RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan konflik di Timur Tengah mencapai titik puncak setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Iran, Sabtu (28/2/2026).
Operasi tempur tersebut langsung memicu eskalasi regional, memancing serangan balasan dari Teheran dan berdampak luas terhadap stabilitas keamanan serta penerbangan internasional di kawasan Teluk.
Trump: Targetkan Kekuatan Militer dan Program Nuklir
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer ini bertujuan melumpuhkan kekuatan militer Teheran sekaligus mengeliminasi ancaman pengembangan senjata nuklir Iran yang selama ini menjadi kekhawatiran global.
Dalam pernyataan video berdurasi sekitar delapan menit, Trump menyebut keterlibatan militer AS didasari akumulasi ketegangan panjang sejak Revolusi Iran 1979. Ia juga menyinggung kegagalan negosiasi nuklir di Jenewa yang sebelumnya diupayakan berbagai pihak.
“Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian,” ujar Trump dalam pesan yang ditujukan kepada rakyat Iran, mendesak mereka menggulingkan kepemimpinan Islam saat ini sebagai momentum perubahan.
Instalasi Militer hingga Simbol Pemerintahan Dihantam
Serangan udara yang dimulai sejak Sabtu pagi dilaporkan menghantam berbagai titik strategis, termasuk instalasi militer, simbol pemerintahan, serta pusat intelijen.
Salah satu ledakan besar dilaporkan terjadi di dekat kantor Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei. Hingga kini, keberadaan Khamenei masih belum diketahui secara pasti.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan langkah militer tersebut diambil guna menyingkirkan ancaman permanen dari Iran terhadap keamanan negaranya.
57 Tewas, Sekolah Anak Perempuan Jadi Korban
Namun, operasi militer tersebut membawa dampak tragis bagi warga sipil. Laporan kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), menyebutkan sedikitnya 57 orang tewas dan 45 lainnya luka-luka setelah serangan menghantam sebuah sekolah anak perempuan di wilayah Iran Selatan.
Insiden tersebut memicu kecaman keras dari berbagai pihak di dalam negeri Iran. Pemerintah Teheran menuduh serangan tersebut sebagai agresi terbuka terhadap kedaulatan negara.
Tak hanya di Iran, serpihan rudal juga dilaporkan jatuh di ibu kota Uni Emirat Arab dan menewaskan satu orang.
Garda Revolusi Balas Serangan
Merespons serangan tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan komitmennya untuk membela kedaulatan negara.
Garda Revolusi Iran segera memobilisasi serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang diarahkan ke wilayah Israel serta instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Sirene bahaya dilaporkan berbunyi di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain serta Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar menjadi target utama rudal Iran.
Meski demikian, militer Israel melalui Letkol Nadav Shoshani menyatakan belum ada laporan kerusakan signifikan maupun korban jiwa akibat rentetan rudal balasan tersebut.
Kapal Induk AS Dikerahkan
Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan kekuatan militer besar ke kawasan tersebut, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford yang kini bersiaga di Laut Mediterania.
Penambahan kekuatan ini disebut melibatkan lebih dari 10.000 personel tambahan untuk memperkuat posisi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Ruang Udara Ditutup, Maskapai Batalkan Penerbangan
Dampak langsung konflik juga terasa di sektor transportasi udara. Ruang udara Israel, Uni Emirat Arab, Irak, dan Qatar resmi ditutup sementara.
Sejumlah maskapai besar seperti Emirates, Etihad Airways, Qatar Airways, hingga Turkish Airlines terpaksa membatalkan atau mengalihkan penerbangan mereka.
Gangguan ini berdampak pada rute internasional menuju Dubai, Doha, hingga India, serta memicu kekhawatiran lonjakan harga tiket dan keterlambatan perjalanan global.
Ancaman Eskalasi Regional
Analis keamanan internasional memperingatkan bahwa konflik terbuka antara AS, Israel, dan Iran berpotensi menyeret negara-negara Teluk ke dalam pusaran perang yang lebih luas.
Dengan pengerahan armada tempur besar, korban sipil yang terus bertambah, serta serangan balasan lintas negara, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang eskalasi konflik terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Dunia internasional pun menanti apakah jalur diplomasi masih bisa dibuka, atau konflik ini akan berkembang menjadi perang regional berskala penuh. (*)
Editor : Ali Sodiqin