Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Reza Pahlavi Serukan Akhiri Rezim Iran, Desak Militer Tinggalkan Khamenei di Tengah Konflik AS-Israel

Ali Sodiqin • Sabtu, 28 Februari 2026 | 23:24 WIB

Tokoh oposisi Iran Reza Pahlavi.
Tokoh oposisi Iran Reza Pahlavi.

RADARBANYUWANGI.ID - Situasi politik di Teheran kian memanas seiring meningkatnya konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Di tengah ketegangan tersebut, tokoh oposisi utama Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, menyampaikan pesan tegas yang menyerukan berakhirnya rezim Republik Islam.

Melalui akun media sosial X miliknya, putra mendiang Shah Iran itu menyebut momen saat ini sebagai titik krusial untuk mengakhiri kekuasaan yang telah berdiri sejak Revolusi 1979.

Sebut Intervensi sebagai Langkah Kemanusiaan

Dalam pernyataannya, Pahlavi menegaskan bahwa intervensi yang terjadi bukanlah serangan terhadap kedaulatan Iran, melainkan upaya kemanusiaan untuk melumpuhkan apa yang ia sebut sebagai “mesin pembunuh” rezim saat ini.

Ia menyatakan bahwa dukungan yang sebelumnya dijanjikan oleh Presiden AS Donald Trump kini telah menjadi kenyataan.

“Bantuan yang dijanjikan Presiden Amerika Serikat kepada rakyat Iran yang gagah berani kini telah tiba. Ini adalah intervensi kemanusiaan; dan sasarannya adalah Republik Islam, aparatus penindasannya, dan mesin pembunuhnya; bukan negara dan bangsa Iran yang agung,” ujar Pahlavi, Sabtu (28/2).

Meski demikian, ia menekankan bahwa masa depan Iran tetap berada di tangan rakyatnya sendiri.

“Terlepas dari bantuan ini, kemenangan akhir tetap akan menjadi milik kita. Kitalah, rakyat Iran, yang akan menyelesaikan tugas dalam pertempuran terakhir ini. Waktu untuk kembali turun ke jalan sudah dekat,” tegasnya.

Ultimatum untuk Militer Iran

Seiring meningkatnya tekanan terhadap pemerintahan Teheran, Pahlavi juga menyampaikan peringatan keras kepada militer dan pasukan keamanan Iran.

Ia mengingatkan bahwa sumpah prajurit adalah kepada tanah air dan bangsa Iran, bukan kepada rezim yang berkuasa.

“Anda telah bersumpah untuk menjadi pelindung Iran dan bangsa Iran, bukan pelindung Republik Islam dan para pemimpinnya. Tugas Anda adalah membela rakyat, bukan membela rezim yang telah menyandera tanah air kita melalui penindasan dan kejahatan,” katanya.

Ia bahkan menyebut nama Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam peringatannya.

“Bergabunglah dengan bangsa ini dan bantu memastikan transisi yang stabil dan aman. Jika tidak, Anda akan tenggelam bersama kapal Khamenei dan rezimnya yang rusak,” ujar Pahlavi.

Pernyataan tersebut dinilai sebagai ajakan terbuka kepada militer untuk membelot dan mendukung perubahan politik.

Pesan Khusus kepada Donald Trump

Tak hanya menyerukan perubahan di dalam negeri, Pahlavi juga menyampaikan pesan khusus kepada Presiden Donald Trump.

Ia mengapresiasi dukungan yang diberikan Washington, namun menekankan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil Iran.

“Bangsa Iran yang mulia, meskipun menghadapi penindasan dan pembunuhan brutal dari rezim ini, telah berdiri teguh selama hampir dua bulan. Sekarang saya meminta Anda untuk berhati-hati sepenuhnya untuk melindungi nyawa warga sipil dan sesama warga negara saya,” tuturnya.

Pahlavi meminta agar operasi militer tetap memprioritaskan keselamatan masyarakat sipil di tengah konflik bersenjata yang terus meningkat.

Imbau Warga Siap Turun ke Jalan

Kepada rakyat Iran, Pahlavi meminta agar tetap tenang namun bersiap menghadapi momentum penentuan.

Ia mengimbau masyarakat untuk sementara tetap berada di rumah dan menjaga keamanan diri, sembari menunggu instruksi lanjutan.

“Saya meminta Anda untuk tetap berada di rumah untuk saat ini dan menjaga kedamaian serta keamanan Anda. Tetap waspada dan siap untuk kembali ke jalanan untuk tindakan akhir pada waktu yang tepat, yang akan saya informasikan kepada Anda secara rinci,” imbuhnya.

Ia juga menyarankan warga untuk memantau berbagai kanal komunikasi alternatif, termasuk gelombang radio, jika akses internet diputus oleh pemerintah.

Situasi Politik Kian Genting

Seruan Pahlavi muncul di tengah serangan militer besar-besaran yang mengguncang Iran dan memicu respons balasan ke sejumlah target regional. Situasi ini membuat stabilitas politik domestik Iran berada dalam tekanan berat.

Sejumlah pengamat menilai pernyataan Pahlavi berpotensi memperkuat gelombang oposisi di dalam negeri, terutama jika kondisi keamanan terus memburuk.

Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Teheran terkait seruan oposisi tersebut.

Sementara itu, dunia internasional terus memantau perkembangan yang berpotensi mengubah peta politik Iran secara drastis. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Israel #Konflik AS dan Iran #Reza Pahlavi #donald trump #Khamenei #serangan israel #amerika serikat #oposisi iran #perang teluk