Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jalur Minyak Tersibuk Dunia dalam Bayang-Bayang Blokade, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 4 Maret 2026 | 12:10 WIB

ILUSTRASI pengeboran minyak mentah. Harga BBM dunia diprediksi turun mulai 1 November 2025.
ILUSTRASI pengeboran minyak mentah. Harga BBM dunia diprediksi turun mulai 1 November 2025.

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan geopolitik kembali mengguncang jalur energi dunia. Iran mengancam akan “membakar” kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, koridor sempit yang menjadi nadi distribusi minyak global.

Ancaman ini muncul pascaserangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, memperbesar risiko gangguan perdagangan internasional.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia atau setara 20 juta barel per hari pada 2025, melewati perairan selebar 33 kilometer di titik tersempitnya itu.

Nilai perdagangannya diperkirakan mencapai hampir US$600 miliar per tahun. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi pintu ekspor utama bagi Iran, Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, serta Uni Emirat Arab.

Jenderal Sardar Jabbari menegaskan, Teheran “tidak akan membiarkan setetes minyak pun meninggalkan wilayah tersebut.”

Dampaknya langsung terasa di pasar. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$82 per barel, sementara biaya sewa tanker raksasa melonjak hingga lebih dari US$400.000 per perjalanan.

Analis Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, menyebut, “Secara de facto, selat tersebut tertutup karena tidak ada yang berani melintasinya.”

Ancaman rudal dan drone membuat kapal sulit memperoleh asuransi, sehingga banyak operator memilih menunggu.

Asia menjadi kawasan paling rentan. China, India, dan Jepang bergantung pada pasokan energi dari rute ini.

Sekitar 82 persen minyak yang keluar dari Hormuz pada 2022 ditujukan ke Asia. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi global, dari biaya logistik hingga harga barang konsumsi.

Meski Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki jalur pipa alternatif, kapasitasnya belum mampu sepenuhnya menggantikan volume dari Hormuz.

Jika krisis berlanjut, dunia bukan hanya menghadapi lonjakan harga minyak, tetapi juga ketidakpastian ekonomi yang meluas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#dunia #selat hormuz #iran #harga minyak #asia