RADARBANYUWANGI.ID - Perang terbuka antara Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran pecah dan terus meluas.
Korban jiwa dilaporkan berjatuhan di berbagai wilayah, sementara fasilitas sipil hingga pangkalan militer menjadi sasaran serangan balasan.
Dirangkum Minggu (1/3/2026), serangan awal Israel dan AS ke Iran terjadi pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Rudal-rudal menghantam sejumlah kota di Iran, termasuk Teheran dan wilayah selatan.
Di tengah eskalasi, klaim mengejutkan juga mencuat: Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan di Teheran. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran.
108 Orang Tewas di Sekolah Dasar Putri Minab
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran selatan.
Kantor berita Mizan News Agency, mengutip Kantor Kejaksaan Minab dan dilansir Al Jazeera, melaporkan jumlah korban tewas di lokasi tersebut telah mencapai 108 orang.
Sebagian besar korban disebut merupakan siswa sekolah tersebut.
Secara keseluruhan, Bulan Sabit Merah Iran menyatakan sedikitnya 201 orang tewas dan 747 lainnya terluka akibat serangan Israel dan AS hingga Sabtu malam.
Serangan terhadap fasilitas pendidikan memicu kecaman luas dan meningkatkan kekhawatiran krisis kemanusiaan.
Iran Balas Serang Tel Aviv, 1 Tewas
Iran tak tinggal diam. Serangan balasan rudal diluncurkan ke wilayah Israel, termasuk Tel Aviv.
Dilansir Agence France-Presse (AFP), layanan darurat Israel Magen David Adom (MDA) menyebut 20 orang terluka akibat serangan tersebut.
Satu korban, perempuan berusia 40-an, dilaporkan dalam kondisi kritis dan akhirnya meninggal dunia.
“Paramedis telah mengonfirmasi kematian seorang wanita berusia 40-an dengan luka parah,” demikian pernyataan MDA.
Seorang pria juga dilaporkan dalam kondisi serius, sementara korban lain mengalami luka akibat ledakan dan serpihan.
Rudal Iran Hantam UEA dan Qatar
Serangan balasan Iran juga menyasar negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Di Uni Emirat Arab, rudal Iran menghantam Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi.
Otoritas bandara menyatakan satu warga negara Asia tewas dan tujuh lainnya terluka akibat insiden tersebut.
Sementara itu, Bandara Internasional Dubai juga terdampak serangan. Empat staf bandara dilaporkan mengalami luka ringan setelah sebuah ruang tunggu mengalami kerusakan.
Di Doha, Qatar, serangan rudal Iran dilaporkan merusak sistem radar di pangkalan militer Al Udeid Air Base.
Seorang diplomat menyebut Qatar menjadi sasaran 44 rudal dan delapan drone. Delapan orang terluka, satu di antaranya dalam kondisi kritis.
Ratusan Drone Dicegat, Burj Al Arab Terbakar
UEA juga melaporkan berhasil mencegat sebagian besar dari 137 rudal dan 209 drone yang ditembakkan Iran.
Puing-puing drone yang berhasil dicegat sempat memicu kebakaran kecil di hotel mewah Burj Al Arab di Dubai.
Otoritas menyebut api berhasil dipadamkan dan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz
Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintasi Selat Hormuz.
Menurut laporan Tasnim News Agency yang dikutip AFP, IRGC menyatakan situasi keamanan di sekitar selat tidak aman akibat agresi militer AS dan Israel.
“Dengan penghentian lalu lintas kapal dan tanker melalui Selat Hormuz, selat tersebut pada dasarnya telah ditutup,” demikian pernyataan IRGC.
Penutupan jalur vital perdagangan minyak dunia itu berpotensi mengguncang pasar energi global.
AS dan Israel Klaim Khamenei Tewas
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian Khamenei melalui media sosialnya.
“Khameini, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,” tulis Trump.
Media Israel Channel 12 melaporkan 30 bom dijatuhkan ke kompleks kediaman Khamenei di Teheran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyebut ada tanda-tanda kuat bahwa pemimpin tertinggi Iran itu telah tewas.
Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Teheran yang mengonfirmasi kabar tersebut.
Ancaman Perang Regional
Konflik yang kini melibatkan Iran, Israel, AS, serta negara-negara Teluk menunjukkan potensi perang regional yang lebih luas.
Dengan korban sipil terus bertambah, fasilitas sipil dan militer menjadi sasaran, serta ancaman penutupan Selat Hormuz, dunia kini berada dalam kewaspadaan tinggi.
Komunitas internasional mendesak deeskalasi segera. Namun di lapangan, serangan dan balasan masih berlangsung, membuat situasi Timur Tengah berada di titik paling genting dalam beberapa tahun terakhir. (*)
Editor : Ali Sodiqin