RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah Iran resmi mengumumkan larangan menyeluruh terhadap ekspor semua produk makanan dan hasil pertanian.
Kebijakan ini diambil untuk memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap aman di dalam negeri di tengah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Langkah tersebut diumumkan pemerintah Teheran melalui otoritas perdagangan dan langsung diberlakukan di seluruh pelabuhan serta pintu ekspor negara itu.
Pemerintah menyebut keputusan tersebut sebagai upaya darurat guna menjaga stabilitas pangan nasional saat ketegangan geopolitik meningkat.
Media lokal Tasnim News Agency melaporkan bahwa larangan ekspor berlaku untuk semua produk makanan dan komoditas pertanian hingga waktu yang belum ditentukan.
“Ekspor semua produk makanan dan hasil pertanian dilarang hingga pemberitahuan lebih lanjut. Pemerintah memprioritaskan pasokan barang esensial bagi rakyat,” demikian laporan media tersebut mengutip pernyataan otoritas terkait.
Kebijakan tersebut telah disampaikan kepada seluruh kantor bea cukai di Iran untuk segera diterapkan tanpa batas waktu pencabutan yang jelas.
Perluasan Pembatasan Ekspor
Larangan total ini sebenarnya merupakan perluasan dari kebijakan sebelumnya yang hanya menargetkan beberapa komoditas tertentu.
Sebelumnya pemerintah Iran telah membatasi ekspor sejumlah produk seperti Kentang, Tomat, Kurma, serta Telur.
Dengan kebijakan terbaru ini, semua jenis produk pertanian dan makanan yang biasanya diekspor kini dihentikan sementara.
Pengamat ekonomi menilai keputusan tersebut menandai pergeseran Iran menuju pola ekonomi perang, seiring meningkatnya ketegangan militer yang telah memasuki hari keempat.
Pemerintah Iran menilai stabilitas pangan domestik harus menjadi prioritas utama di tengah potensi gangguan logistik dan perdagangan internasional akibat konflik.
Konflik Memanas Usai Gagalnya Negosiasi Nuklir
Eskalasi konflik terjadi setelah tiga putaran pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran berakhir tanpa kesepakatan.
Putaran terakhir yang digelar di Jenewa pada 26 Februari berlangsung di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Namun perundingan tersebut gagal mencapai titik temu setelah Iran menolak menghentikan program pengayaan uranium maupun membongkar fasilitas nuklirnya.
Ketegangan meningkat tajam setelah Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah target strategis di Iran.
Sejumlah laporan internasional, termasuk dari Trend News Agency, menyebutkan bahwa operasi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Seyyed Ali Khamenei bersama beberapa anggota keluarganya.
Selain itu, sejumlah pejabat tinggi militer dan keamanan Iran juga dilaporkan menjadi korban serangan tersebut, termasuk komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) serta menteri pertahanan Iran.
Peristiwa tersebut memicu situasi politik dan keamanan yang sangat tegang di kawasan Timur Tengah.
Iran Eksportir Komoditas Pertanian Penting
Iran selama ini dikenal sebagai salah satu eksportir komoditas pertanian penting di pasar global.
Salah satu produk unggulan negara tersebut adalah Pistachio, kacang premium yang memiliki permintaan tinggi di pasar internasional.
Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), Iran menjadi produsen pistachio terbesar kedua di dunia pada 2024 dengan produksi mencapai 316.100 ton metrik.
Posisi pertama ditempati oleh Amerika Serikat dengan produksi sekitar 498.900 ton.
Komoditas pistachio sendiri memiliki nilai ekonomi sangat besar bagi Iran. Produk tersebut diperkirakan menghasilkan pendapatan ekspor hingga sekitar USD 1,7 miliar per tahun bagi Teheran.
Selain pistachio, Iran juga dikenal sebagai salah satu pemasok utama Safron, buah kering, serta berbagai produk hortikultura lainnya.
Karena itu, larangan ekspor dari Iran diperkirakan akan berdampak pada pasar komoditas global jika berlangsung dalam waktu lama.
Dampak terhadap Pasar Global
Bagi beberapa negara importir, dampak langsung dari larangan ekspor ini mungkin tidak terlalu signifikan dalam jangka pendek.
Sebagai contoh, Brasil hanya mengimpor sekitar 49 ton pistachio dari Iran pada awal 2026 dan sekitar 422,6 ton sepanjang 2025.
Data tersebut berasal dari Kementerian Perdagangan Brasil.
Sebaliknya, Amerika Serikat tetap menjadi pemasok pistachio terbesar bagi Brasil dengan pengiriman sekitar 865 ton sepanjang 2025.
Meski begitu, para analis memperingatkan bahwa larangan ekspor dalam jangka panjang dapat menekan pasokan global dan memicu kenaikan harga komoditas tertentu.
Produk yang paling rentan mengalami lonjakan harga antara lain pistachio, buah kering, dan safron—komoditas yang selama ini didominasi oleh Iran di pasar dunia.
Gangguan Perdagangan di Selat Hormuz
Konflik militer juga mulai berdampak pada jalur perdagangan global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran minyak dan komoditas terpenting di dunia.
Beberapa perusahaan asuransi maritim besar dilaporkan telah menarik cakupan perlindungan risiko perang bagi kapal yang melintasi kawasan tersebut.
Langkah ini secara efektif membuat banyak kapal tanker dan kapal dagang menghentikan aktivitas pelayaran melalui jalur strategis tersebut.
Media Bloomberg News yang dikutip oleh Just the News menyebut situasi ini dapat memperburuk gangguan perdagangan global jika konflik terus berlanjut.
Analis energi Robert Rapier menyatakan kondisi tersebut mendekati skenario terburuk bagi pasar energi dan perdagangan internasional.
“Ini mendekati skenario terburuk, dengan Iran terlibat dalam konflik militer karena Selat Hormuz,” ujarnya.
Risiko Lonjakan Harga Komoditas Dunia
Jika konflik berkepanjangan dan larangan ekspor tetap diberlakukan, pasar komoditas dunia diperkirakan akan menghadapi tekanan serius.
Selain risiko kenaikan harga pangan tertentu, gangguan perdagangan di kawasan Teluk juga dapat berdampak pada harga energi dan biaya logistik global.
Para analis menilai situasi ini dapat menciptakan ketidakpastian baru bagi pasar internasional, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor komoditas dari kawasan Timur Tengah.
Dengan kondisi geopolitik yang masih memanas, banyak pihak kini menunggu langkah selanjutnya dari pemerintah Iran serta respons dari negara-negara Barat terhadap perkembangan konflik tersebut. (*)
Editor : Ali Sodiqin