Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ekspor Banyuwangi Tembus 80 Negara, Nilai Perdagangan Global Capai Rp 3,9 Triliun Sepanjang 2025

Ali Sodiqin • Senin, 19 Januari 2026 | 19:30 WIB

Ekspor Banyuwangi 2025 menembus Rp 3,9 triliun ke 80 negara. Produk perikanan, pertanian, hingga kerajinan jadi andalan pasar global.
Ekspor Banyuwangi 2025 menembus Rp 3,9 triliun ke 80 negara. Produk perikanan, pertanian, hingga kerajinan jadi andalan pasar global.

RADARBANYUWANGI.ID - Kinerja ekspor Kabupaten Banyuwangi terus menunjukkan tren menggembirakan.

Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor dari kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini tercatat mencapai 232 juta dolar AS atau setara Rp 3,9 triliun.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan, produk-produk unggulan asal Banyuwangi kini telah menembus pasar global dan diterima di berbagai belahan dunia.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, total ada 80 negara tujuan ekspor dari Banyuwangi. Pasarnya tersebar di Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga Australia,” kata Ipuk, Minggu (17/1/2026), dilansir dari laman banyuwangikab.go.id.

Capaian ini sekaligus menegaskan posisi Banyuwangi sebagai salah satu daerah dengan aktivitas perdagangan internasional paling aktif di Jawa Timur.

Jika dibandingkan dengan tahun 2024, nilai ekspor Banyuwangi yang saat itu berada di angka 196 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,3 triliun, terjadi kenaikan sebesar 18,33 persen.

Menurut Ipuk, pertumbuhan ekspor ini merupakan hasil dari sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, serta dukungan infrastruktur dan kebijakan yang konsisten mendorong sektor riil.

Banyuwangi terus berupaya membuka akses pasar global bagi produk lokal agar mampu bersaing secara berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi Nanin Oktaviantie menjelaskan bahwa komoditas ekspor Banyuwangi sangat beragam.

Hingga saat ini, terdapat 27 produk unggulan yang telah menembus pasar internasional.

“Produk yang diekspor meliputi ikan hias, batu apung, koral, ikan kaleng, olahan rempah-rempah, produk pertanian, kerajinan tangan, hingga buah segar,” ungkap Nanin.

Dari seluruh komoditas tersebut, sektor perikanan masih menjadi tulang punggung ekspor Banyuwangi.

Produk ikan kaleng tercatat sebagai penyumbang nilai ekspor terbesar. Salah satu eksportir utama adalah Pacific Harvest, perusahaan pengolahan ikan yang beroperasi di Kecamatan Muncar.

“Pengiriman dilakukan berbasis kontrak dengan negara tujuan. Dalam sekali pengiriman bisa mencapai puluhan ton. Bahkan pada kondisi tertentu, pengiriman bisa mencapai 40 kontainer per hari,” jelas Nanin.

Ke depan, Pemkab Banyuwangi menargetkan peningkatan volume dan nilai ekspor melalui penguatan ekosistem industri lokal.

Upaya tersebut dilakukan dengan memperluas akses pasar, meningkatkan kualitas produk, serta memperkuat daya saing pelaku usaha, khususnya UMKM berorientasi ekspor.

Selain itu, Pemkab juga terus mendorong masuknya investasi baru ke Banyuwangi.

Menurut Nanin, ketersediaan bahan baku yang melimpah, dukungan infrastruktur, serta iklim usaha yang semakin kondusif menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.

“Langkah ini tidak hanya untuk meningkatkan ekspor, tetapi juga membuka peluang investasi bagi perusahaan besar maupun menengah agar menanamkan modal di Banyuwangi,” terangnya.

Dengan tren ekspor yang terus menanjak dan jangkauan pasar global yang semakin luas, Banyuwangi optimistis mampu memperkuat posisinya sebagai pusat produksi dan perdagangan internasional di kawasan timur Jawa Timur. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#perdagangan global #ekspor #banyuwangi