Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Baghdad Membara Usai Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Ribuan Massa Serbu Green Zone

Bayu Shaputra • Minggu, 1 Maret 2026 | 15:14 WIB

Situasi pedemo Irak di jembatan menuju Zona Hijau yang dihuni Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad.
Situasi pedemo Irak di jembatan menuju Zona Hijau yang dihuni Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad.

RADARBANYUWANGI.ID - Situasi di ibu kota Irak memanas drastis setelah konfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).

Gelombang kemarahan langsung membuncah di jalan-jalan Baghdad, memicu aksi demonstrasi besar-besaran yang berujung bentrokan dengan aparat keamanan.

Ribuan warga Irak turun ke jalan dan bergerak menuju kawasan Green Zone, area dengan pengamanan ketat yang menjadi pusat pemerintahan serta lokasi sejumlah kantor diplomatik asing, termasuk Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Massa Kepung Green Zone, Bentrokan Tak Terhindarkan

Dalam video yang viral di media sosial memperlihatkan lautan massa memenuhi jalan-jalan utama Baghdad. Para demonstran mengibarkan bendera dan membawa potret Khamenei sambil meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika.

Kerumunan sempat memblokir kendaraan di bundaran dekat salah satu pintu masuk utama Green Zone. Aparat keamanan Irak yang dikerahkan dalam jumlah besar mencoba membubarkan massa dengan barikade dan pengamanan berlapis.

Bentrokan fisik pun tak terhindarkan. Sejumlah demonstran terlibat aksi dorong dengan aparat, sementara pasukan keamanan berupaya mempertahankan perimeter zona hijau dari potensi penyerbuan.

Hingga laporan ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai korban jiwa dalam aksi tersebut. Namun situasi tetap tegang dengan potensi eskalasi lanjutan.

Tuntutan Balas Dendam dan Kecaman Terhadap AS

Green Zone kembali menjadi titik panas di tengah ketidakstabilan regional yang meningkat tajam. Para pengunjuk rasa, yang sebagian besar berasal dari komunitas Syiah Irak, menuntut Amerika Serikat bertanggung jawab atas kematian pemimpin tertinggi Iran tersebut.

Mereka mengecam serangan yang disebut sebagai agresi terang-terangan dan pelanggaran kedaulatan. Seruan boikot hingga tuntutan pengusiran pasukan AS dari Irak kembali mengemuka dalam orasi-orasi massa.

Sejumlah analis menilai, kematian Khamenei berpotensi menjadi katalis bagi konsolidasi kelompok-kelompok Syiah garis keras di Irak yang selama ini memiliki kedekatan ideologis dan politik dengan Teheran.

Muqtada al-Sadr Umumkan Tiga Hari Berkabung

Tokoh Irak, Muqtada al-Sadr, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Khamenei. Ia mengumumkan tiga hari masa berkabung nasional dan menyerukan persatuan di tengah situasi genting.

Sementara itu, aliansi kelompok Syiah penguasa yang dikenal sebagai Coordination Framework juga menyampaikan duka cita resmi.

“Darahnya akan tetap menjadi cahaya penuntun bagi semua generasi,” demikian pernyataan tertulis aliansi tersebut.

Pernyataan itu dinilai mempertegas posisi politik kelompok-kelompok pro-Iran di Irak yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap keberadaan militer AS di wilayah tersebut.

Iran Luncurkan Serangan Balasan, Wilayah Udara Irak Ditutup

Ketegangan regional kian meningkat setelah Iran dilaporkan meluncurkan serangan balasan masif ke sejumlah target di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer AS di Irak.

Sebagai respons atas situasi keamanan yang memburuk, Kementerian Transportasi Irak mengumumkan penutupan total wilayah udara negara tersebut. Langkah ini diambil guna mengantisipasi risiko keamanan terhadap penerbangan sipil.

Penutupan wilayah udara juga memperlihatkan betapa seriusnya eskalasi konflik yang kini meluas lintas batas negara.

Efek Domino Mengancam Kawasan

Para pengamat politik Timur Tengah memperingatkan bahwa pembunuhan Khamenei bisa memicu efek domino di kawasan, khususnya di negara-negara dengan populasi Syiah signifikan seperti Irak, Lebanon, dan Bahrain.

Irak sendiri berada dalam posisi yang sangat rentan. Di satu sisi, negara itu menjadi sekutu strategis Amerika Serikat. Di sisi lain, pengaruh Iran di kalangan politik dan milisi Syiah Irak sangat kuat.

Ketegangan ini berpotensi menyeret Irak kembali ke pusaran konflik terbuka jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Pasukan keamanan Baghdad saat ini terus memantau situasi dengan kewaspadaan tinggi. Pengamanan diperketat di sekitar fasilitas pemerintah dan kantor diplomatik asing guna mencegah aksi lanjutan.

Meski belum ada laporan korban jiwa dari aksi demonstrasi di Baghdad, atmosfer kota tetap diliputi ketegangan. Ancaman protes berkelanjutan dalam beberapa hari mendatang masih membayangi, seiring gelombang kemarahan yang terus menyebar di kawasan Timur Tengah.

Irak kini berada di persimpangan sejarah baru, dengan dinamika geopolitik yang dapat mengubah lanskap keamanan regional secara drastis.

Editor : Ali Sodiqin
#Demonstrasi Irak #Ayatollah Ali Khamenei #Baghdad memanas