RADARBANYUWANGI.ID - Carlo Acutis resmi dinobatkan sebagai santo pada Minggu (7/9/2025) dalam prosesi kanonisasi yang dipimpin Paus Leo XIV di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.
Bersamaan dengan itu, Pier Giorgio Frassatti juga diangkat menjadi santo.
Ribuan umat berkumpul, membawa bendera dan plakat bergambar Acutis, remaja yang wafat akibat leukimia pada 2006 di usia 15 tahun.
Kanonisasi ini sebelumnya direncanakan pada April, namun ditunda usai wafatnya Paus Fransiskus.
Paus Fransiskus sendiri pernah menyebut Acutis sebagai “influencer Tuhan” karena kepiawaiannya memanfaatkan internet untuk menyebarkan iman Katolik.
Ia membuat situs web khusus dokumentasi mujizat yang hingga kini masih dikunjungi banyak orang.
Ibunda Carlo, Antonia Salzano, menegaskan putranya menjadi pesan harapan bagi generasi muda di tengah dunia digital.
Carlo dikenal disiplin menggunakan teknologi.
Ia membatasi diri bermain PlayStation hanya satu jam dalam seminggu.
Ucapannya yang terkenal, “semua orang terlahir orisinil, tapi banyak yang mati sebagai fotokopi,” kini semakin dikenal luas.
Proses kanonisasi Carlo didukung oleh dua mujizat yang diakui Gereja.
Pertama, kesembuhan seorang anak Brasil dari cacat lahir setelah doa khusus kepada Carlo.
Kedua, pemulihan seorang gadis Kosta Rika dari cedera kepala serius usai ibunya berziarah ke makam Carlo di Assisi.
Jenazah Acutis kini ditempatkan dalam sarkofagus kaca di Gereja Santa Maria Maggiore, Assisi.
Fragmen jantungnya juga diabadikan sebagai relik yang dipamerkan di berbagai negara.
Kehidupan sederhana sekaligus modern Carlo Acutis menjadikannya teladan unik.
Seorang santo muda yang mampu menghubungkan iman dan teknologi, sekaligus memberi inspirasi baru bagi umat Katolik di era digital.
Editor : Lugas Rumpakaadi