RADARBANYUWANGI.ID - Madagaskar kembali menjadi sorotan dunia setelah unit militer elit negara itu, CAPSAT (Personnel Administration and Technical and Administrative Services Corps), mengumumkan bahwa mereka telah mengambil alih kekuasaan dari Presiden Andry Rajoelina.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Kolonel Michael Randrianirina, kepala CAPSAT, di depan Istana Kepresidenan di ibu kota Antananarivo pada Selasa (14/10/2025).
Randrianirina menegaskan bahwa militer akan membentuk pemerintahan sementara dan menyelenggarakan pemilihan umum dalam waktu dua tahun.
Dalam pidatonya, ia juga menyatakan penangguhan beberapa lembaga demokratis utama, termasuk komisi pemilihan nasional.
Namun, ia menekankan bahwa gerakan anak muda yang menjadi penggerak protes beberapa minggu terakhir akan dilibatkan dalam proses perubahan tersebut.
“Gerakan ini lahir di jalanan, maka tuntutan mereka harus dihormati,” ujarnya.
Protes Anak Muda yang Mengguncang Negeri
Aksi protes besar-besaran di Madagaskar bermula dari kemarahan masyarakat terhadap krisis air dan listrik yang berkepanjangan.
Namun, dalam waktu singkat, demonstrasi itu berubah menjadi gelombang perlawanan terhadap pemerintah, menyoroti masalah pengangguran tinggi, korupsi, dan krisis biaya hidup.
Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan menyebabkan setidaknya 22 orang tewas dan lebih dari 100 terluka, menurut laporan PBB.
Pemerintah menolak angka tersebut, menyebutnya sebagai berita palsu dan rumor yang dilebih-lebihkan.
Nasib Presiden Rajoelina Tidak Jelas
Presiden Andry Rajoelina, yang pernah dikenal sebagai pemimpin muda penuh harapan di Afrika, kini menghadapi ketidakpastian politik terbesar dalam kariernya.
Ia mengaku tengah bersembunyi di tempat aman setelah mengklaim adanya upaya pembunuhan yang melibatkan personel militer dan politisi.
Meski begitu, CAPSAT membantah tudingan tersebut.
Laporan yang belum dikonfirmasi menyebutkan bahwa Rajoelina telah dievakuasi dengan pesawat militer Prancis, namun belum ada bukti resmi yang menguatkan kabar itu.
Militer Elit yang Berbalik Arah
Ironisnya, CAPSAT adalah unit yang dulu mendukung Rajoelina saat ia merebut kekuasaan pada 2009.
Kini, mereka justru menjadi kekuatan yang menggulingkannya.
Kolonel Randrianirina, yang kini dinyatakan sebagai pemimpin sementara oleh Mahkamah Konstitusi, menilai Madagaskar tengah berada dalam kekacauan karena tidak ada presiden yang memimpin.
Sementara itu, kantor kepresidenan masih menegaskan bahwa Rajoelina tetap menjadi kepala negara sah, dan menyebut langkah militer sebagai upaya kudeta yang tidak sah.
Reaksi Dunia Internasional
Menyikapi situasi ini, Uni Afrika (UA) menolak keras campur tangan militer dalam politik Madagaskar dan memperingatkan agar tidak terjadi perubahan kekuasaan yang tidak konstitusional.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyebut kondisi tersebut sebagai sangat mengkhawatirkan.
Dari Washington, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyerukan semua pihak untuk mencari solusi damai yang menghormati tatanan konstitusional.
Namun di lapangan, suasana masih mencekam.
Ribuan warga di Antananarivo merayakan jatuhnya pemerintahan Rajoelina sambil mengibarkan bendera nasional dan meneriakkan yel-yel kebebasan.
Negeri yang Terjebak dalam Siklus Krisis
Madagaskar, dengan populasi sekitar 30 juta jiwa, adalah salah satu negara termiskin di dunia.
Berdasarkan data Bank Dunia, 75 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.
Krisis politik yang berulang kali mengguncang negeri ini telah memperburuk kondisi ekonomi dan memperlemah kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap pergantian kekuasaan di Madagaskar jarang diikuti oleh stabilitas.
Kali ini, dengan keterlibatan aktif generasi muda dan tekanan internasional, masa depan negara kepulauan di Samudra Hindia ini berada di persimpangan antara reformasi dan kekacauan baru.
Editor : Lugas Rumpakaadi