RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah Iran kembali mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat usai serangan udara yang menghantam tiga fasilitas penting di wilayahnya.
Dalam pernyataan resminya, Teheran menegaskan bahwa mereka kini menganggap semua aset militer dan intelijen Amerika di Timur Tengah sebagai target yang sah dan halal untuk diserang.
Pernyataan tegas ini datang langsung dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut serangan AS terhadap situs nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan sebagai tindakan perang dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
“Kami berhak membalas. Semua opsi ada di atas meja. Setiap agresi terhadap tanah Iran akan dihadapi dengan balasan setimpal,” tegas Araghchi dalam siaran televisi setempat.
Tak hanya dari Kementerian Luar Negeri, Badan Energi Atom Iran (AEOI) juga mengecam keras serangan tersebut.
Mereka menyebut tiga lokasi yang diserang merupakan bagian dari program nuklir sipil yang berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Abolfazl Shekarchi, juga menyuarakan hal serupa.
Ia menyatakan bahwa Iran kini dalam posisi siap siaga untuk menghadapi segala bentuk agresi lanjutan dan tidak akan sungkan menyerang target-target militer Amerika di kawasan.
“Setiap serangan terhadap wilayah kedaulatan kami akan dibalas. Kami tidak akan tinggal diam,” tegasnya seperti dikutip Reuters.
Sebelumnya, Amerika Serikat meluncurkan serangan udara terkoordinasi terhadap fasilitas nuklir Iran pada Jumat malam waktu setempat.
Pemerintah AS menyebut operasi tersebut sebagai bentuk tekanan untuk menghentikan ambisi nuklir Teheran yang dianggap membahayakan stabilitas global.
Namun Iran bersikukuh bahwa seluruh lokasi yang diserang merupakan bagian dari program nuklir sipil yang diawasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
“Tindakan AS justru menunjukkan arogansi dan pengabaian terhadap hukum internasional,” tambah Araghchi.
Ancaman Iran ini mengingatkan kembali pada ucapan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Ini seolah menghidupkan kembali semangat perlawanan yang pernah ia gaungkan pada awal 2020 saat Amerika Serikat membunuh Jenderal Qasem Soleimani.
Kala itu, Khamenei bersumpah bahwa darah Soleimani tidak akan tumpah sia-sia.
“Balas dendam yang keras akan datang. Amerika harus tahu, wilayahnya kini tidak lagi aman dari kemarahan rakyat Iran,” ujar Khamenei dalam pidato peringatan kematian Soleimani yang kembali viral usai serangan terbaru.
Pengamat Timur Tengah menilai pernyataan Iran kali ini bukan sekadar retorika. Mengingat banyaknya jaringan proksi Iran di wilayah seperti Suriah, Lebanon, dan Irak, bukan tidak mungkin pembalasan akan terjadi melalui serangan tidak langsung.
Israel pun turut mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka usai mencuatnya ancaman balasan. Meski tak secara resmi mengaku terlibat dalam serangan terhadap Iran, Israel diyakini memiliki peran intelijen dalam operasi tersebut.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memang tak pernah benar-benar mereda. Namun kali ini, dengan fasilitas strategis Iran yang dihantam, situasi dinilai jauh lebih rawan.
Banyak pihak khawatir serangan balasan Iran bukan hanya akan membidik pasukan AS, tapi juga pangkalan sekutu Amerika di wilayah Teluk.
Editor : Agung Sedana