RADARBANYUWANGI.ID – Perang abadi Israel yang berpusat di Gaza masih terus memanas meski upaya gencatan senjata terus diusahakan.
Israel sudah menyatakan setuju pada rencana gencatan senjata 60 hari yang dimediasi Amerika Serikat, tetapi Hamas belum sepenuhnya mau menghentikan perlawanan sebelum syarat-syarat tertentu dipenuhi, terutama pembebasan sandera dan penghentian operasi militer total.
Sementara itu, serangan Israel ke Gaza, terutama di Gaza City, Khan Younis, dan Rafah, masih berlangsung dengan korban sipil yang terus bertambah.
Sebelumnya, perang Israel dengan negara Islam juga meluas ke Iran. Pada pertengahan Juni 2025, Israel melancarkan serangan udara dan drone ke beberapa fasilitas militer dan nuklir Iran.
Iran membalas dengan gelombang penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang diduga terlibat spionase untuk Israel.
Konflik ini akhirnya mereda dengan gencatan senjata yang ditengahi Amerika, membuka peluang baru untuk normalisasi diplomasi di kawasan Teluk, meski ketegangan tetap terasa karena jaringan spionase dan sanksi yang masih diberlakukan.
Konflik juga berimbas di Lebanon dan Suriah. Hezbollah di Lebanon tetap menolak perlucutan senjata dan terus melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel utara. Israel pun membalas dengan operasi darat terbatas di perbatasan.
Di Suriah, serangan udara Israel menargetkan posisi milisi Iran dan pasukan pemerintah Suriah, terutama di wilayah selatan dekat Dataran Tinggi Golan. Beberapa bentrokan lokal, termasuk kerusuhan di Jaramana yang melibatkan warga Druze, semakin memicu potensi gesekan di zona perbatasan.
Secara regional, situasi ini membuat negara-negara Arab di sekitar Israel, seperti Mesir, Yordania, dan negara-negara Teluk, terlibat aktif dalam diplomasi untuk meredam eskalasi.
Mesir dan Qatar tetap menjadi jalur utama negosiasi, sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai membuka peluang pembicaraan damai regional, termasuk membahas normalisasi hubungan dengan Israel pasca konflik dengan Iran.
Namun, semua upaya ini masih diwarnai ketegangan karena masalah Palestina tetap menjadi isu sensitif yang belum terselesaikan sepenuhnya.
Ustadz Adi Hidayat (UAH) kembali memantik perenungan publik dengan penjelasannya tentang nubuat Al-Qur’an terkait Bani Israil.
Dalam ceramahnya, UAH menegaskan bahwa peristiwa yang kini terjadi di Palestina, khususnya di Jalur Gaza, sejatinya adalah bagian dari janji Allah yang sudah lama tercatat dalam Surat Al-Isra.
Menurut UAH, setidaknya ada tiga fase besar yang membentuk siklus sejarah Bani Israil, sebagaimana tercantum dalam QS Al-Isra ayat 4–7.
Dua fase di antaranya disebut sudah berlalu, sementara fase ketiga kini sedang berlangsung di depan mata.
Ayat Al-Qur’an: Dua Kali Kerusakan
UAH mengutip firman Allah dalam QS Al-Isra ayat 4:
“Dan Kami telah menyatakan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”
Dalam tafsir para ulama klasik seperti Ibn Kathir, kerusakan pertama dikaitkan dengan pembangkangan Bani Israil pada masa para nabi hingga penindasan oleh Nebukadnezar di Babilonia.
Kerusakan kedua terjadi pada masa Romawi, ketika Baitul Maqdis (Yerusalem) dihancurkan dan bangsa Yahudi diusir.
UAH menjelaskan bahwa ayat tersebut bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga isyarat bagi generasi Muslim agar memetik pelajaran.
Fase Ketiga: Janji Allah untuk Menyuramkan Wajah Mereka
Masih dari QS Al-Isra ayat 7, Allah berfirman:
"Maka apabila datang saat hukuman untuk (kerusakan) yang kedua di antara keduanya, Kami datangkan orang-orang yang lain untuk menyuramkan wajah-wajah kalian, dan untuk memasuki masjid (Al-Aqsa) sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai dengan kebinasaan total”
UAH menggarisbawahi, inilah fase ketiga yang menurutnya kini sedang dibuka. Ia menekankan, banyak orang menyangka Israel hari ini mustahil runtuh karena pertahanan mereka terkenal modern.
Namun dalam sudut pandang nubuat Al-Qur’an, rasa jumawa ini justru menjadi sebab kehancuran.
“Sekarang diperlihatkan. Orang-orang itu seperti di era Nabi yang membayangkan bentengnya enggak bisa ditembus, intelijennya kuat. Tapi Allah tunjukkan, kokoh itu ternyata bisa ditembus,” kata UAH dalam ceramahnya.
Tiga Bagian Fase Ketiga
Menariknya, UAH juga memecah fase ketiga ini ke dalam tiga bagian lagi, merujuk pada kata-kata “liasu wujuhakum”, “waliyadkulul masjida kama dakhaluhu awwala marrah”, dan “waliutabbiru ma tatbira”. Ketiganya bermakna:
1. Mempermalukan di muka dunia. Israel yang tampak tak terkalahkan dipermalukan melalui perlawanan yang tak terduga.
2. Masjidil Aqsa akan kembali dikuasai, umat Islam akan kembali memasuki Masjidil Aqsa sebagaimana generasi pertama memasuki Baitul Maqdis.
3. Kehancuran total, rezim penindas akan dilenyapkan dengan sehabis-habisnya.
“Ormas kecil yang kalian bilang remeh bisa menembus benteng kalian. Ini bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk tunjukkan betapa kokohnya kalian di mata dunia ternyata rapuh di hadapan Allah,” tegasnya.
Bukan Sekadar Nubuat, Tapi Pengingat
UAH menekankan, nubuat ini bukan alasan umat Islam bersikap fatalis atau hanya jadi penonton. Justru sebaliknya, ini panggilan agar umat semakin yakin bahwa pertolongan Allah nyata bagi yang bersabar dan berjuang.
“Janji Allah itu pasti. Tapi kita harus jadi bagian dari yang menegakkan perintah-Nya, bukan hanya menonton. Doa, bantuan kemanusiaan,” pungkasnya.
Editor : Agung Sedana