RADARBANYUWANGI.ID - Nestle kembali menghadapi ujian berat. Raksasa makanan dan minuman asal Swiss itu resmi menarik kembali sejumlah batch produk nutrisi bayi yang dipasarkan di berbagai negara Eropa.
Penarikan dilakukan setelah perusahaan mengidentifikasi potensi risiko keamanan pangan di salah satu pabriknya yang berlokasi di Belanda.
Nestle menerbitkan nomor batch khusus untuk produk yang seharusnya tidak dikonsumsi dan menegaskan bahwa langkah tersebut dilakukan sebagai tindakan pencegahan.
Perusahaan juga menyatakan tengah berupaya meminimalkan potensi gangguan pasokan akibat penarikan produk tersebut.
Penarikan ini mencakup produk utama nutrisi bayi Nestle, antara lain susu formula bayi dan susu formula lanjutan merek SMA, BEBA, dan NAN.
Produk-produk tersebut ditarik dari peredaran di seluruh Eropa karena adanya potensi kontaminasi cereulide, racun yang dapat memicu gangguan pencernaan seperti mual dan muntah.
Nestle mengumumkan penarikan tersebut pada Selasa (6/1). Sebelumnya, perusahaan telah memulai penarikan dalam skala kecil sejak Desember 2025.
Langkah ini menjadi tantangan baru bagi CEO Nestle yang baru, Philipp Navratil, yang tengah berupaya mendorong pertumbuhan dengan meninjau ulang portofolio bisnis setelah periode kekacauan manajemen.
Meski demikian, Nestle menegaskan hingga kini belum ada laporan penyakit atau gejala kesehatan yang dikonfirmasi terkait produk-produk yang ditarik. Pernyataan itu disampaikan perusahaan pada Senin malam (5/1/2026).
“Nestle telah melakukan pengujian terhadap semua minyak asam arakidonat dan campuran minyak terkait yang digunakan dalam produksi produk nutrisi bayi yang berpotensi terdampak,” ujar juru bicara Nestle dalam keterangan resmi.
Asam arakidonat merupakan salah satu komponen penting dalam susu formula bayi. Namun, jika bahan baku atau proses produksinya terkontaminasi, risiko terhadap kesehatan bayi tidak dapat diabaikan.
Penarikan produk ini melibatkan sejumlah negara, yakni Austria, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Norwegia, Swiss, dan Inggris.
Otoritas keamanan pangan di masing-masing negara telah mengeluarkan peringatan kepada konsumen untuk tidak mengonsumsi produk dengan nomor batch tertentu.
Badan Standar Makanan Inggris menjelaskan bahwa cereulide merupakan toksin yang diproduksi oleh beberapa strain bakteri Bacillus cereus. Toksin ini tergolong berbahaya karena tidak dapat dinonaktifkan atau dihancurkan melalui proses memasak, penggunaan air mendidih, maupun saat penyeduhan susu formula bayi.
“Jika dikonsumsi, toksin ini dapat menyebabkan gejala dengan cepat, termasuk mual, muntah, dan kram perut,” tulis Badan Standar Makanan Inggris dalam peringatannya.
Namun demikian, dikutip dari Korea Times, badan keamanan pangan Norwegia menyatakan bahwa kasus ini tidak menimbulkan risiko kesehatan akut bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran publik, meski proses penarikan tetap dilakukan secara menyeluruh.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Austria menyebutkan bahwa penarikan produk tersebut berdampak pada lebih dari 800 produk dari lebih dari 10 pabrik Nestle.
Otoritas setempat bahkan menyebutnya sebagai penarikan produk terbesar dalam sejarah Nestle.
Namun, pihak Nestle menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen angka tersebut.
Dari sisi bisnis, kasus ini cukup signifikan. Berdasarkan analisis SkyQuest Technology Group, Nestle menguasai hampir seperempat pasar nutrisi bayi global yang nilainya mencapai 92,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1,5 triliun.
Meski Nestle tidak mempublikasikan data penjualan spesifik per produk, susu formula bayi merupakan bagian penting dari divisi Nutrisi dan Ilmu Kesehatan.
Divisi ini menyumbang 16,6 persen dari total penjualan Nestle yang mencapai 91,4 miliar franc Swiss atau sekitar Rp 1,9 triliun sepanjang 2024.
Dengan skala bisnis yang besar dan sensitivitas produk nutrisi bayi, penarikan ini menjadi sorotan serius bagi konsumen dan regulator.
Nestle menegaskan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan otoritas setempat serta memastikan standar keamanan pangan tetap terjaga.
Perusahaan juga mengimbau konsumen untuk memeriksa nomor batch produk yang dimiliki dan mengikuti arahan resmi dari otoritas kesehatan masing-masing negara. (*)
Editor : Ali Sodiqin