RADARBANYUWANGI.ID - Masa depan Greenland kembali menjadi sorotan geopolitik dunia.
Diplomat senior Denmark dan Greenland mengunjungi Gedung Putih untuk melakukan pembicaraan strategis dengan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Pertemuan tersebut membahas posisi dan kepentingan Greenland di tengah meningkatnya persaingan global di kawasan Arktik.
Greenland, wilayah otonom Denmark yang tertutup es di kawasan Arktik, selama beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump bahkan pernah secara terbuka menyatakan keinginannya agar AS “menguasai” Greenland dengan alasan keamanan nasional.
Pernyataan itu sempat memicu ketegangan diplomatik dengan Denmark, namun menegaskan betapa strategisnya posisi pulau tersebut.
Dengan populasi sekitar 57.000 jiwa, Greenland memang terlihat kecil dan terpencil.
Namun, para analis menilai siapa pun yang memiliki pengaruh dominan di Greenland berpotensi menjadi pemain utama dalam peta kekuatan dunia.
Berikut lima alasan mengapa Greenland dinilai sangat penting secara global.
- Potensi Besar Sektor Pertambangan
Sejak 2009, penduduk Greenland memiliki kewenangan untuk menentukan pemanfaatan sumber daya alam mereka sendiri. Sejak saat itu, sektor pertambangan menjadi salah satu daya tarik utama pulau tersebut.
Melansir Gulf News, akses terhadap sumber daya alam Greenland dianggap sangat krusial oleh Amerika Serikat. Pada 2019, AS menandatangani memorandum kerja sama dengan Greenland terkait sektor pertambangan. Uni Eropa menyusul empat tahun kemudian dengan perjanjian serupa.
Tanah Greenland telah dieksplorasi secara geologis dengan cukup baik. Pemetaan sumber daya yang detail membuat Greenland menjadi salah satu wilayah dengan potensi tambang paling menjanjikan, terutama di era transisi energi global.
- Kaya Mineral Tanah Jarang
Greenland menyimpan cadangan mineral tanah jarang yang sangat dibutuhkan industri teknologi tinggi, energi terbarukan, hingga pertahanan.
Uni Eropa telah mengidentifikasi 25 dari 34 mineral dalam daftar bahan baku pentingnya berada di Greenland, termasuk unsur tanah jarang.
“Seiring meningkatnya permintaan mineral, ada kebutuhan untuk mencari sumber daya yang belum dimanfaatkan,” kata Ditte Brasso Sørensen, analis di Think Tank Europa.
Ia menegaskan pentingnya diversifikasi pasokan, terutama untuk mengurangi ketergantungan pada China yang selama ini mendominasi pasar unsur tanah jarang.
Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa China akan berupaya menguasai atau memiliki pengaruh besar atas sumber daya mineral Greenland jika negara-negara Barat tidak bergerak cepat.
- Masih Minim Eksploitasi
Meski kaya sumber daya, aktivitas pertambangan di Greenland masih sangat terbatas.
Saat ini hanya ada dua tambang aktif, yakni tambang rubi yang tengah mencari investor baru dan tambang anortosit, batuan yang mengandung titanium.
Namun, situasi ini diperkirakan akan berubah. Di wilayah Greenland selatan, proyek logam tanah jarang Tanbreez yang dipimpin Critical Metals Corp berencana membuka tambang di dekat Quaqortoq pada tahun ini. Operasional penuh ditargetkan dimulai tahun depan.
Kondisi ini membuat Greenland dinilai sebagai “ladang emas” masa depan yang belum banyak tersentuh, sehingga memicu persaingan negara-negara besar.
- Lebih Dekat ke New York daripada Kopenhagen
Secara politik, Greenland merupakan wilayah otonom Denmark. Namun, Kopenhagen masih mengendalikan kebijakan luar negeri, pertahanan, keamanan, serta moneter.
Meski demikian, secara geografis Greenland justru lebih dekat ke New York dibandingkan ke ibu kota Denmark.
“Greenland berada di zona kepentingan Amerika Serikat,” ujar sejarawan Astrid Andersen dari Institut Studi Internasional Denmark kepada AFP.
Ia mengingatkan bahwa saat Perang Dunia II, ketika Denmark diduduki Jerman, Amerika Serikat mengambil alih Greenland.
“Dalam arti tertentu, mereka tidak pernah benar-benar pergi,” katanya.
Hingga kini, Amerika Serikat masih memiliki pangkalan militer aktif di Greenland, yakni Pangkalan Luar Angkasa Pituffik.
Pangkalan ini dulu digunakan sebagai sistem peringatan dini terhadap serangan Soviet selama Perang Dingin dan kini tetap menjadi bagian vital dari sistem pertahanan rudal AS.
- Lokasi Strategis Arktik
Sebagai pulau Arktik yang berada di antara Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia, Greenland memiliki nilai strategis luar biasa. Pulau ini berada di jalur terpendek lintasan rudal antara Rusia dan Amerika Serikat.
Pemerintahan Trump menuding Denmark kurang serius berinvestasi dalam keamanan Greenland dan gagal melindunginya dari pengaruh Rusia dan China.
Tuduhan tersebut dibantah Denmark, yang menegaskan komitmennya sebagai anggota pendiri NATO.
Denmark mengklaim telah mengalokasikan hampir 90 miliar kroner atau sekitar USD 14 miliar untuk memperkuat kehadiran militernya di kawasan Arktik.
Beberapa jam sebelum pertemuan di Gedung Putih, Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen juga menyatakan bahwa negaranya tengah meningkatkan kehadiran militer di Greenland dan berdiskusi dengan sekutu mengenai penguatan kehadiran NATO di Arktik.
Jalur Pelayaran Baru dan Kepentingan Ekonomi
Selain faktor keamanan dan sumber daya, mencairnya es Arktik akibat perubahan iklim juga membuka jalur pelayaran baru.
Hal ini berpotensi mengubah peta perdagangan global dan meningkatkan nilai ekonomi Greenland secara signifikan.
Dengan kombinasi kekayaan mineral, posisi geografis strategis, kepentingan militer, dan potensi ekonomi masa depan, Greenland kini bukan lagi sekadar pulau es terpencil.
Bagi banyak pengamat, siapa pun yang mampu menguasai atau memiliki pengaruh dominan di Greenland, berpeluang besar menjadi pemain kunci dalam persaingan kekuatan dunia di abad ke-21. (*)
Editor : Ali Sodiqin