Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

KFC–Pizza Hut di India Merger, Bangkrut?

Ali Sodiqin • Sabtu, 3 Januari 2026 | 17:30 WIB
ILUSTRASI: Gerai KFC Tutup.
ILUSTRASI: Gerai KFC Tutup.

RADARBANYUWANGI.ID - Dua operator waralaba raksasa makanan cepat saji di India, Sapphire Foods India dan Devyani International, resmi mengumumkan rencana penggabungan usaha (merger) dengan nilai kesepakatan mencapai US$934 juta atau setara Rp14,7 triliun.

Langkah strategis ini diharapkan menjadi titik balik bagi kedua perusahaan untuk memperkuat daya saing sekaligus mengejar profitabilitas di pasar makanan cepat saji terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk.

Kedua perusahaan merupakan mitra utama Yum Brands dan saat ini mengelola lebih dari 3.000 gerai di India maupun luar negeri, yang mencakup merek-merek global seperti KFC dan Pizza Hut.

Di pasar domestik India, mereka berhadapan langsung dengan para pesaing kuat, seperti Westlife Foodworld selaku operator McDonald’s India dan Jubilant Foodworks yang mengoperasikan Domino’s Pizza.

Merger ini dilakukan di tengah tekanan berat yang melanda industri makanan cepat saji India.

Lonjakan biaya operasional, perlambatan penjualan gerai, hingga margin keuntungan yang terus tergerus membuat para operator harus memutar otak.

Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya belanja non-esensial masyarakat India, seiring meningkatnya kehati-hatian konsumen dalam mengatur pengeluaran.

Analis menilai konsolidasi ini menjadi langkah krusial untuk memperbaiki kinerja keuangan kedua perusahaan.

Pasalnya, baik franchisee KFC maupun Pizza Hut di India hingga kini masih mencatatkan kerugian bersih.

“Sehingga skala usaha menjadi tantangan utama,” ujar Akshay D’Souza, konsultan independen sektor barang konsumsi, Jumat (2/1/2026), dikutip media lokal India.

“Dengan entitas tunggal, jika mereka mampu membuka bahkan setengah dari sinergi yang diharapkan, kita bisa melihat perusahaan yang menguntungkan, dengan kemampuan pengendalian biaya yang jauh lebih baik,” tambahnya.

Dalam skema merger tersebut, Devyani International akan menerbitkan 177 saham baru untuk setiap 100 saham Sapphire Foods.

Entitas gabungan menargetkan sinergi tahunan sebesar 2,1–2,25 miliar rupee, atau sekitar Rp395–424 miliar, yang diharapkan mulai terealisasi pada tahun kedua operasional penuh setelah merger rampung.

Data keuangan terbaru menunjukkan tekanan yang cukup signifikan pada kedua perusahaan.

Pada kuartal yang berakhir September 2025, total biaya konsolidasi Sapphire meningkat 10 persen secara tahunan menjadi 7,68 miliar rupee.

Sementara itu, pengeluaran Devyani melonjak lebih tajam, yakni 14,4 persen, mencapai 14,08 miliar rupee.

Dari sisi laba, kinerja keduanya juga masih tertekan. Devyani International membukukan rugi bersih 219 juta rupee pada kuartal yang berakhir 30 September, berbalik dari laba tipis 170 ribu rupee pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara Sapphire Foods mencatat rugi bersih konsolidasi 127,7 juta rupee, melebar dibandingkan kerugian 30,4 juta rupee setahun lalu.

Dengan penggabungan ini, pelaku pasar berharap entitas baru mampu memanfaatkan skala ekonomi yang lebih besar, menekan biaya operasional, serta memperkuat posisi bersaing di tengah ketatnya kompetisi industri makanan cepat saji India.

Merger tersebut juga dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga relevansi KFC dan Pizza Hut di pasar yang semakin sensitif terhadap harga dan efisiensi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#merger #bangkrut #pizza hut #india #kfc