RADARBANYUWANGI.ID - Gempa bumi bermagnitudo 7,5 mengguncang wilayah timur laut Jepang pada Senin (8/12/2025) pukul 23.15 waktu setempat (21.15 WIB).
Guncangan kuat tersebut menyebabkan sedikitnya 30 orang terluka, memicu evakuasi puluhan ribu warga, serta memunculkan peringatan tsunami yang kemudian dicabut setelah beberapa jam.
Meski demikian, otoritas Jepang tetap meminta masyarakat waspada terhadap potensi gempa susulan yang diprediksi dapat lebih kuat dalam beberapa hari ke depan.
Kisah WNI yang Merasakan Guncangan Hebat
Salah satu Warga Negara Indonesia (WNI), Arka, yang tinggal di Hidaka, Prefektur Hokkaido, wilayah yang termasuk zona merah gempa dan tsunami, mengisahkan bagaimana ia terbangun akibat getaran keras yang mengguncang rumahnya.
Dalam kondisi gelap, ia bersama dua WNI lain yang tinggal serumah merasakan rumah bergetar hebat selama sekitar 20 detik.
Peringatan gempa dari ponsel berbunyi keras, membuat mereka segera mengambil tas berisi dokumen penting dan uang tunai.
Mereka berlari keluar rumah dan mendapatkan instruksi dari warga lokal untuk mengungsi ke Balai Desa yang terletak di wilayah lebih tinggi.
Tempat tersebut sudah ditetapkan pemerintah Jepang sebagai lokasi evakuasi resmi jika terjadi gempa besar atau tsunami.
Setiba di balai evakuasi, petugas mencatat data para pengungsi, termasuk identitas dan kontak darurat.
Arka mengakui bahwa penanganan gempa yang dilakukan pemerintah Jepang sangat cepat dan tertib.
Respons Pemerintah dan Kondisi Infrastruktur
Gempa berkekuatan besar ini juga menyebabkan kerusakan fisik di beberapa titik.
Rekaman video menunjukkan retakan jalan, kaca jendela pecah, hingga satu mobil terperosok akibat keretakan tanah.
Layanan kereta cepat Shinkansen di beberapa jalur dihentikan sementara untuk pemeriksaan rel.
Sekitar 2.700 rumah di Prefektur Aomori sempat mengalami pemadaman listrik di tengah suhu mendekati titik beku.
Namun pada Selasa (9/12/2025) pagi, sebagian besar wilayah telah kembali pulih.
Pemerintah Jepang juga membentuk kantor respons darurat dan mengerahkan tim tanggap bencana untuk penilaian kerusakan hingga operasi penyelamatan.
Imbauan Waspada dari Otoritas Jepang
Badan Meteorologi Jepang (JMA) menegaskan bahwa gempa besar dapat meningkatkan peluang terjadinya guncangan yang lebih kuat, meski probabilitasnya tetap kecil.
Warga di wilayah Hokkaido, Aomori, Miyagi, dan Iwate diminta meninjau kembali rute evakuasi, memperkuat perabot rumah, serta mempersiapkan diri untuk kemungkinan evakuasi mendadak.
Ini merupakan pertama kalinya Jepang mengeluarkan imbauan kewaspadaan tingkat tinggi untuk 182 kota sejak sistem ini diperkenalkan pada 2022.
Kondisi WNI di Jepang: Aman namun Diminta Tetap Waspada
KBRI Tokyo mencatat terdapat sekitar 10.500 WNI di wilayah-wilayah yang terdampak guncangan.
Berdasarkan laporan hingga Selasa (9/12/2025), tidak ada WNI yang menjadi korban luka.
Meski demikian, KBRI mengimbau seluruh WNI agar mempelajari rute evakuasi, menyiapkan tas darurat, menyimpan dokumen penting dan uang tunai, serta memantau informasi resmi dari otoritas Jepang dan KBRI.
KBRI Tokyo juga membuka hotline darurat untuk WNI yang membutuhkan bantuan segera.
Tidak Berdampak ke Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa Jepang ini tidak berpotensi memicu tsunami di Indonesia.
Berdasarkan pemodelan, karakteristik gempa yang terjadi merupakan gempa dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Pasifik dan Okhotsk, namun tidak menghasilkan energi tsunami yang mengarah ke wilayah Nusantara.
Editor : Lugas Rumpakaadi