Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Israel vs Greta Thunberg, Deportasi Aktivis Pro-Palestina Picu Kecaman Dunia

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 8 Oktober 2025 | 13:37 WIB
Israel mendeportasi Greta Thunberg dan 170 aktivis pro-Palestina dari armada Global Sumud Flotilla.
Israel mendeportasi Greta Thunberg dan 170 aktivis pro-Palestina dari armada Global Sumud Flotilla.

RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah Israel telah mendeportasi aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, bersama 170 aktivis pro-Palestina lainnya.

Mereka ditahan setelah armada Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dicegat oleh angkatan laut Israel pekan lalu.

Thunberg tiba di Bandara Athena, Yunani, dengan disambut sorak-sorai pendukung dan bunga di tangannya.

Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa misi flotilla tersebut adalah upaya terakhir masyarakat internasional untuk menyalurkan bantuan ke Gaza yang tengah mengalami krisis kemanusiaan.

“Ada genosida yang sedang terjadi. Sistem internasional kita telah gagal melindungi warga Palestina,” ujar Thunberg di hadapan media.

Kronologi Penangkapan dan Deportasi

Menurut Kementerian Luar Negeri Israel, para aktivis tersebut diterbangkan ke Yunani dan Slovakia.

Di antara mereka terdapat warga dari Prancis, Italia, Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa lainnya.

Dari total 479 orang yang berada di atas 42 kapal GSF, 341 telah dideportasi, sementara 138 lainnya masih ditahan di Israel.

Lebih dari 40 di antaranya diketahui melakukan mogok makan sebagai bentuk protes terhadap perlakuan selama penahanan.

Pihak Israel membantah tuduhan adanya penyiksaan dan pelanggaran hak asasi manusia, menyebut laporan tersebut sebagai berita palsu yang sudah direncanakan sebelumnya.

Namun sejumlah aktivis memberikan kesaksian berbeda.

Seorang pengacara asal Spanyol, Rafael Borrego, mengaku bahwa para tahanan mengalami kekerasan fisik dan psikologis.

Beberapa warga Swiss juga menuduh adanya kondisi penahanan yang tidak manusiawi dan perlakuan merendahkan.

Tujuan Global Sumud Flotilla dan Tuduhan Israel

GSF berangkat dari Barcelona pada akhir Agustus dengan tujuan membuka jalur kemanusiaan ke Gaza dan memprotes blokade laut Israel yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.

Para penyelenggara menegaskan bahwa blokade tersebut melanggar hukum internasional dan menyebabkan penderitaan besar bagi 2,3 juta penduduk Gaza.

Namun Israel menyebut misi tersebut sebagai aksi propaganda, dengan alasan armada itu hanya membawa sekitar dua ton bantuan.

Pemerintah Israel menegaskan bahwa blokade dilakukan secara sah dan mereka telah memfasilitasi masuknya bantuan melalui jalur resmi.

Reaksi Dunia Internasional

Tindakan Israel memicu kecaman global.

PBB menyerukan agar blokade Gaza segera diakhiri dan bantuan kemanusiaan dapat disalurkan tanpa hambatan.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam komentarnya menilai Greta Thunberg sebagai pembuat onar dan menuduhnya memiliki masalah emosional.

Pernyataan ini memicu kontroversi dan kritik dari berbagai kalangan yang menilai komentar tersebut merendahkan perjuangan kemanusiaan.

Krisis Gaza dan Tuduhan Genosida

Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran ke Jalur Gaza.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 67.000 warga Palestina telah tewas, dan ratusan lainnya meninggal akibat kelaparan dan kekurangan gizi.

Laporan dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menyatakan bahwa wilayah Gaza tengah mengalami kelaparan akut, dan situasi diperkirakan akan memburuk dalam beberapa minggu ke depan.

Meski demikian, Israel menolak tuduhan genosida dan menegaskan tindakannya sejalan dengan hukum internasional.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Israel #Global Sumud Flotilla #palestina #gaza #Greta Thunberg