RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan geopolitik kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan keinginannya untuk merebut kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan.
Namun, pemerintah Taliban menegaskan penolakannya, sekaligus memperingatkan agar AS menghormati kedaulatan Afghanistan.
Pernyataan Donald Trump
Dalam beberapa kesempatan, Trump menekankan bahwa AS “ingin segera mengembalikan Bagram”.
Ia bahkan menyebut pihaknya sedang melakukan pembicaraan dengan Afghanistan terkait hal tersebut, meski tidak memberikan detail lebih lanjut.
Trump juga memperingatkan bahwa “hal buruk” bisa terjadi bila Afghanistan menolak.
Ancaman itu menimbulkan kekhawatiran akan potensi eskalasi baru di kawasan Asia Tengah.
Respons Tegas Taliban
Juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, menolak keras pernyataan Trump.
Ia menegaskan bahwa Afghanistan menjalankan kebijakan luar negeri berbasis ekonomi dan hubungan konstruktif dengan semua negara, tanpa campur tangan asing.
Mujahid juga mengingatkan AS tentang Perjanjian Doha 2020, yang menyatakan bahwa Washington tidak boleh mengancam kedaulatan maupun mencampuri urusan internal Afghanistan.
Sementara itu, Kepala Staf Kementerian Pertahanan Afghanistan, Fasihuddin Fitrat, menegaskan, “Kesepakatan atas sejengkal pun tanah Afghanistan tidak mungkin terjadi. Kami tidak membutuhkannya.”
Sejarah dan Signifikansi Bagram
Bagram bukan sekadar pangkalan udara biasa.
Selama dua dekade perang setelah serangan 11 September 2001, fasilitas ini menjadi pusat operasi militer AS di Afghanistan.
Pangkalan tersebut pernah memiliki restoran cepat saji, toko-toko, hingga kompleks penjara besar.
Dengan luasnya yang strategis, Bagram dianggap sebagai aset militer penting, tetapi juga berpotensi menjadi sasaran serangan kelompok militan, termasuk ISIS dan al Qaeda.
Risiko dan Dampak Geopolitik
Para analis menilai upaya merebut kembali Bagram dapat memicu eskalasi besar.
Dibutuhkan lebih dari 10.000 tentara serta sistem pertahanan canggih untuk mengamankan pangkalan itu.
Selain ancaman dari kelompok militan lokal, Bagram juga rentan terhadap serangan rudal jarak jauh, terutama dari Iran.
Kehadiran kembali pasukan AS di Afghanistan juga berisiko dianggap sebagai invasi ulang, yang dapat memperburuk citra Washington di mata komunitas internasional.
Dinamika Global: Palestina dan Geopolitik Baru
Penolakan Taliban terhadap Trump terjadi bersamaan dengan perkembangan penting lain, yakni pengakuan resmi Inggris, Kanada, dan Australia terhadap negara Palestina.
Langkah ini memperkuat posisi Palestina di panggung internasional, meski menuai kecaman keras dari Israel.
Kedua isu ini menunjukkan bagaimana geopolitik global tengah berada pada persimpangan jalan.
Amerika Serikat berusaha mengembalikan pengaruh di Afghanistan, sementara dunia internasional semakin menyoroti isu Palestina sebagai kunci perdamaian Timur Tengah.
Editor : Lugas Rumpakaadi