RADARBANYUWANGI.ID - Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menegaskan bahwa program rudal negaranya tidak akan pernah menjadi bahan negosiasi dalam perundingan dengan Amerika Serikat (AS).
Pernyataan ini disampaikan Araghchi pada Sabtu (7/2/2026) dalam wawancara dengan Al Jazeera Qatar, yang cuplikannya ia bagikan melalui saluran Telegram pribadinya dalam bahasa Persia.
Komentar tersebut muncul setelah berlangsungnya perundingan tidak langsung antara Iran dan AS pada Jumat (6/2/2026), yang difokuskan secara terbatas pada isu nuklir Iran.
Menurut Araghchi, pertemuan itu merupakan sebuah langkah awal yang positif, meskipun masih dibutuhkan proses panjang untuk membangun kepercayaan antara kedua negara.
“Pertemuan ini bisa dianggap sebagai awal yang baik, tetapi jalan menuju kepercayaan masih panjang,” ujar Araghchi dalam wawancara tersebut, dikutip Antara, Senin (9/2/2026).
Dalam beberapa bulan terakhir, AS terus mendesak Iran agar membatasi program rudalnya.
Namun, Teheran menolak tuntutan itu dengan alasan kedaulatan dan keamanan nasional.
Araghchi menegaskan bahwa isu rudal sepenuhnya berada di ranah pertahanan negara.
“Rudal tidak pernah bisa dinegosiasikan karena masalah itu merupakan isu pertahanan,” kata Araghchi.
Ia juga berharap agar “pendekatan ini dapat diterapkan dalam kebijakan AS” ke depan.
Lebih lanjut, Araghchi menyebut bahwa upaya AS dan Israel untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran telah gagal, meskipun fasilitas-fasilitas atom Iran sempat dibom pada Juni lalu.
Ia menekankan bahwa hak Iran untuk melanjutkan pengayaan uranium di wilayahnya sendiri “tidak dapat dicabut.”
Menanggapi kemungkinan serangan langsung dari AS, Araghchi menyatakan Iran tidak memiliki kemampuan maupun niat untuk menyerang wilayah daratan AS.
Namun, ia mengingatkan bahwa Iran dapat menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Asia Barat jika diperlukan.
Perundingan yang dipimpin Araghchi dan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, ini menandai kembalinya jalur diplomasi di tengah meningkatnya ketegangan regional akibat penguatan militer AS di kawasan tersebut.
Editor : Lugas Rumpakaadi