RADARBANYUWANGI.ID - Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer skala besar ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Operasi udara yang menyasar ibu kota Teheran dan sejumlah kota strategis lainnya itu langsung memicu eskalasi ketegangan di seluruh kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi ini berlangsung masif dan berkelanjutan. Pentagon secara resmi menamakan misi tersebut sebagai Operation Epic Fury.
Trump menegaskan tujuan utama serangan adalah menghancurkan kemampuan misil Iran, armada lautnya, serta kelompok bersenjata yang didukung Teheran di kawasan regional.
Ledakan di Teheran hingga Isfahan
Laporan media lokal Iran seperti Fars News Agency dan Tasnim News Agency menyebutkan suara ledakan terdengar di berbagai kota, termasuk Teheran, Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, Karaj, hingga Provinsi Lorestan.
Di Teheran, serangan dilaporkan menargetkan kawasan University Street, Jomhouri, serta area di dekat markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dokumentasi visual yang beredar di media sosial memperlihatkan kolom asap hitam membubung tinggi dari beberapa titik terdampak.
85 Orang Tewas di Sekolah Minab
Berdasarkan laporan Tasnim, jumlah korban tewas akibat serangan Israel terhadap sebuah sekolah dasar perempuan di Minab, Provinsi Hormozgan, meningkat menjadi 85 orang.
Angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen mengingat konflik masih berlangsung dan akses informasi terbatas.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membagikan foto dampak serangan tersebut melalui platform X. Ia menyebut sekolah perempuan itu hancur dan menewaskan “anak-anak yang tidak bersalah”.
“Kejahatan terhadap rakyat Iran ini tidak akan dibiarkan begitu saja,” tulis Araghchi.
Iran Balas Serang Israel dan Pangkalan AS
Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal ke wilayah utara Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Target yang disebut meliputi Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Al-Salem di Kuwait, Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, serta markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Ledakan juga dilaporkan terdengar di Riyadh, Arab Saudi, serta di sejumlah fasilitas militer di Yordania.
Kementerian Dalam Negeri Qatar mengeluarkan peringatan darurat, meminta warga tetap berada di dalam ruangan dan menjauhi area terbuka.
Sementara itu, Israel mengaktifkan sistem pertahanan udara nasional dan meminta warga mengikuti instruksi dari Home Front Command.
Serangan Drone ke Bandara Kuwait
Otoritas penerbangan Kuwait melaporkan serangan drone yang menargetkan Bandara Internasional Kuwait.
Insiden tersebut menyebabkan cedera ringan pada beberapa pegawai dan kerusakan terbatas pada gedung penumpang.
Juru bicara resmi Abdullah al-Rajhi menyatakan prosedur darurat telah diterapkan dan lokasi diamankan.
Reaksi Dunia Internasional
Eskalasi militer ini memicu respons diplomatik luas. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dijadwalkan menggelar pertemuan darurat.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan penghentian segera permusuhan dan memperingatkan risiko konflik regional yang lebih luas.
Jerman mengeluarkan peringatan perjalanan bagi sembilan negara di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyatakan eskalasi ini mengganggu pembicaraan nuklir AS-Iran yang tengah difasilitasi di Jenewa.
Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan konsekuensi serius terhadap perdamaian global.
Rusia mempertanyakan motif Washington, sementara Inggris menegaskan posisinya untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Kondisi Ali Khamenei dan Pernyataan Iran
Dalam wawancara dengan NBC News, Abbas Araghchi menyatakan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, masih hidup.
“Masih hidup sejauh yang saya ketahui,” ujarnya.
Araghchi juga menyebut pernyataan Trump tentang perubahan rezim di Iran sebagai “misi mustahil” dan menegaskan tidak ada komunikasi dengan Washington saat ini.
Ia menekankan bahwa serangan harus dihentikan sebelum ada kemungkinan dialog, meski mengakui satu atau dua komandan Iran gugur dalam serangan tersebut.
Timur Tengah di Ambang Perang Besar
Operation Epic Fury dan gelombang balasan Iran menandai eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir di Timur Tengah.
Serangan lintas negara, penutupan wilayah udara, serta peringatan keras dari Washington dan Teheran memperlihatkan bahwa kawasan ini berada di ambang perang regional berskala besar.
Dampaknya tak hanya pada stabilitas politik dan keamanan, tetapi juga ekonomi global—khususnya sektor energi dan perdagangan internasional yang sangat bergantung pada stabilitas kawasan Teluk.
Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi masih dapat diselamatkan, atau konflik ini akan berkembang menjadi perang terbuka yang lebih luas dengan konsekuensi global yang mendalam. (*)
Editor : Ali Sodiqin