RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan antara Iran dan Israel mencapai puncak baru setelah Iran mengonfirmasi peluncuran rudal balistik jarak menengah Sejjil dalam serangan ke wilayah Israel pada pertengahan Juni 2025.
Ini menjadi kali pertama rudal strategis dua tahap berbahan bakar padat tersebut digunakan dalam konflik terbuka, menandai peningkatan kemampuan ofensif militer Iran secara signifikan.
Dalam pernyataan resmi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), peluncuran Sejjil dilakukan sebagai bagian dari gelombang ke-12 Operasi True Promise 3, yang diklaim sebagai balasan terhadap serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran beberapa waktu lalu.
“Rudal-rudal kami termasuk Sejjil berhasil mencapai target militer strategis di wilayah pendudukan,” ujar juru bicara IRGC, seperti dilansir oleh kantor berita Tasnim dan dikutip ulang oleh Times of India (20/6/2025).
Sejjil adalah rudal balistik jarak menengah (MRBM) dengan jangkauan sekitar 2.000 km, mampu membawa hulu ledak seberat 700–1.000 kg.
Rudal ini menggunakan bahan bakar padat dua tahap, membuatnya lebih cepat diluncurkan, tidak memerlukan pengisian bahan bakar di lapangan, dan lebih sulit dideteksi dibanding rudal berbahan bakar cair seperti Shahab-3.
Menurut analis militer dari Washington Post, penggunaan Sejjil menjadi sinyal kuat bahwa Iran kini memasuki fase serangan strategis penuh terhadap Israel, setelah sebelumnya hanya mengandalkan rudal jarak pendek dan drone dalam konflik proksi.
Israel melalui IDF (Israel Defense Forces) mengonfirmasi adanya peluncuran sejumlah rudal dari wilayah Iran dan negara sekutu seperti Suriah dan Yaman.
Sistem pertahanan Iron Dome, David's Sling, dan Arrow disebut berhasil mencegat sebagian besar rudal, termasuk satu unit Sejjil yang diyakini menargetkan fasilitas militer di kawasan Negev.
Meski sebagian besar rudal berhasil dicegat, beberapa fragmen dilaporkan jatuh di wilayah sipil, menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan dan kendaraan, namun tidak ada korban jiwa dilaporkan hingga berita ini diturunkan.
“Kami menghadapi gelombang serangan strategis dari Iran, tetapi sistem pertahanan kami bekerja efektif. Kami bersiap menghadapi eskalasi berikutnya,” ujar juru bicara militer Israel dalam jumpa pers di Tel Aviv.
Penggunaan Sejjil menambah kekhawatiran akan potensi perluasan perang di kawasan.
Analis geopolitik menyebut serangan ini sebagai “pergeseran dari strategi deterrence ke strategi preemptive” dari pihak Iran, sekaligus membuktikan bahwa rudal jarak menengah mereka kini benar-benar operasional dan siap tempur.
“Ini bukan uji coba atau sekadar unjuk kekuatan. Iran benar-benar meluncurkan rudal kelas strategis ke wilayah Israel. Dunia harus memperhatikan perubahan ini,” tulis kolumnis The Australian.
Presiden AS dan pemimpin negara-negara G7 dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat terkait kondisi terbaru di Timur Tengah, termasuk kemungkinan penguatan pertahanan Israel dan langkah diplomatik untuk menahan eskalasi lebih lanjut.
Editor : Agung Sedana