RADARBANYUWANGI.ID - Alarm bahaya kembali berbunyi di dunia pendidikan Korea Selatan.
Survei tahun 2023 terhadap 486.729 pelajar di Seoul mencatat 2,2% siswa menjadi korban kekerasan di sekolah, menjadikannya angka tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Dari angka tersebut, rincian mengejutkan terlihat: 4,6% siswa SD, 1,6% SMP, dan 0,4% SMA melaporkan menjadi korban bullying dalam berbagai bentuk.
Bentuk kekerasan yang paling umum?
- Kekerasan verbal (37,7%)
- Kekerasan fisik (18,1%)
- Perundungan kelompok (15,3%)
Ini bukan sekadar ejekan ringan di kelas—fenomena bullying di Korea Selatan sudah masuk ke level krisis.
Kenapa Kasus Bullying di Korea Begitu Tinggi? Ini Biang Keladinya!
1. Tekanan Akademis yang Mencekik
Korea dikenal dengan sistem pendidikan super kompetitif. Target nilai sempurna, ujian masuk universitas elite, dan ranking ketat jadi tekanan harian siswa. Banyak yang akhirnya melampiaskan stres ini dalam bentuk agresi terhadap teman sekelas.
2. Hierarki Sosial yang Kaku
Pengaruh budaya Konfusianisme menjadikan senioritas sebagai kekuasaan absolut. Siswa senior atau yang dianggap “lebih tinggi” sering menekan junior mereka tanpa alasan yang jelas.
3. Standar Kecantikan Tak Masuk Akal
Obsesi masyarakat terhadap penampilan membuat siswa yang tak sesuai “standar ideal” jadi target empuk bullying. Dari fisik, gaya rambut, sampai warna kulit bisa jadi bahan ejekan.
Dampak Mengerikan: 54% Korban Pernah Pikirkan Bunuh Diri
Lebih dari setengah korban kekerasan di sekolah, berdasarkan survei, mengaku pernah memikirkan untuk mengakhiri hidup. Ini bukan hanya soal luka fisik, tapi trauma mental mendalam yang sering diabaikan.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, komunitas LGBTQ+ di Korea Selatan menghadapi risiko lebih besar:
54% dari mereka pernah mengalami bullying di sekolah, baik secara verbal maupun sosial.
Ini turut mendorong tingginya tingkat depresi dan ideasi bunuh diri di kalangan mereka.
Tak Hanya di Sekolah, Dunia Kerja pun Tak Bebas dari Kekerasan
Kementerian Ketenagakerjaan Korea mencatat lebih dari 40.000 kasus kekerasan di tempat kerja dalam lima tahun terakhir. Mulai dari intimidasi verbal, pelecehan fisik, hingga kekerasan psikologis.
Mirisnya, kurang dari 5% kasus benar-benar ditindaklanjuti. Sisanya hilang di tengah proses birokrasi atau tekanan internal perusahaan.
Bullying Zaman Now: Makin Kejam Lewat Layar Ponsel
Cyberbullying menjadi bentuk perundungan yang paling berkembang pesat. Pelaku bisa menyebar kebencian, gosip, bahkan ancaman secara anonim lewat media sosial.
Korban? Tak hanya menderita secara mental, tapi juga sulit mencari perlindungan.
Langkah Pemerintah: Sudah Ada, Tapi Belum Cukup
Pemerintah Korea Selatan telah membentuk pos penyidik khusus kasus kekerasan di sekolah, serta memperkuat peran polisi sekolah. Namun, para aktivis menilai ini baru permukaan.
Pendidikan karakter, empati, dan kampanye anti-bullying harus digalakkan sejak dini. Tak hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan keluarga dan dunia kerja.
Kamu Bisa Jadi Bagian dari Solusi
Bullying bukan masalah satu negara, tapi masalah kita bersama. Jangan diam jika kamu melihat temanmu dibully. Satu dukungan kecil bisa jadi penyelamat nyawa. (*)
- Penulis: Maharani Valensya Nurma Yunita | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
- Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News