat Hormuz harus dinikmati secara adil oleh seluruh negara yang menggunakan jalur tersebut.

“Selat Hormuz adalah tempat di mana Iran menyebarluaskan keamanan sejak ratusan tahun yang lalu,” katanya.

Boroujerdi menambahkan bahwa Iran tidak ingin ada negara yang memanfaatkan keamanan jalur laut tersebut secara sepihak.

“Keamanan di Selat Hormuz untuk semua negara di mana Iran juga termasuk di dalamnya, atau sama sekali tidak boleh ada negara yang memanfaatkan keamanan di sana,” tegasnya.

Iran Singgung Peran Amerika Serikat

Dalam kesempatan tersebut, Boroujerdi juga menyinggung kehadiran Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, pihak yang khawatir terhadap potensi penutupan Selat Hormuz seharusnya mempertanyakan peran Washington yang dianggap memicu ketegangan di kawasan tersebut.

“Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh sekali ke kawasan Timur Tengah kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz,” ujarnya.

Pernyataan ini mempertegas sikap Iran yang menilai kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia sebagai salah satu faktor yang memicu instabilitas regional.

Jalur Energi Dunia yang Sangat Vital

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang terletak di antara Iran dan Oman. Meski secara geografis relatif kecil, selat ini memiliki peran strategis yang sangat besar bagi perekonomian global.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap harinya. Karena itu, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu gejolak besar pada pasar energi global.

Selat tersebut menjadi jalur utama pengiriman minyak dari negara-negara produsen besar di kawasan Teluk seperti:

Gangguan terhadap jalur ini dapat mempengaruhi harga minyak dunia serta stabilitas rantai pasokan energi global.

Garda Revolusi Iran Klaim Kendali Penuh

Di tengah ketegangan yang meningkat, pasukan Garda Revolusi Iran mengklaim telah menguasai sepenuhnya wilayah Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh pejabat Angkatan Laut Garda Revolusi Iran, Mohammad Akbarzadeh, sebagaimana dilaporkan kantor berita Iran Fars.

“Saat ini Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Angkatan Laut Iran,” ujar Akbarzadeh pada Rabu (4/3/2026).

Pernyataan itu muncul di tengah rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang disebut akan mengerahkan kapal perang Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal tanker minyak yang melintasi kawasan tersebut.

Langkah Washington tersebut dinilai sebagai upaya menjaga keamanan jalur distribusi energi dunia di tengah konflik yang semakin memanas.

Rantai Pasokan Global Mulai Terganggu

Media internasional melaporkan bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mulai mengganggu rantai pasokan global, khususnya sektor energi.

Laporan dari Al Jazeera menyebutkan bahwa aktivitas pelayaran di kawasan Teluk mengalami perlambatan signifikan akibat meningkatnya risiko keamanan.

Melaporkan dari Teheran, jurnalis Al Jazeera Tohid Asadi menyebut Garda Revolusi Iran menyatakan tidak mungkin kapal melewati wilayah tersebut tanpa mengikuti aturan yang ditetapkan.

Bahkan dilaporkan lebih dari 10 kapal tanker minyak menjadi sasaran dalam eskalasi konflik yang terjadi di kawasan tersebut.

Situasi ini membuat banyak perusahaan pelayaran menunda aktivitas mereka di kawasan Teluk.

Ribuan Kapal Menganggur di Teluk

Data dari Clarksons Research, lembaga yang memantau aktivitas pengiriman global, menunjukkan dampak besar konflik terhadap aktivitas pelayaran dunia.

Lembaga tersebut memperkirakan sekitar 3.200 kapal atau sekitar 4 persen dari total tonase kapal global saat ini menganggur di kawasan Teluk.

Jumlah tersebut termasuk sekitar 1.230 kapal yang biasanya hanya beroperasi di dalam wilayah Teluk.

Selain itu, sekitar 500 kapal lainnya atau sekitar 1 persen dari tonase kapal global saat ini menunggu di luar kawasan Teluk.

Kapal-kapal tersebut berada di pelabuhan di lepas pantai Uni Emirat Arab dan Oman sambil menunggu perkembangan situasi keamanan.

Ketegangan Global Masih Berpotensi Meluas

Para analis menilai situasi di Selat Hormuz saat ini menjadi salah satu titik krisis paling sensitif dalam geopolitik dunia.

Jika konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat serta Israel terus meningkat, gangguan terhadap jalur energi dunia dapat berdampak luas terhadap perekonomian global.

Lonjakan harga minyak, gangguan logistik, hingga tekanan terhadap pasar energi internasional menjadi risiko yang terus diwaspadai oleh banyak negara.

Karena itu, perhatian dunia kini tertuju pada perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#jalur minyak dunia #selat hormuz #Perang Iran Israel #Mohammad Boroujerdi #Dubes Iran Indonesia #Iran Tutup Selat Hormuz #konflik Iran Amerika Serikat