Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Geopark Ijen Hadapi Revalidasi UNESCO 2026, Banyuwangi Kejar Green Card Unesco Global Geopark

Ali Sodiqin • Kamis, 12 Februari 2026 | 16:30 WIB

Geopark Ijen jalani revalidasi UNESCO 2026. Banyuwangi targetkan Green Card UGG, evaluasi pertama sejak ditetapkan 2023.
Geopark Ijen jalani revalidasi UNESCO 2026. Banyuwangi targetkan Green Card UGG, evaluasi pertama sejak ditetapkan 2023.

RADARBANYUWANGI.ID – Geopark Ijen bersiap menjalani proses revalidasi sebagai bagian dari jaringan Unesco Global Geopark (UGG) pada 2026.

Tahapan ini menjadi momentum krusial karena menentukan apakah Geopark Ijen mampu mempertahankan statusnya dengan meraih Green Card dari UNESCO.

Revalidasi 2026 merupakan evaluasi pertama sejak Geopark Ijen resmi ditetapkan sebagai anggota Unesco Global Geopark pada 2023 lalu.

Sesuai mekanisme UNESCO, setiap geopark wajib menjalani evaluasi menyeluruh setiap empat tahun sekali guna memastikan standar internasional tetap terpenuhi, baik dari aspek konservasi, edukasi, hingga pemberdayaan masyarakat.

Hasil evaluasi akan menentukan status geopark: Green Card (dipertahankan), Yellow Card (diberi waktu dua tahun untuk perbaikan), atau Red Card (dicabut dari jaringan UGG).

Tim Kementerian ESDM dan Pemprov Jatim Cek Kesiapan

Menjelang revalidasi yang diperkirakan berlangsung pertengahan 2026, tim persiapan revalidasi Geopark Ijen bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Rabu (11/2/2026).

Tim terdiri atas Ketua Tim Kerja Geopark Kementerian ESDM Aries Kusworo bersama perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pertemuan tersebut digelar untuk memastikan kesiapan Geopark Ijen, khususnya di wilayah Banyuwangi sebagai bagian dari kawasan deliniasi bersama Bondowoso.

“Ini adalah revalidasi pertama. Maka perlu persiapan, karena yang dinilai adalah kemajuan yang sudah dicapai. Saya berharap seluruh stakeholder Geopark Ijen bisa mempersiapkan ini dengan baik saat asesor melakukan penilaian. Kami ke sini untuk membahas kesiapan dan melihat langsung progresnya,” ujar Aries, dilansir dari banyuwangikab.go.id.

Menurut Aries, revalidasi bukan sekadar formalitas, melainkan evaluasi komprehensif terhadap implementasi rekomendasi UNESCO sejak penetapan 2023.

FGD dan Tinjauan Situs Geopark

Selama berada di Banyuwangi, tim melakukan serangkaian agenda untuk mematangkan kesiapan revalidasi.

Salah satunya menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pelaku pariwisata, akademisi, komunitas, dan masyarakat di wilayah deliniasi Geopark Ijen.

Selain itu, tim juga meninjau sejumlah situs geopark seperti Teluk Pang-Pang dan Desa Wisata Wringin Putih.

Di kawasan tersebut, tim melihat langsung praktik pemberdayaan masyarakat, khususnya pengelolaan ekowisata mangrove yang menjadi bagian penting dari konsep pembangunan berkelanjutan Geopark Ijen.

“Beberapa rekomendasi yang diberikan UNESCO sudah dipenuhi secara bertahap. Selain itu, Geopark Ijen juga aktif bekerja sama dengan UGG lainnya. Itu menjadi poin tersendiri dalam penilaian UNESCO,” terang Aries.

Kolaborasi lintas geopark dunia dinilai penting untuk memperkuat jejaring internasional sekaligus meningkatkan kapasitas pengelolaan kawasan.

Ipuk: Green Card Jadi Jembatan Masa Depan

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan, pertemuan ini merupakan langkah konkret memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan demi meraih kembali status Green Card UNESCO.

“Saya berharap seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama, komitmen kuat, dan rencana aksi yang terpadu untuk meraih Green Card pada revalidasi ini,” kata Ipuk.

Menurutnya, Green Card bukan sekadar label internasional. Status tersebut menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih cerah bagi masyarakat di sekitar kawasan Geopark Ijen.

Dengan status tersebut, dampak positif yang diharapkan antara lain meningkatnya kunjungan wisatawan, terbukanya peluang investasi, tumbuhnya ekonomi lokal, serta penguatan pelestarian alam dan budaya.

“Status ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mulai dari pariwisata, ekonomi kreatif, hingga pelestarian budaya lokal,” ujarnya.

Ipuk optimistis, dengan semangat gotong royong dan dedikasi bersama, seluruh rekomendasi asesor Unesco Global Geopark dapat dijalankan secara maksimal.

“Saya yakin, dengan semangat gotong royong, dedikasi, dan komitmen yang kuat dari kita semua, kita bisa menjalankan rekomendasi dari asesor UGG,” tegasnya.

Rekomendasi UNESCO Mulai Dijalankan

Ketua Badan Pengelola Geopark Ijen, Abdillah Baraas, menjelaskan terdapat sejumlah rekomendasi UNESCO yang menjadi perhatian utama dalam pengelolaan Geopark Ijen.

Beberapa di antaranya adalah penguatan riset dan pemetaan geologi, penambahan panel informasi edukatif di area geopark, penguatan warisan budaya lokal, serta peningkatan keaktifan badan pengelola dalam menggelar event nasional maupun internasional.

“Rekomendasi sudah kita jalankan. Dokumen serta data yang dibutuhkan dalam proses revalidasi juga sudah masuk ke UNESCO melalui Bappenas,” jelas Abdillah.

Ia menambahkan, proses dokumentasi menjadi bagian penting karena asesor UNESCO akan menilai tidak hanya kondisi lapangan, tetapi juga konsistensi pengelolaan berbasis data dan laporan yang terukur.

Momentum Perkuat Geowisata Berkelanjutan

Revalidasi 2026 menjadi momentum penting bagi Geopark Ijen untuk menunjukkan kemajuan pengelolaan sejak 2023.

Konsep geopark sendiri mengintegrasikan konservasi geologi, edukasi, serta pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.

Dengan kesiapan lintas sektor—mulai dari pemerintah daerah, kementerian, akademisi, pelaku wisata, hingga komunitas lokal—Geopark Ijen menatap optimistis proses evaluasi tahun ini.

Targetnya jelas: mempertahankan status sebagai bagian dari jaringan Unesco Global Geopark dengan meraih Green Card dan menjadikan kawasan Ijen sebagai model pengelolaan geowisata berkelanjutan kelas dunia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#geopark ijen #banyuwangi #unesco #Green Card Unesco Global Geopark