RADARBANYUWANGI.ID - Madagascar, sebuah negara kepulauan di selatan Afrika yang kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, tengah menghadapi guncangan politik besar.
Pada Selasa (14/10/2025), Presiden Andry Rajoelina resmi dilengserkan setelah parlemen melakukan pemakzulan dan militer mengambil alih kekuasaan dalam waktu singkat.
Peristiwa ini menjadi puncak dari berminggu-minggu aksi protes besar yang dipimpin oleh generasi muda.
Gelombang Protes dan Awal Kejatuhan
Krisis ini bermula dari kekecewaan rakyat terhadap pemerintahan Rajoelina yang dinilai gagal menyediakan kebutuhan dasar seperti air bersih dan listrik.
Protes meluas di berbagai kota, dipelopori oleh anak muda yang terinspirasi dari gerakan sosial global.
Di ibu kota Antananarivo, ribuan orang turun ke jalan membawa bendera nasional, menari, dan meneriakkan tuntutan agar sang presiden mundur.
Kemarahan publik juga dipicu oleh tudingan bahwa Rajoelina terlalu dekat dengan Prancis, bekas penjajah Madagascar.
Banyak warga menilai hubungan itu membuat negara kehilangan kemandirian dan terjebak dalam praktik korupsi serta ketimpangan ekonomi.
Pemakzulan dan Kudeta Militer
Langkah pemakzulan oleh parlemen terjadi secara cepat.
Dengan mayoritas suara, anggota parlemen menuduh Rajoelina menyalahgunakan kekuasaan, melakukan transaksi ilegal, dan memberikan hadiah tidak pantas.
Setelah hasil pemungutan suara diumumkan, sorak-sorai menggema di ruang sidang dan di jalan-jalan kota.
Tak lama setelah itu, pasukan militer memasuki istana presiden dan mengumumkan pembubaran lembaga-lembaga tinggi negara, termasuk Mahkamah Agung dan Komisi Pemilihan Umum.
Namun, mereka tetap mempertahankan keberadaan Majelis Nasional untuk sementara waktu.
Kolonel Michael Randrianirina, yang kini memimpin pemerintahan sementara, menyatakan bahwa transisi kekuasaan ini akan berlangsung maksimal dua tahun.
Pemerintahan transisi tersebut berjanji menyusun konstitusi baru melalui referendum dan mengembalikan stabilitas politik.
Reaksi Rajoelina dan Kekhawatiran Dunia
Menanggapi peristiwa itu, Rajoelina menyebut pemakzulan dirinya sebagai tindakan ilegal oleh faksi militer pemberontak.
Ia menegaskan masih memegang kekuasaan sah dan menolak hasil keputusan parlemen.
Namun, dengan militer dan rakyat yang berbalik arah, posisinya kini semakin lemah.
Komunitas internasional menyoroti situasi ini dengan cermat.
Madagascar merupakan salah satu negara penerima bantuan asing terbesar di kawasan Afrika, dan ketidakstabilan politik dapat memicu isolasi diplomatik serta memperburuk kondisi ekonomi yang sudah rapuh.
Euforia dan Ketidakpastian
Di tengah sorak kemenangan, banyak warga menyadari bahwa perjuangan belum berakhir.
Meski euforia menyelimuti jalanan Antananarivo, sejumlah pengamat menilai pengambilalihan militer berpotensi menimbulkan siklus kekuasaan baru yang tak jauh berbeda dari sebelumnya.
Sejarah menunjukkan, Rajoelina sendiri naik ke tampuk kekuasaan pada 2009 lewat kudeta serupa.
Bagi banyak rakyat, terutama generasi muda, momen ini menjadi simbol pembebasan dari kepemimpinan yang dianggap mengekang.
Namun, apakah euforia ini akan berujung pada perubahan nyata, atau sekadar pergantian wajah dalam sistem lama, masih menjadi tanda tanya besar.
Jatuhnya Andry Rajoelina menandai babak baru dalam sejarah politik Madagascar.
Semangat rakyat, khususnya generasi muda, menunjukkan bahwa kekuatan suara publik mampu mengguncang rezim yang mapan.
Namun, masa depan negara ini kini bergantung pada sejauh mana pemerintahan transisi mampu menjaga stabilitas, menegakkan keadilan, dan mengembalikan kepercayaan dunia terhadap demokrasi di tanah merah Afrika tersebut.
Editor : Lugas Rumpakaadi