Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Selat Hormuz Kembali Memanas, Menguak Kembali ‘Kiamat’ Energi Amerika 1979

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 5 Maret 2026 | 12:54 WIB

Ilustrasi krisis energi AS 1979.
Ilustrasi krisis energi AS 1979.

RADARBANYUWANGI.ID - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menyusul serangan AS-Israel sejak 28 Februari 2026 kembali membangkitkan kenangan kelam dalam sejarah energi global.

Bagi Amerika Serikat, situasi ini bukan sekadar kekhawatiran baru, melainkan pengulangan mimpi buruk yang pernah melumpuhkan negeri itu hampir setengah abad silam.

Pada 1979, AS mengalami krisis energi yang sangat parah akibat turbulensi politik di Iran.

Ketika Revolusi Islam menggulingkan monarki Mohammad Reza Pahlavi, sekutu dekat Washington, industri minyak Iran runtuh seketika.

Pemogokan massal, eksodus tenaga kerja asing, dan kekacauan operasional kilang menyebabkan produksi minyak Iran anjlok dramatis.

Berdasarkan riset Oil Embargo and Energy Crises of 1973 and 1979, produksi yang pada Juli 1978 masih mencapai 5,8 juta barel per hari merosot menjadi hanya sekitar 445.000 barel per hari pada Januari 1979.

Dampaknya langsung terasa di AS. Antrean panjang mengular di hampir seluruh stasiun pengisian bahan bakar.

Papan bertuliskan "Sorry, No Gas" menjadi pemandangan lumrah di berbagai penjuru negeri.

Pemerintah negara bagian menerapkan sistem ganjil-genap pembelian bensin, sementara pembatasan kecepatan kendaraan diberlakukan demi efisiensi energi.

Presiden Jimmy Carter bahkan menyebut situasi tersebut sebagai krisis nasional dan menyerukan pengurangan konsumsi energi secara masif.

Ia mendorong penggunaan panel surya dan kayu bakar sebagai alternatif pemanas rumah.

Imbauan itu mendapat respons nyata, penjualan tungku kayu melonjak hingga bernilai jutaan dolar sepanjang 1979.

Krisis akhirnya mereda setelah AS mendiversifikasi pasokan dari Venezuela dan Meksiko serta mengeksploitasi cadangan baru di Alaska.

Tragedi ini mendorong AS membangun cadangan energi strategis dan mengurangi ketergantungan impor, langkah yang kini kembali relevan di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#selat hormuz #iran #as #minyak