Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Iran Klaim Drone IRGC Serang Kapal Induk USS Abraham Lincoln di Selat Hormuz, AS Tegaskan Tak Ada Serangan

Ali Sodiqin • Sabtu, 7 Maret 2026 | 04:20 WIB

Ilustrasi empat rudal balistik Iran menghantam kapal induk AS di Laut Arab.
Ilustrasi empat rudal balistik Iran menghantam kapal induk AS di Laut Arab.

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln (CVN-72) menggunakan drone milik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC Navy).

Serangan tersebut, menurut klaim Iran, terjadi di sekitar Selat Hormuz saat kapal induk Amerika Serikat itu mendekati wilayah tersebut dari arah Teluk Oman.

Media The Caspian Post yang mengutip sejumlah sumber asing melaporkan bahwa Iran menyebut serangan drone tersebut berhasil memaksa kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat mundur dari kawasan itu.

Menurut klaim tersebut, armada tempur yang mengawal USS Abraham Lincoln bahkan disebut bergerak lebih dari 1.000 kilometer menjauh dari area yang diklaim sebagai lokasi serangan.

Namun demikian, otoritas Iran tidak menyertakan bukti apa pun untuk mendukung klaim tersebut.

Amerika Serikat Bantah Keras

Pemerintah Amerika Serikat dengan cepat membantah pernyataan Iran tersebut. Washington menegaskan bahwa tidak ada rudal maupun drone Iran yang pernah mendekati kapal induk tersebut.

Bantahan resmi datang dari Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang menyebut klaim Iran sebagai pernyataan yang tidak benar.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial, CENTCOM menegaskan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln sama sekali tidak terkena serangan.

“Lincoln tidak terkena serangan. Rudal yang diluncurkan bahkan tidak mendekat,” demikian pernyataan CENTCOM.

Komando tersebut juga menambahkan bahwa kapal induk itu tetap menjalankan operasi penerbangan secara normal untuk mendukung berbagai misi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dikaitkan dengan Operasi Epic Fury

Klarifikasi dari CENTCOM muncul tidak lama setelah meningkatnya ketegangan antara kedua negara, terutama setelah Amerika Serikat meluncurkan Operasi Epic Fury pada 28 Februari lalu.

Operasi tersebut merupakan bagian dari langkah militer Amerika Serikat untuk menghadapi berbagai ancaman yang dikaitkan dengan Iran di kawasan Timur Tengah.

Dalam operasi itu, kapal induk USS Abraham Lincoln yang berbasis di San Diego memainkan peran penting sebagai pusat operasi udara.

Kapal induk bertenaga nuklir tersebut telah ditempatkan di kawasan Laut Arab selama beberapa pekan terakhir.

Selain itu, laporan juga menyebut bahwa pasukan Amerika Serikat sebelumnya melakukan serangan terhadap kapal angkatan laut Iran Shahid Bagheri, yang diketahui digunakan sebagai platform operasi drone.

Serangan tersebut disebut terjadi tidak lama setelah dimulainya Operasi Epic Fury.

Iran Resmikan Kapal Induk Drone

Di sisi lain, media lokal Iran juga melaporkan bahwa negara tersebut baru saja meresmikan kapal induk drone pertamanya, Shahid Bagheri, dalam sebuah upacara militer di kawasan Teluk Persia bulan lalu.

Pejabat militer Iran menyebut kapal tersebut dirancang sebagai platform bergerak untuk berbagai operasi militer modern.

Beberapa fungsi yang disebutkan antara lain operasi pengintaian, pengumpulan intelijen, pengawasan udara, hingga peluncuran rudal.

Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya Iran memperkuat kemampuan militernya di kawasan yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Kapal Induk Raksasa Berteknologi Nuklir

USS Abraham Lincoln merupakan kapal induk kelas Nimitz yang dikenal sebagai salah satu aset militer paling kuat milik Amerika Serikat.

Kapal ini berfungsi sebagai pangkalan udara bergerak bagi pesawat Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat dalam berbagai operasi militer global.

Menurut Armen Kurdian, seorang pilot sekaligus kapten Angkatan Laut Amerika Serikat yang telah pensiun, kapal induk tersebut memiliki kemampuan operasi yang sangat kompleks.

“Di kapal itu terdapat sekitar 70 hingga 75 pesawat dengan berbagai jenis. Kapal itu seperti kota terapung. Bahkan memiliki stasiun televisinya sendiri. Ada ribuan pelaut yang bertugas di sana,” kata Kurdian.

Ia pernah bertugas dan tinggal di USS Abraham Lincoln selama enam bulan.

Menurutnya, kapal induk tersebut memiliki dua reaktor nuklir yang bekerja secara bersamaan untuk menghasilkan tenaga bagi seluruh sistem kapal.

“Di kapal ini terdapat dua reaktor nuklir yang beroperasi bersamaan. Kapal ini dapat meluncurkan pesawat dan memiliki empat katapel peluncur,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sistem peluncuran dan pemulihan pesawat di kapal tersebut bekerja dengan presisi tinggi.

“Cara kapal ini meluncurkan dan memulihkan pesawat membuatnya seperti mesin yang bekerja sangat presisi,” ujarnya.

Operasi Penerbangan Tetap Berjalan

Meski muncul klaim serangan dari Iran, CENTCOM menegaskan bahwa USS Abraham Lincoln tetap menjalankan operasi penerbangan secara penuh.

Kapal induk tersebut bahkan terus meluncurkan pesawat sebagai bagian dari kampanye militer berkelanjutan untuk melindungi kepentingan Amerika Serikat di kawasan.

CENTCOM menyebut operasi tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas regional sekaligus menghadapi ancaman yang disebut berasal dari rezim Iran.

“Lincoln tetap meluncurkan pesawat untuk mendukung kampanye tanpa henti CENTCOM dalam melindungi rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman dari rezim Iran,” demikian pernyataan tersebut.

Keamanan Pangkalan Militer Ditingkatkan

Sementara itu di Amerika Serikat, langkah pengamanan di sejumlah fasilitas militer juga dilaporkan mengalami peningkatan.

Kepolisian Coronado menyatakan bahwa hingga pemberitahuan lebih lanjut masyarakat diminta mengantisipasi keterlambatan lalu lintas di sekitar seluruh gerbang masuk Naval Base Coronado.

Peningkatan pengamanan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi setelah meningkatnya ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Situasi di kawasan Teluk sendiri masih terus menjadi perhatian dunia internasional, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak global. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#selat hormuz #Drone IRGC Iran #USS Abraham Lincoln