RADARBANYUWANGI.ID - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memasuki fase yang semakin berbahaya setelah balasan militer Teheran disebut menjadi pukulan telak bagi stabilitas pasar energi global.
Dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga minyak dunia hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap ekonomi Amerika Serikat.
Serangan balasan Iran tidak hanya bersifat militer, tetapi juga berdampak strategis terhadap jalur distribusi energi dunia.
Penutupan efektif Selat Hormuz—jalur laut vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global—menjadi faktor utama yang mengguncang pasar internasional.
Situasi tersebut membuat harga minyak mentah melonjak tajam dan memicu kekhawatiran inflasi baru di berbagai negara, terutama AS yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap harga energi.
Selat Hormuz Terganggu, Pasokan Minyak Dunia Tertekan
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai “urat nadi” perdagangan energi global. Ketika jalur tersebut terganggu akibat konflik, pasokan minyak otomatis mengalami tekanan besar.
Pasar merespons cepat perkembangan geopolitik tersebut. Harga minyak Brent bahkan sempat melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024, menandakan meningkatnya risiko pasokan global.
Analis menilai balasan Iran menjadi titik balik konflik karena dampaknya langsung menyasar stabilitas ekonomi internasional, bukan sekadar ketegangan militer regional.
Gangguan distribusi energi membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan skenario krisis energi jangka pendek apabila konflik berlangsung lama.
Harga Energi Naik, Ekonomi AS Terancam
Ekonom ING, James Knightley, menilai lonjakan harga energi berpotensi menjadi titik kritis bagi perekonomian AS.
Menurutnya, kenaikan harga minyak hampir pasti akan diterjemahkan menjadi harga bensin yang lebih mahal di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU), isu yang sangat sensitif secara politik di Amerika.
“Ini tidak diragukan lagi akan menjadi titik kritis bagi perekonomian AS,” ujarnya.
Knightley menjelaskan, dampak kenaikan energi tidak berhenti pada sektor transportasi saja.
Biaya distribusi barang akan meningkat, tarif penerbangan berpotensi naik, dan tagihan listrik rumah tangga ikut terdorong lebih tinggi.
Meski AS relatif swasembada gas alam, harga domestik tetap mengikuti dinamika pasar global.
Jika masyarakat harus mengalokasikan lebih banyak pendapatan untuk energi, konsumsi rumah tangga berisiko melemah. Padahal, konsumsi menyumbang hampir dua pertiga Produk Domestik Bruto (PDB) AS.
Ancaman Politik bagi Pemerintahan Donald Trump
Lonjakan harga energi juga dinilai menjadi tantangan politik serius bagi Presiden AS Donald Trump. Harga bensin memiliki pengaruh langsung terhadap sentimen publik menjelang pemilihan.
Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, mengatakan kenaikan harga bahan bakar dapat menekan kepercayaan konsumen.
“Harga bensin yang lebih tinggi akan berdampak negatif pada sentimen konsumen dan bisa terlihat di bilik suara,” ujarnya.
Pemerintah AS diperkirakan akan berupaya keras menjaga stabilitas harga energi guna mencegah tekanan politik domestik semakin besar.
Federal Reserve Hadapi Dilema Besar
Konflik Timur Tengah juga menempatkan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam posisi sulit.
Di satu sisi, lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi sehingga suku bunga perlu tetap tinggi. Namun di sisi lain, tekanan ekonomi akibat biaya energi mahal justru berpotensi memperlambat pertumbuhan dan melemahkan pasar tenaga kerja.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan bank sentral masih harus mencermati durasi dampak konflik.
“Kita harus menunggu dan melihat,” ujarnya.
Knightley menilai kondisi ini membuat peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin kecil.
Harga Bensin Diprediksi Naik dalam Hitungan Hari
Analis utama Oxford Economics, John Canavan, memperkirakan dampak konflik akan segera dirasakan langsung masyarakat AS.
“Harga di SPBU kemungkinan akan naik dalam beberapa hari,” katanya kepada AFP.
Ia menambahkan bahwa harga bensin sebenarnya sudah menunjukkan tren kenaikan sejak awal Januari, dan pengecer biasanya merespons cepat setiap ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasokan minyak.
Kenaikan biaya energi diperkirakan akan merambat luas ke berbagai sektor, mulai dari transportasi, logistik, hingga harga barang konsumsi.
Balasan Iran Dinilai Mengubah Peta Risiko Global
Sejumlah pengamat menilai respons Iran telah mengubah kalkulasi risiko geopolitik global. Jika sebelumnya konflik dianggap terbatas, gangguan terhadap Selat Hormuz membuat dampaknya berskala internasional.
Lonjakan harga energi berpotensi:
- meningkatkan inflasi global,
- menekan daya beli masyarakat,
- memperlambat pertumbuhan ekonomi,
- serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Apabila konflik berlangsung lebih lama dari beberapa minggu, risiko resesi di sejumlah negara maju dinilai semakin terbuka.
Pasar Global Menunggu Arah Konflik
Kini pelaku pasar dan pemerintah dunia menunggu perkembangan berikutnya dari konflik yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah tersebut.
Balasan Iran yang disebut sebagai pukulan telak terhadap stabilitas energi global telah menunjukkan bahwa dampak perang modern tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga langsung menghantam ekonomi dunia.
Bagi Amerika Serikat, kombinasi inflasi energi, tekanan politik domestik, dan dilema kebijakan moneter menjadikan konflik ini salah satu tantangan ekonomi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. (*)
Editor : Ali Sodiqin