RADARBANYUWANGI.ID - Nama Ali Larijani mendadak menjadi sorotan dunia internasional setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.
Kematian Khamenei telah dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran dan langsung memicu kekosongan kepemimpinan tertinggi di Republik Islam tersebut. Situasi ini menandai momen paling genting dalam sejarah politik Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Di tengah ketidakpastian itu, Larijani disebut-sebut sebagai figur sentral yang berpotensi memegang kendali kekuasaan selama masa transisi.
Figur Orang Dalam yang Paling Paham Sistem
Meski konstitusi Iran belum secara resmi menunjuk pengganti Khamenei, sejumlah analis dan laporan internasional menempatkan Larijani sebagai “operator politik” yang memiliki kapasitas mengelola stabilitas negara.
Larijani dikenal sebagai orang kepercayaan Khamenei dan telah lama berada di lingkar elite kekuasaan.
Berbeda dengan pemimpin spiritual Iran pada umumnya, ia bukan seorang ulama. Namun latar belakang keluarganya sangat kental dengan tradisi keagamaan dan politik.
Lahir di Najaf, Irak, pada 3 Juni 1957, Larijani berasal dari keluarga ulama terkemuka yang dekat dengan pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Jejaring keluarganya telah berpengaruh dalam struktur politik Iran selama beberapa dekade.
Secara akademik, ia meraih gelar doktor (PhD) di bidang Filsafat Barat dari Universitas Teheran.
Kombinasi latar religius, intelektual, dan pengalaman birokrasi menjadikannya sosok yang memahami seluk-beluk sistem politik Iran dari dalam.
Kembali ke Pusat Keamanan Nasional
Saat ini, Larijani menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran atau Supreme National Security Council (SNSC).
Ia kembali menempati posisi strategis itu tak lama setelah konflik berskala besar Iran-Israel pecah pada 2025.
Jabatan tersebut sebelumnya pernah ia pegang hampir dua dekade lalu. Posisi ini sangat krusial karena mengoordinasikan strategi pertahanan negara, kebijakan luar negeri strategis, hingga pengawasan program nuklir Iran.
Dikutip dari AFP, Larijani baru-baru ini ditunjuk Teheran untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa, serta sejumlah pejabat negara Teluk yang berupaya menjadi mediator antara Teheran dan Washington.
Langkah itu memperlihatkan bahwa Larijani kini memainkan peran yang lebih menonjol dibanding pendahulunya.
Ali Vaez, Direktur Proyek Iran dari International Crisis Group, menyebut Larijani sebagai sosok “orang dalam sejati”.
“Larijani adalah operator yang cerdik, memahami cara kerja sistem dan memahami kecenderungan pemimpin tertinggi,” ujar Vaez.
Rekam Jejak Militer, Media, dan Parlemen
Karier Larijani terbentang panjang. Ia adalah veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada masa perang Iran-Irak.
Setelah itu, ia memimpin lembaga penyiaran negara IRIB selama satu dekade sejak 1994.
Pada 1996, ia diangkat sebagai perwakilan Khamenei di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Karier politiknya terus menanjak hingga menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran selama periode 2008–2020.
Ia sempat mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden 2005, namun kalah dari Mahmoud Ahmadinejad. Upayanya kembali maju dalam Pilpres 2021 dan 2024 pun kandas setelah didiskualifikasi.
Meski demikian, kembalinya Larijani ke pucuk keamanan nasional dianggap sebagai sinyal kembalinya pendekatan pragmatis dalam manajemen keamanan Iran.
Sikap Soal Nuklir dan Hubungan dengan AS
Dalam isu nuklir, Larijani dikenal konsisten membela hak kedaulatan Iran untuk melakukan pengayaan uranium. Namun, ia juga mendukung penyelesaian melalui jalur diplomasi.
“Kami tidak bergerak menuju senjata nuklir. Tetapi jika Anda melakukan kesalahan dalam masalah nuklir Iran, Anda akan memaksa Iran bergerak ke arah itu karena harus membela diri,” ujarnya kepada televisi pemerintah.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Larijani menegaskan bahwa negosiasi dengan Washington harus terbatas pada isu nuklir.
Ia juga menilai perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat kecil kemungkinan terjadi karena risiko kerugian yang sangat besar bagi kedua pihak.
Mekanisme Suksesi dan Bayang-bayang IRGC
Menurut laporan Reuters, terdapat sejumlah skenario suksesi yang tengah dibahas di internal Iran, termasuk kemungkinan meningkatnya peran tokoh-tokoh garis keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Konstitusi Iran mengatur bahwa jika Pemimpin Tertinggi wafat, maka Majelis Ahli harus segera bersidang untuk memilih penerus.
Sementara itu, kendali sementara dapat dipegang oleh dewan tiga orang yang terdiri dari presiden, kepala lembaga peradilan, dan seorang ulama dari Dewan Penjaga Konstitusi.
Namun dalam praktiknya, sumber-sumber politik menyebutkan bahwa wewenang strategis kini banyak terpusat pada Larijani sebagai Sekretaris SNSC.
Situasi ini menempatkannya sebagai figur kunci dalam menjaga stabilitas negara di tengah tekanan internasional, konflik regional, dan spekulasi internal tentang arah masa depan Republik Islam.
Ambisi Politik dan Perhitungan Jangka Panjang
Vaez menilai perhitungan politik Larijani tidak lepas dari ambisi jangka panjang.
“Ia pria ambisius yang mengincar jabatan lebih tinggi. Larijani jelas ingin menjadi presiden. Itu menciptakan dua insentif: menjaga sistem dan tidak membakar kartunya sendiri,” ujarnya.
Kini, dengan wafatnya Khamenei dan belum adanya pengumuman resmi pengganti, perhatian dunia tertuju pada Teheran.
Apakah Ali Larijani hanya akan menjadi pengatur kekuasaan sementara, atau justru muncul sebagai arsitek utama arah baru Iran?
Jawabannya akan sangat menentukan masa depan politik Iran — sekaligus keseimbangan geopolitik Timur Tengah — dalam periode paling krusial dekade ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin