RADARBANYUWANGI.ID - Badai salju dahsyat tengah melanda Jepang dan memicu krisis kemanusiaan serius di sejumlah wilayah, terutama di sepanjang pesisir Laut Jepang.
Pemerintah Jepang melaporkan sedikitnya 30 orang meninggal dunia akibat hujan salju ekstrem yang terjadi selama dua pekan terakhir, sejak 20 Januari 2026.
Korban jiwa berasal dari berbagai kalangan, termasuk warga lanjut usia yang tinggal sendirian di daerah terpencil.
Salah satu kasus yang menyita perhatian publik adalah kematian seorang lansia berusia 91 tahun bernama Kina Jin.
Ia ditemukan tewas terkubur di bawah tumpukan salju setinggi sekitar tiga meter di kediamannya.
Di dekat jenazah korban, petugas menemukan sebuah sekop aluminium, yang mengindikasikan upaya korban membersihkan salju secara mandiri.
Pejabat kepolisian setempat menjelaskan bahwa penyebab kematian korban adalah mati lemas.
Ia juga memperingatkan bahwa area di bawah atap rumah menjadi sangat berbahaya saat terjadi akumulasi salju, karena salju yang mencair dapat jatuh sewaktu-waktu dan menimbun orang di bawahnya.
Merespons situasi darurat ini, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menggelar rapat kabinet khusus untuk mengoordinasikan penanganan krisis.
Dalam rapat tersebut, PM Takaichi menginstruksikan seluruh menteri terkait agar mengambil langkah maksimal guna mencegah bertambahnya korban jiwa dan kecelakaan, terutama di wilayah dengan lonjakan volume salju yang kini mencapai dua kali lipat dari kondisi normal.
Cuaca ekstrem ini dipicu oleh massa udara dingin yang sangat kuat.
Akibatnya, tumpukan salju di sejumlah wilayah terpencil tercatat mencapai kedalaman hingga 4,5 meter, mengubur akses jalan, rumah penduduk, serta fasilitas umum.
Prefektur Aomori dilaporkan menjadi salah satu daerah dengan dampak terburuk.
Gubernur Aomori, Soichiro Miyashita, secara resmi meminta bantuan Pasukan Bela Diri Jepang atau militer untuk mendukung operasi penanggulangan bencana.
Permintaan ini diajukan setelah para pekerja lokal kewalahan menghadapi tingginya dinding salju yang menutup permukiman warga.
Bantuan militer difokuskan pada evakuasi dan pembersihan salju di sekitar rumah warga lanjut usia yang tinggal sendirian.
Di beberapa titik, dinding salju mencapai ketinggian sekitar 1,8 meter, sehingga sangat berisiko bagi keselamatan warga.
Miyashita menegaskan bahwa ancaman kecelakaan fatal sudah berada di depan mata, termasuk risiko tertimpa salju dari atap rumah dan runtuhnya bangunan akibat beban salju yang berlebihan.
Pihak kepolisian setempat terus mengingatkan warga akan bahaya runtuhnya massa salju dari atap rumah.
Risiko tersebut sangat bergantung pada volume salju dan perubahan suhu, yang dapat menyebabkan salju mencair lalu jatuh secara tiba-tiba.
Hingga saat ini, pemerintah pusat Jepang masih memantau kondisi di lapangan secara intensif.
Upaya koordinasi lintas lembaga terus dilakukan dengan harapan dapat menekan angka korban jiwa serta meminimalkan dampak lebih lanjut dari cuaca ekstrem yang masih berpotensi berlanjut.
Editor : Lugas Rumpakaadi