RADARBANYUWANGI.ID - Pemungutan suara pemilihan umum Jepang resmi dimulai pada Minggu (8/2/2026), menandai momen krusial bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi yang berupaya memperoleh mandat publik untuk melanjutkan kebijakan ekonomi dan keamanan nasionalnya.
Melansir Antara, pemilu ini digelar di tengah hujan salju lebat di berbagai wilayah, kondisi yang dikhawatirkan dapat menekan tingkat partisipasi pemilih.
Takaichi, perdana menteri wanita pertama Jepang yang menjabat sejak Oktober lalu, memimpin koalisi baru Partai Demokrat Liberal (LDP) bersama Partai Inovasi Jepang (JIP).
Ia secara terbuka mempertaruhkan jabatannya dengan menyatakan akan “segera mengundurkan diri” apabila koalisi gagal meraih mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat yang beranggotakan 465 kursi.
Sebanyak hampir 1.300 kandidat bersaing dalam pemilu ini, dengan 289 kursi diperebutkan melalui daerah pemilihan tunggal dan 176 kursi melalui sistem perwakilan proporsional.
Isu ekonomi menjadi sorotan utama, terutama kenaikan biaya hidup yang mendorong hampir semua partai, baik pemerintah maupun oposisi, menjanjikan pengurangan atau penghapusan pajak konsumsi atas bahan pangan.
Di sisi lain, kebijakan keamanan juga menjadi tema sentral.
Di bawah kepemimpinan Takaichi yang dikenal berpandangan keras, blok penguasa mendorong penguatan pertahanan nasional di tengah lingkungan keamanan regional yang memburuk.
Takaichi menegaskan perlunya “pergeseran kebijakan utama” dengan pendekatan fiskal yang ia sebut “bertanggung jawab namun agresif”.
Meski jajak pendapat menunjukkan keunggulan kubu penguasa, tantangan tetap besar.
Sebelum pembubaran parlemen, LDP dan JIP hanya mengantongi mayoritas tipis dan masih menjadi minoritas di majelis tinggi, sehingga dukungan oposisi tetap krusial dalam proses legislasi.
Bagi Aliansi Reformasi Sentris, pemilu ini menjadi ujian pertama untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar koalisi pragmatis.
Hasil pemilu akan menentukan arah politik Jepang, termasuk ambisi lama LDP untuk merevisi konstitusi yang mensyaratkan dukungan dua pertiga parlemen.
Editor : Lugas Rumpakaadi