RADARBANYUWANGI.ID - Nama Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan dunia setelah beredar rumor kematiannya di tengah eskalasi konflik Iran–Israel pada awal Maret 2026.
Kabar tersebut ramai di media sosial dan memicu spekulasi global, meski hingga kini tidak ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel maupun lembaga internasional.
Di balik isu tersebut, Netanyahu dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam politik modern Israel dengan perjalanan karier panjang, mulai dari prajurit pasukan elite hingga menjadi perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah negara itu.
Lahir di Tel Aviv, Tumbuh di Israel dan Amerika Serikat
Benjamin Netanyahu lahir di Tel Aviv pada 21 Oktober 1949. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Tzila Segal dan sejarawan Yahudi terkemuka Prof. Benzion Netanyahu.
Masa kecilnya dihabiskan antara Israel dan Amerika Serikat. Keluarganya sempat tinggal di Cheltenham Township, Pennsylvania, ketika sang ayah menjadi profesor di Philadelphia.
Netanyahu kemudian menempuh pendidikan di Cheltenham High School sebelum kembali ke Israel pada 1967.
Prajurit Pasukan Elite dan Pengalaman Tempur
Sekembalinya ke Israel, Netanyahu bergabung dengan Angkatan Pertahanan Israel (IDF).
Ia menjadi anggota unit pasukan elite Sayeret Matkal selama lima tahun dan mencapai pangkat kapten.
Selama bertugas, ia terlibat dalam sejumlah operasi militer penting, termasuk konflik yang berkaitan dengan Perang Atrisi serta operasi penyelamatan sandera pesawat Sabena Flight 571 pada 1972.
Pengalaman militer ini membentuk citra Netanyahu sebagai figur yang menempatkan isu keamanan nasional sebagai prioritas utama sepanjang karier politiknya.
Pendidikan di MIT dan Awal Karier Profesional
Pada 1972, Netanyahu kembali ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Ia meraih gelar Bachelor of Science (B.Sc) di bidang Arsitektur serta gelar MBA dari MIT Sloan School of Management.
Setelah lulus, ia bekerja sebagai konsultan ekonomi di Boston Consulting Group pada 1976–1978.
Kematian kakaknya, Jonathan Netanyahu, dalam operasi penyelamatan sandera Entebbe menjadi titik balik besar dalam hidupnya.
Peristiwa itu mendorongnya aktif dalam gerakan internasional melawan terorisme.
Karier Diplomatik hingga Masuk Politik Israel
Netanyahu mulai dikenal luas saat menjabat Wakil Kepala Misi Kedutaan Israel di Washington DC pada 1982–1984.
Kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris dengan aksen Amerika membuatnya efektif menjadi wajah diplomasi Israel di media internasional.
Kariernya berlanjut sebagai Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1984–1988.
Pada periode ini, ia aktif mengkampanyekan isu keamanan Israel di forum global.
Tahun 1988 menjadi titik awal karier politik formalnya setelah bergabung dengan Partai Likud dan terpilih sebagai anggota Knesset.
Menjadi Perdana Menteri Termuda Israel
Pada 1996, Netanyahu memenangkan pemilu dan menjadi Perdana Menteri Israel pertama kali sekaligus pemimpin termuda dalam sejarah negara tersebut.
Ia kemudian menjalani beberapa periode kepemimpinan:
- Perdana Menteri Israel (1996–1999)
- Perdana Menteri Israel (2009–2013)
- Perdana Menteri Israel (2013–2015)
- Perdana Menteri Israel (2015–sekarang)
Sebelumnya ia juga menjabat Menteri Luar Negeri (2002–2003), Menteri Keuangan (2003–2005), serta Pemimpin Oposisi (2006–2009).
Kebijakan ekonominya dikenal pro pasar bebas dan reformasi ekonomi besar yang oleh sejumlah ekonom disebut sebagai “kapitalisme populer”.
Kebijakan Keamanan dan Konflik Gaza
Sepanjang kepemimpinannya, Netanyahu dikenal menempatkan keamanan nasional di atas agenda politik lainnya.
Ia berulang kali menegaskan ancaman eksistensial dari Iran serta kelompok militan di kawasan Timur Tengah.
Dalam berbagai konflik di Jalur Gaza, ia memerintahkan sejumlah operasi militer besar sebagai respons terhadap serangan roket ke Israel.
Kebijakan tersebut menuai dukungan domestik sekaligus kritik internasional.
Di tengah kecaman global, Netanyahu tetap mempertahankan sikap keras terhadap organisasi yang dianggapnya sebagai ancaman terorisme.
Kasus Hukum dan Kontroversi Politik
Sejak 2019, Netanyahu menghadapi tuduhan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan dalam beberapa kasus korupsi.
Ia membantah seluruh tuduhan dan menyebut proses hukum sebagai upaya politis untuk menjatuhkannya.
Meski menghadapi proses pengadilan, ia tetap bertahan secara politik dan memenangkan beberapa pemilu yang berlangsung ketat di Israel.
Viral Rumor Netanyahu Tewas di Tengah Perang Iran–Israel
Di tengah meningkatnya konflik antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat sejak akhir Februari 2026, media sosial dihebohkan dengan klaim bahwa Netanyahu tewas akibat serangan rudal Iran.
Narasi tersebut viral setelah unggahan akun media sosial X mengaitkan kabar tersebut dengan laporan media internasional yang disebut sempat tayang lalu dihapus.
Namun, hingga kini tidak ada satu pun konfirmasi resmi dari pemerintah Israel, Iran, maupun media internasional kredibel yang membenarkan kabar kematian tersebut.
Sebaliknya, Netanyahu justru muncul dalam pernyataan video yang menegaskan operasi militer terhadap Teheran akan terus meningkat.
“Iran tidak boleh diizinkan memperoleh senjata nuklir,” ujarnya, sembari menyerukan persatuan warga Israel di tengah konflik.
Figur Sentral Politik Israel Modern
Lebih dari tiga dekade berada di panggung politik, Benjamin Netanyahu tetap menjadi figur sentral dalam arah kebijakan Israel, khususnya terkait keamanan, diplomasi internasional, dan konflik Timur Tengah.
Dari prajurit elite, diplomat PBB, hingga perdana menteri berulang kali, perjalanan panjangnya menunjukkan bagaimana isu keamanan dan geopolitik membentuk kepemimpinan salah satu tokoh paling berpengaruh di kawasan tersebut.
Sementara rumor kematiannya terbukti belum berdasar, nama Netanyahu dipastikan masih akan terus mewarnai dinamika politik global di tengah konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda. (*)
Editor : Ali Sodiqin