RADARBANYUWANGI.ID - Apa itu rudal Sejjil? Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, satu nama kembali mencuat dari basis militer Iran, yakni rudal Sejjil.
Ini bukan sekadar rudal balistik jarak menengah, Sejjil memikul makna strategis dan simbolik yang sangat dalam.
Nama “Sejjil” diambil langsung dari Al-Qur’an surat Al-Fiil, menggambarkan batu dari tanah yang terbakar (kerikil neraka).
Pada era kenabian, kerikil ini merupakan senjata langit yang menghancurkan pasukan bergajah ketika hendak menyerang Ka’bah.
Al kisah, sekitar tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, seorang raja dari Yaman bernama Abrahah memimpin pasukan bergajah menuju Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah.
Ia ingin menggantikan Ka’bah dengan gereja megah yang dibangunnya disana. Pasukan besar itu membuat takut penduduk Mekkah, hingga mereka hanya bisa pasrah, berharap pertolongan dari Allah.
“Wa arsala ‘alaihim ṭairan abābīl” - (Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong: QS Al-Fiil ayat 3)
Saat pasukan Abrahah hampir memasuki kota suci, langit tiba-tiba dipenuhi burung-burung kecil berbondong-bondong dari segala arah.
“Tarmīhim biḥijāratim min sijjīl” – (kemudian melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar: QS Al-Fiil ayat 4)
Burung-burung itu membawa batu dari tanah yang terbakar (sijjīl) di paruh dan cakarnya. Mereka menjatuhkan batu-batu itu ke pasukan, yang seketika terkena azab.
“Faja‘alahum ka‘aṣfim ma’kūl – (lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat: QS Al-Fiil ayat 5)
Lantas tubuh para pasukan itu hancur dan terbakar, bahkan Abrahah sendiri terkena dan mati mengenaskan dalam perjalanan pulang ke Yaman.
Peristiwa ini diabadikan dalam Surat Al-Fil, sebagai bukti kekuasaan Allah dalam melindungi rumah-Nya tanpa bantuan manusia.
Ka’bah tetap berdiri, dan pasukan besar musnah hanya dengan batu dan burung. Kisah ini menjadi simbol bahwa kekuatan Tuhan jauh melampaui kekuatan militer manusia.
Dalam konteks militer Iran, nama Sejjil bukanlah pilihan biasa. Ia adalah pernyataan ideologis dan spiritual.
Rudal Sejjil dikembangkan oleh Aerospace Industries Organization Iran dan pertama kali diuji coba pada tahun 2008.
Ia merupakan pengembangan lanjutan dari rudal Shahab-3, tetapi dengan bahan bakar padat dua tahap dan teknologi yang lebih modern, stabil, dan siap tempur dalam waktu singkat.
Dengan panjang sekitar 18 meter, bobot 22 ton, dan jangkauan mencapai 2.500 km, Sejjil dirancang untuk menjangkau target jauh seperti Israel, pangkalan militer AS di Teluk, hingga sebagian Eropa Timur.
Tapi lebih dari itu, ia adalah alat perlawanan simbolis terhadap dominasi kekuatan militer Barat di kawasan.
“Kami menamai rudal ini dengan nama yang memiliki makna historis dan keimanan. Sejjil adalah batu dari langit untuk membela kehormatan bangsa,” ujar seorang pejabat IRGC dalam pidato parade militer tahun 2019.
Dalam literatur Islam klasik, kata “sijjīl” merujuk pada batu yang sangat keras, berasal dari tanah liat yang dibakar dan memiliki daya hancur besar.
Dalam sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Luth, sijjīl juga digunakan untuk menggambarkan azab Tuhan bagi kaum yang melanggar batas.
Iran bukan hanya negara dengan kekuatan militer. Ia juga membangun strategi komunikasi politik yang sangat religius dan simbolik.
Sejjil menjadi bagian dari narasi itu. Dalam banyak parade, rudal ini sering ditampilkan diiringi lantunan ayat-ayat suci dan slogan-slogan seperti "Kematian bagi Israel" dan "Dari langit, balasan datang."
Pada Juni 2025, Iran meluncurkan rudal Sejjil secara nyata ke wilayah Israel dalam rangkaian Operasi “True Promise 3” sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas nuklir mereka.
Ini menjadi kali pertama Sejjil digunakan secara operasional, bukan sekadar untuk parade atau latihan.
Reaksi dunia internasional pun beragam. Sebagian mengecam, sebagian lainnya mengakui bahwa doktrin rudal Iran telah melampaui retorika. Sejjil bukan lagi mitos, tapi senjata strategis yang kini berdiri nyata di medan tempur.
Editor : Agung Sedana