RADARBANYUWANGI.ID - Warga Moran Street di Kota Tiberias kini hidup dalam ketakutan.
Dalam sebulan terakhir, kawasan pemukiman itu dilanda serangan ular yang semakin mengkhawatirkan, bahkan muncul hampir setiap hari di rumah warga.
Menurut laporan surat kabar Maariv, ular-ular tersebut terlihat merayap di apartemen, tangga, hingga halaman rumah, memicu dugaan adanya sarang ular di bawah gedung.
“Kami hidup seperti di film horor. Anak saya bangun untuk minum air dan menemukan seekor ular di kandang anjing. Saya pergi ke dapur, dan ada seekor ular. Sekarang sudah menjadi rutinitas, tiada hari tanpa ular,” ujar seorang warga dengan nada panik.
Warga lain mengaku kondisi itu sudah tak tertahankan. Mereka kini takut untuk sekadar memasuki rumah sendiri.
“Anak saya menemukan seekor bayi ular di ruang tamu kemarin. Hampir setiap hari kami melihat ular di tangga atau dekat gedung. Kami benar-benar takut,” kata seorang ibu rumah tangga.
Meski pemerintah kota telah mengirimkan penangkap ular sebelumnya, situasi bukannya membaik—malah semakin parah. Warga menilai penanganan pemerintah setengah hati dan tidak menyentuh akar masalah.
“Ular terus keluar dari tanah dan tidak ada yang menyelidiki penyebabnya. Kelalaian ini bisa mengancam jiwa,” keluh seorang warga lain.
Pemerintah daerah mengonfirmasi laporan warga dan menyebut tim penangkap ular telah kembali dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.
Mereka akan menilai kemungkinan adanya penanganan khusus guna menyingkirkan sarang ular yang diduga berasal dari area terbuka di sekitar permukiman.
“Mereka bilang kemungkinan ular berasal dari lahan kosong di dekat sini. Kami diminta menunggu hasil pemeriksaan, tapi sementara itu, kami terus menemukan ular,” ujar seorang perempuan dengan nada kecewa.
Tak hanya ular, warga juga melaporkan kemunculan kalajengking di area yang sama. Situasi ini membuat rasa takut semakin meningkat.
“Ini berbahaya. Sampai terjadi tragedi, mereka tidak akan paham betapa seriusnya ancaman ini,” kata seorang pria yang resah.
Kini, warga Moran Street menuntut pembersihan dan pemberantasan total di seluruh lingkungan.
Mereka menyebut situasi tersebut sebagai ancaman nyata bagi keselamatan keluarga, terutama anak-anak yang sudah tak lagi merasa aman di rumah sendiri. (*)
Editor : Ali Sodiqin