RADARBANYUWANGI.ID - Warga di wilayah Irak bagian barat menemukan sebuah drone kamikaze milik Amerika Serikat dalam kondisi gagal meledak. Pesawat nirawak tersebut ditemukan di area pertanian pada Senin (2/3/2026).
Temuan ini langsung menjadi perhatian karena drone masih dalam kondisi relatif utuh. Dari rekaman video yang beredar, perangkat tersebut diketahui sebagai drone jenis Low-Cost Unmanned Combat Attack System (LUCAS).
Drone itu ditemukan tergeletak di lahan pertanian tanpa ledakan yang menyertainya. Bagian badan utama dan sayap masih terlihat utuh. Yang menarik perhatian, terminal datalink satelitnya tampak masih menggantung dan terhubung melalui kabel.
Perangkat komunikasi tersebut merupakan sistem Starlink milik SpaceX yang digunakan untuk pengendalian jarak jauh. Keberadaan terminal satelit itu menunjukkan drone dioperasikan di luar jangkauan visual operator.
Drone LUCAS diproduksi oleh SpektreWorks yang berbasis di Phoenix, Arizona. Biaya produksinya dilaporkan sekitar 35 ribu dolar AS atau setara Rp 560 juta.
LUCAS dirancang sebagai senjata sekali pakai. Sistem ini akan meledak saat menghantam target yang telah ditentukan. Konsep tersebut membuatnya sering disebut sebagai drone kamikaze atau amunisi jelajah (loitering munition).
Drone ini pertama kali digunakan dalam pertempuran nyata saat Operasi Epic Fury yang diluncurkan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Satuan United States Central Command (CENTCOM) melalui Task Force Scorpion Strike menggunakan drone satu arah ini untuk pertama kalinya dalam sejarah operasi tersebut. Dalam 24 jam pertama, lebih dari 1.000 target dilaporkan menjadi sasaran.
Penggunaan massal drone berbiaya rendah ini mencerminkan perubahan pendekatan militer AS dalam konflik regional.
Secara desain, LUCAS disebut terinspirasi dari drone kamikaze Shahed-136 buatan Iran. Bentuk badan dan konsep serangan satu arah memiliki kemiripan.
Perbedaannya, LUCAS dilengkapi teknologi komunikasi satelit yang memungkinkan pengendalian di luar garis pandang. Sistem ini membuat operator dapat mengendalikan drone dari jarak sangat jauh melalui jaringan satelit komersial.
Kenneth Canada, ketua program Unmanned Aerial Systems di Embry-Riddle University sekaligus mantan pilot Angkatan Laut AS, menyebut drone jenis ini pada dasarnya adalah rudal jelajah versi murah.
Menurutnya, pergeseran menuju sistem berbiaya rendah menandai perubahan besar dalam industri pertahanan modern. Produksi massal dengan harga relatif terjangkau memungkinkan penggunaan dalam jumlah besar tanpa beban anggaran setinggi rudal konvensional.
Keberadaan terminal Starlink yang masih terpasang juga menjadi perhatian. Hal itu menunjukkan ketergantungan militer AS pada sistem komunikasi satelit komersial untuk mendukung operasi tempur.
Penemuan drone dalam kondisi utuh membuka peluang bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk mempelajari teknologi yang digunakan. Terutama sistem komunikasi, navigasi, dan integrasi satelit yang terpasang pada drone tersebut.
Hingga kini belum ada keterangan resmi terkait penyebab gagalnya ledakan drone tersebut. Namun temuan ini menjadi bukti penggunaan teknologi baru militer AS dalam konflik regional yang masih berlangsung.
Editor : Ali Sodiqin