Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bulgaria Resmi Hapus Mata Uang Lev, Ini Gantinya

Ali Sodiqin • Sabtu, 3 Januari 2026 | 18:30 WIB

Mata uang Bulgaria, Lev, resmi dihapus.
Mata uang Bulgaria, Lev, resmi dihapus.

RADARBANYUWANGI.ID - Bulgaria resmi mencatatkan sejarah baru dengan bergabung ke dalam zona euro mulai Kamis (1/1/2026).

Momen bersejarah ini ditandai dengan perayaan meriah di ibu kota Sofia, termasuk pesta kembang api dan pemasangan replika koin euro raksasa di fasad gedung Bank Sentral Bulgaria, sebagai simbol berakhirnya penggunaan mata uang nasional Lev yang telah digunakan selama puluhan tahun.

Dengan bergabungnya Bulgaria, jumlah warga Eropa yang kini menggunakan mata uang tunggal euro melampaui 350 juta orang.

Negara Balkan berpenduduk sekitar 6,7 juta jiwa tersebut menjadi anggota ke-21 zona euro, menyusul Kroasia yang lebih dulu bergabung pada Januari 2023.

Keanggotaan Bulgaria di zona euro merupakan puncak dari perjalanan panjang sejak negara itu resmi masuk Uni Eropa pada 2007.

Pemerintah Bulgaria menilai adopsi euro akan memperdalam integrasi ekonomi dengan pasar tunggal Eropa, memperkuat stabilitas makroekonomi, serta meningkatkan daya tarik Bulgaria sebagai tujuan investasi asing langsung (FDI).

Bagi masyarakat Bulgaria, peralihan ini membawa perubahan langsung pada nilai nominal uang yang mereka miliki.

Sebagai ilustrasi, simpanan sebesar 10.000 leva kini otomatis dikonversi menjadi sekitar 5.100 euro, mengikuti nilai tukar tetap yang telah ditetapkan sebelumnya.

Selain mempermudah transaksi lintas negara—terutama bagi pelaku usaha dan wisatawan—status sebagai anggota zona euro juga memberi Bulgaria posisi strategis dalam kebijakan moneter Eropa.

Bulgaria kini memiliki kursi resmi di Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) dan hak suara dalam penentuan kebijakan suku bunga di kawasan euro.

“Harapan saya terhadap euro sangat positif. Kita akan mendapat manfaat besar, terutama bagi mereka yang sering bepergian. Tidak ada lagi kerepotan menukar mata uang,” ujar Antonia Tsvetkova, seorang pengusaha perhiasan di Sofia, seperti dikutip Reuters.

Namun demikian, transisi ke euro ini berlangsung di tengah situasi politik domestik yang belum stabil.

Bulan lalu, pemerintah Bulgaria mengundurkan diri setelah gelombang aksi protes besar-besaran, yang dipicu oleh rencana kenaikan pajak serta tekanan biaya hidup yang semakin berat.

Meski komunitas bisnis dan pelaku industri secara umum menyambut positif adopsi euro, opini publik masih terbelah.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan sebagian warga Bulgaria khawatir penggunaan euro justru akan memicu kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi yang lebih tinggi, sebagaimana pernah terjadi di beberapa negara anggota baru zona euro sebelumnya.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah krisis biaya hidup yang masih membayangi Eropa Timur.

Meski pemerintah menegaskan telah menyiapkan berbagai mekanisme pengawasan harga untuk mencegah lonjakan inflasi, rasa waswas di kalangan masyarakat tetap terasa.

Di sisi lain, para ekonom menilai manfaat jangka panjang adopsi euro berpotensi lebih besar dibandingkan risikonya.

Stabilitas mata uang, biaya transaksi yang lebih rendah, serta akses yang lebih luas ke pasar keuangan Eropa diyakini dapat memperkuat fondasi ekonomi Bulgaria dalam jangka menengah hingga panjang.

Dengan berakhirnya era Lev dan dimulainya penggunaan euro, Bulgaria kini memasuki babak baru dalam integrasi Eropa.

Tantangan politik dan sosial masih membayangi, namun langkah ini dinilai sebagai keputusan strategis untuk menempatkan Bulgaria lebih dekat ke jantung ekonomi Eropa. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#mata uang #Zona Euro #bulgaria