Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketegangan Timur Tengah Memuncak, Iran Peringatkan AS soal Serangan

Lugas Rumpakaadi • Senin, 2 Februari 2026 | 02:15 WIB
Negosiasi Iran dan AS dimulai di tengah ketegangan.
Negosiasi Iran dan AS dimulai di tengah ketegangan.

RADARBANYUWANGI.ID - Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan internasional setelah kedua negara mengonfirmasi dimulainya proses negosiasi di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.

Meski terdapat sinyal kemajuan dari pihak Teheran, Presiden AS Donald Trump masih belum mengungkap secara terbuka tujuan maupun strategi utama Washington dalam perundingan tersebut.

Pejabat keamanan tertinggi Iran menyatakan bahwa kerangka struktural untuk negosiasi dengan AS saat ini sedang dibangun.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa pembicaraan berlangsung lebih positif dibandingkan pemberitaan media yang dinilainya berlebihan dan tidak akurat.

Di sisi lain, pemerintah Iran tetap menyampaikan peringatan keras kepada AS agar tidak mengambil langkah militer.

Kepala Angkatan Darat Republik Islam Iran, Amir Hatami, menegaskan bahwa seluruh kekuatan pertahanan negaranya berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi potensi ancaman.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menekankan bahwa perang terbuka tidak akan menguntungkan pihak mana pun.

Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran tidak pernah memiliki niat untuk memulai konflik bersenjata dan meyakini stabilitas kawasan hanya dapat dicapai melalui dialog.

Sementara itu, Presiden Donald Trump mengakui bahwa pembicaraan dengan Iran memang sedang berlangsung.

Namun, ia enggan membeberkan target akhir dari proses tersebut, termasuk kepada sekutu-sekutu AS di kawasan Timur Tengah.

Trump hanya menyampaikan bahwa Washington akan melihat hasil negosiasi sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Trump juga kembali menyinggung isu fasilitas nuklir Iran serta operasi militer AS pada Juni 2025 yang menargetkan instalasi nuklir negara tersebut.

Menurutnya, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa tekanan militer pernah menjadi bagian dari dinamika hubungan kedua negara.

Kedatangan armada militer AS ke kawasan Teluk turut meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi langsung.

Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dibalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan militer, kapal, serta sekutu AS, khususnya Israel.

Meski demikian, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran akan lebih memilih mencapai kesepakatan terkait program nuklir dan rudal dibandingkan menghadapi risiko aksi militer.

Pernyataan ini dibalas Teheran dengan sikap tegas bahwa Iran hanya bersedia membahas isu nuklir, bukan kemampuan pertahanan dan persenjataan rudalnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan, otoritas Iran juga membantah sejumlah laporan insiden keamanan, termasuk ledakan di kota pelabuhan Bandar Abbas.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh kebocoran gas dan tidak terkait dengan serangan atau sabotase.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, meskipun dibayangi ketidakpastian dan ancaman eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#iran #donald trump #as