RADARBANYUWANGI.ID - Keputusan Presiden Donald Trump untuk melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni 2025 menuai reaksi keras dari dalam negeri.
Alih-alih memperkuat dukungan publik, langkah ini justru memicu penolakan luas warga Amerika Serikat.
Di berbagai kota seperti New York, Los Angeles, dan Chicago, unjuk rasa damai digelar dengan satu suara: “No More Endless Wars”.
Menurut survei dari The Washington Post, 45% warga AS menyatakan tidak setuju dengan keputusan militer tersebut, sementara hanya 25% mendukung dan 30% lainnya masih belum menentukan sikap.
Penolakan paling signifikan datang dari kalangan independen dan Demokrat, yang melihat serangan tersebut sebagai pemantik potensi konflik berkepanjangan seperti invasi Irak di masa lalu.
Tak hanya kalangan sipil, sejumlah tokoh konservatif dan sayap kanan yang biasanya menjadi basis pendukung Trump juga menunjukkan kekhawatiran.
Steve Bannon dan Marjorie Taylor Greene, misalnya, menyuarakan bahwa intervensi militer seperti ini berpotensi “mengoyak kesatuan dalam negeri” dan tidak sejalan dengan prinsip “America First” yang selama ini dikampanyekan Trump.
Bahkan media sayap kanan seperti The Daily Caller dan Breitbart ikut mengkritik langkah tersebut sebagai “tidak bijak dan tergesa-gesa”.
Di media sosial, tagar #NoToWar dan #StopTrumpWar menjadi trending di X (Twitter) dan TikTok.
Banyak anak muda mengunggah video protes, termasuk kritik satir terhadap elit politik Washington yang dinilai terus menjadikan Timur Tengah sebagai ladang perang.
Sementara itu, kelompok aktivis seperti CodePink, Veterans for Peace, dan MoveOn.org telah mengorganisasi gelombang protes lanjutan yang direncanakan berlangsung serentak di 12 negara bagian.
Di San Francisco, sekitar 5.000 orang turun ke jalan membawa poster “Peace With Iran” dan “End War Profiteering”.
Baca Juga: Amerika Bantu Israel Keroyok Iran, Potensi Perang Dunia III Semakin Menguat
Di sisi lain, kubu pendukung Trump masih terbelah. Meskipun 65% pemilih Partai Republik menyatakan dukungan terhadap serangan tersebut (menurut survei JL Partners), sebagian dari mereka mengaku khawatir bahwa keterlibatan AS akan berkembang menjadi perang besar yang memakan biaya dan nyawa warga sipil maupun militer.
Kritik dari anggota parlemen pun kian lantang. Senator Demokrat dan beberapa Republik moderat mempertanyakan konstitusionalitas serangan tersebut yang dilakukan tanpa persetujuan Kongres.
“Presiden tidak bisa secara sepihak menyeret bangsa ini ke dalam konflik berskala internasional,” ujar Senator Tim Kaine.
Dengan ketegangan yang terus meningkat antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, suara warga Amerika semakin penting untuk diperhitungkan.
Di tengah ancaman eskalasi, masyarakat sipil justru menunjukkan bahwa mereka belum siap menghadapi babak baru konflik di Timur Tengah.
Editor : Agung Sedana