RADARBANYUWANGI.ID – Jepang kini tengah menghadapi fenomena dramatis: ribuan sekolah ditutup setiap tahun karena jumlah siswa yang semakin menyusut.
Kondisi ini mencerminkan tekanan demografis yang serius dan menimbulkan pertanyaan soal masa depan pendidikan dan komunitas di daerah terpencil.
Setiap tahunnya, lebih dari 400–500 sekolah dasar hingga menengah di Jepang ditutup akibat menurunnya tingkat kelahiran.
Sejak tahun 2002 hingga 2020, sekitar 8.580 sekolah umum telah digerus demografi lokal dan tidak lagi beroperasi.
Fenomena ini dipicu oleh angka kelahiran yang terus merosot pada 2022, jumlah bayi yang lahir turun ke bawah 800.000 orang, mencetak rekor terendah dalam sejarah Jepang.
Tren ini memperparah kondisi sekolah-sekolah kecil di daerah pedesaan, yang tidak lagi sanggup menampung jumlah siswa minimal untuk membuka kelas.
Contohnya di Yumoto Junior High School, Fukushima, yang memiliki hanya dua siswi saat kelulusan terakhir, kemudian ditutup pada 2023 karena tak ada penerus.
Bangunan sekolah yang telah berdiri sejak 1947 akhirnya harus ditutup, menjadi simbol kehampaan pendidikan di desa terpencil.
Kondisi ini tak lepas dari gaya hidup generasi muda Jepang, di mana sebagian memilih menjadi childfree, menghindari memiliki anak karena faktor ekonomi, karier, dan gaya hidup.
Survei pada generasi Z menyebutkan sekitar 50% responden berusia 18–25 tahun tidak tertarik punya anak karena merasa tidak siap secara finansial dan psikologis.
Dampaknya meluas, tidak hanya pada sektor pendidikan. Sekitar 450 sekolah tutup setiap tahunnya, dan akan meningkat di tahun mendatang.
Baca Juga: Gaji TKI 2025: Korea-Singapura-Jepang-Arab Saudi, Terbaru Taiwan Capai Rp22 Juta Sebulan
Banyak komunitas pedesaan kehilangan pusat sosialisasi, guru kehilangan tempat mengajar, serta generasi muda tanpa pilihan sekolah dekat rumah.
Beberapa sekolah lama kini diubah fungsi menjadi museum, pusat seni, ataupun bangsal komunitas. Walau demikian, upaya ini hanya menutupi sisi estetika; masalah demografi tetap tak terselesaikan.
Indonesia tentu memiliki tantangan demografis berbeda, namun pelajaran dari Jepang penting untuk diperhatikan: menurunnya angka kelahiran dan kebiasaan childfree dapat menggerus fungsi pendidikan, mengikis hak warga atas akses belajar, dan melemahkan identitas komunitas lokal. ***
Penulis: Devi Fathihatul Asliha | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin