RADARBANYUWANGI.ID – Dari ratusan bendera negara di dunia, sebagian besar didominasi oleh warna-warna seperti merah, putih, biru, hijau, dan kuning.
Namun, hampir tidak ada yang menggunakan warna ungu. Mengapa warna yang terlihat elegan dan mencolok ini sangat jarang dipakai?
Secara historis, ungu pernah menjadi warna paling mahal di dunia. Pewarna ungu pada zaman dahulu berasal dari ekstrak siput laut jenis murex, dan proses pembuatannya sangat memakan waktu serta mahal.
Diperlukan ribuan siput untuk menghasilkan hanya beberapa gram pewarna ungu. Karena itu, warna ungu dahulu hanya digunakan oleh kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan.
Kondisi ini menjadikan ungu sebagai warna yang sulit diakses oleh sebagian besar negara yang merancang bendera pada abad ke-18 dan ke-19.
Pada masa-masa penting pembentukan negara-negara modern, ungu bukanlah pilihan yang realistis karena tingginya biaya produksi.
Hingga kini, hanya ada dua negara yang diketahui menggunakan warna ungu dalam benderanya: Dominika dan Nikaragua.
Dominika menampilkan burung sisserou berwarna ungu pada bagian tengah benderanya.
Sementara itu, bendera Nikaragua memiliki pelangi kecil di tengah lambangnya, yang mencakup warna ungu meskipun tidak terlalu dominan.
Selain soal biaya, ungu juga dinilai kurang memiliki asosiasi kuat dengan nilai-nilai perjuangan, kemerdekaan, atau simbol budaya yang banyak diangkat dalam filosofi bendera.
Warna seperti merah dan hijau lebih umum dipilih karena menggambarkan darah perjuangan, harapan, dan alam.
Dalam dunia modern, meskipun teknologi pewarnaan sudah maju, pemakaian warna ungu dalam bendera nasional tetap langka karena faktor historis dan simbolik tadi.
Warna ini lebih sering ditemui di bendera organisasi, perayaan, atau desain non-negara.
Fakta ini menunjukkan bahwa bendera bukan sekadar kain simbolis, melainkan juga cerminan sejarah, kondisi sosial, dan bahkan persoalan logistik pada masanya.
Jadi, kalau kamu bertanya-tanya kenapa ungu jarang muncul di bendera negara, jawabannya bukan karena tidak menarik—tetapi karena terlalu mahal dan tidak relevan saat bendera-bendera itu pertama kali diciptakan.
Penulis: Devi Fathihatul Asliha | magang jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin