RADARBANYUWANGI.ID – Empat tahun telah berlalu sejak dunia Yang Sora runtuh. Namun bagi sang ibu, waktu seperti berhenti.
Ia masih mengingat jelas senyum anak sulungnya yang dulunya rajin belajar dan penuh semangat, sebelum sosok itu berubah menjadi asing dan penuh amarah.
Dari seorang mahasiswi pascasarjana yang penuh harapan, Yang Sora berubah menjadi sosok yang diselimuti trauma, dan tidak ada satu pun institusi yang benar-benar mendengarkan jeritannya.
Yang membuat luka itu semakin dalam adalah kenyataan bahwa Sora tidak sendiri. Sang adik, Yang So Jung, yang merasa bertanggung jawab telah mengenalkan kakaknya pada pekerjaan sebagai figuran drama, menyusul meninggal dunia enam hari setelah kepergian Sora.
Ia menolak makan, terus menyalahkan diri, dan akhirnya menyerah pada rasa duka yang begitu besar. Tak lama, sang ayah meninggal akibat pendarahan otak.
Tiga kematian dalam satu keluarga, semua bermula dari satu pekerjaan tambahan di lokasi syuting yang seharusnya biasa saja.
Ironisnya, segala kesaksian dan bukti yang Sora kumpulkan justru menjadi senjata yang menyakitinya sendiri. Ia pernah membawa setumpuk catatan dan rekaman kepada polisi, namun respons yang diterimanya sangat mengecewakan. "Apa kau yakin ini kasus?" begitu tanggapan aparat.
Sora bahkan diminta untuk menggambarkan alat kelamin pelaku, pengalaman yang digambarkan oleh banyak pihak sebagai bentuk viktimisasi sekunder yang kejam dan tidak manusiawi.
Sora tidak hanya menghadapi satu pelaku. Dalam pengaduannya, ia menyebut 12 orang yang terdiri dari staf produksi dan koordinator figuran.
Dalam kesaksiannya, Sora mengaku telah mengalami pemerkosaan dan pelecehan seksual hingga 40 kali dalam tiga bulan, termasuk penyekapan selama tiga hari oleh salah satu asisten sutradara yang merampas ponselnya.
Namun, tekanan demi tekanan membuatnya mencabut laporan dua tahun kemudian, dan tiga tahun setelahnya, ia melompat dari lantai 18.
Perubahan perilaku Sora sebenarnya sudah tampak sejak syuting di Hadong. Ia mulai bicara sendiri, berperilaku aneh, bahkan mengancam keluarganya.
Ibunya masih teringat saat ia harus membuka pintu dan membiarkan So Jung lari ke kantor polisi tanpa alas kaki karena merasa nyawa mereka terancam.
Kisah ini disorot dalam program KBS2 Smoking Gun, yang membongkar bukan hanya derita keluarga Yang, tetapi juga kelalaian aparat hukum yang seharusnya melindungi, bukan membungkam.
Kini, sang ibu hanya punya satu tujuan: menegakkan keadilan untuk dua putrinya yang telah tiada. Dengan suara bergetar ia berkata, “Saya tidak akan diam. Negara ini harus tahu, polisi telah membunuh anak saya.” (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.
Editor : Agung Sedana