RADARBANYUWANGI.ID - Klaim mengejutkan datang dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Ia menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel yang menghantam kompleks kediamannya pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.
Otoritas Iran akhirnya membenarkan kabar tersebut. Presenter televisi pemerintah bahkan terlihat menitikkan air mata saat membacakan berita duka, seperti dikutip dari BBC News International.
Negara itu kini diselimuti suasana berkabung mendalam dan menetapkan 40 hari masa duka nasional.
Kepergian Khamenei—jika sepenuhnya terkonfirmasi—menjadi momen paling menentukan dalam sejarah Republik Islam Iran sejak Revolusi 1979.
Dari Presiden Masa Perang ke Pemimpin Tertinggi
Ali Khamenei mengambil alih tampuk kepemimpinan Republik Islam Iran pada 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini.
Jika Khomeini dikenal sebagai arsitek ideologis Revolusi Islam 1979, Khamenei adalah figur yang membangun fondasi kekuasaan negara modern Iran melalui konsolidasi militer, paramiliter, dan jaringan pengaruh regional.
Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjabat Presiden Iran pada masa Perang Iran-Irak (1980–1988).
Konflik berdarah itu membentuk watak politiknya: curiga terhadap Barat dan meyakini Iran selalu berada dalam ancaman eksternal.
“Dia adalah presiden masa perang yang keluar dari konflik dengan keyakinan bahwa Iran rentan dan harus selalu siap menghadapi ancaman,” ujar Vali Nasr, pakar Iran dan penulis Iran's Grand Strategy, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).
Menurut Nasr, bagi Khamenei, revolusi, republik Islam, dan nasionalisme Iran adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dan wajib dilindungi.
Penguatan Garda Revolusi dan “Ekonomi Perlawanan”
Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berevolusi menjadi kekuatan dominan—tidak hanya dalam bidang militer, tetapi juga politik dan ekonomi.
IRGC mengelola proyek infrastruktur besar, bisnis energi, hingga sektor keuangan.
Khamenei juga mengusung konsep “ekonomi perlawanan” (resistance economy), sebuah strategi untuk menjaga kemandirian nasional di tengah sanksi Barat yang terus menekan perekonomian Iran.
Langkah itu membuat Iran tetap bertahan di tengah embargo panjang. Namun, kebijakan keras tersebut juga memicu kritik luas di dalam negeri.
Penindakan brutal terhadap protes pemilu 2009 dan gelombang demonstrasi 2022 terkait hak perempuan memperlihatkan gaya kepemimpinan Khamenei yang memandang ketidakstabilan domestik sebagai ancaman keamanan nasional.
“Rakyat Iran membayar harga yang terlalu mahal atas penegasan kemerdekaan nasional versi ini,” kata Nasr. “Dalam prosesnya, Khamenei kehilangan dukungan sebagian besar masyarakat.”
Pragmatisme di Tengah Ketegangan Nuklir
Meski dikenal keras, Khamenei juga menunjukkan sisi pragmatis. Ia menyetujui perjanjian nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang membuka ruang pencabutan sebagian sanksi internasional.
Namun keputusan AS di era pemerintahan Trump yang menarik diri dari kesepakatan itu membuat Khamenei kembali mengambil sikap konfrontatif.
Ia menolak negosiasi langsung dengan Washington dan menguatkan strategi “bukan damai, bukan perang.”
Strategi tersebut diwujudkan melalui penguatan jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai “poros perlawanan,” termasuk Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, dan Houthi di Yaman.
Langkah ini menempatkan Iran sebagai aktor kunci dalam konflik regional sekaligus target utama Israel.
Ketegangan meningkat setelah perang Israel-Hamas dan serangkaian serangan Israel terhadap target Iran serta sekutunya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan secara terbuka mengancam akan membunuh Khamenei.
Dalam salah satu pidatonya, Khamenei menegaskan Iran tidak akan tunduk. “Bangsa Iran tidak akan menyerah. Intervensi militer AS akan membawa kerusakan yang tak bisa diperbaiki,” katanya.
Klaim Serangan dan Pernyataan Trump
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Khamenei dan sejumlah pejabat Iran “tidak bisa lolos dari intelijen AS dan sistem pelacakan paling canggih.”
Hingga kini, Teheran disebut belum memberikan rincian teknis resmi mengenai proses serangan tersebut.
Namun siaran televisi pemerintah yang emosional memperkuat kabar duka yang telah mengguncang publik Iran.
Jika benar tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel, kematian Khamenei menjadi peristiwa geopolitik paling dramatis dalam beberapa dekade terakhir.
Figur yang Membelah Pandangan
Bagi pendukungnya, Khamenei adalah simbol keteguhan melawan tekanan Barat dan Israel. Ia dianggap penjaga ideologi revolusi dan kedaulatan nasional.
Namun bagi para pengkritik, ia dinilai semakin terputus dari aspirasi generasi muda Iran yang menginginkan reformasi politik, kebebasan sosial, serta perbaikan ekonomi di tengah sanksi berkepanjangan.
Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei bukan hanya pemimpin agama dan politik, tetapi pusat gravitasi kekuasaan Iran.
Kini, dengan kabar kematiannya, Iran menghadapi fase transisi paling krusial sejak 1979. Siapa yang akan menggantikannya?
Bagaimana arah kebijakan luar negeri Iran ke depan? Dan apakah Timur Tengah akan memasuki babak konflik baru?
Satu hal yang pasti: wafatnya Ali Khamenei—jika sepenuhnya terkonfirmasi secara resmi dan final—akan menjadi titik balik besar dalam sejarah Republik Islam Iran dan geopolitik global. (*)
Editor : Ali Sodiqin