Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Israel Warning Serangan Lanjutan: 300 Ribu Warga Iran Mengungsi, Jalanan Macet, Internet Putus

Agung Sedana • Selasa, 17 Juni 2025 | 21:39 WIB
Ilustrasi warga Palestina mengungsi.
Ilustrasi warga Palestina mengungsi.

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan militer antara Israel dan Iran meledak menjadi konflik terbuka sejak Jumat, 13 Juni lalu. Serangan udara besar-besaran yang dilakukan Israel ke berbagai kota strategis di Iran memicu gelombang pengungsian besar dari ibu kota Teheran ke wilayah utara negara tersebut.

Serangan yang dikenal sebagai Operation Rising Lion itu menyasar fasilitas nuklir, pangkalan militer, hingga infrastruktur sipil.

Tak hanya diam, Iran membalas dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, menyebabkan kerusakan di beberapa kota termasuk Tel Aviv dan Bat Yam.

Menurut laporan dari Associated Press dan The Times, jumlah korban jiwa di Iran akibat serangan udara mencapai sedikitnya 224 orang, sementara lebih dari 1.200 orang lainnya terluka.

Di pihak Israel, Magen David Adom melaporkan sedikitnya 27 warga sipil tewas akibat serangan balasan dari Iran.

Namun, yang paling mencolok dari konflik ini adalah eksodus massal warga sipil.

Lebih dari 100.000 warga dilaporkan telah meninggalkan Teheran dalam waktu kurang dari 72 jam sejak serangan pertama.

Pemerintah Israel bahkan sempat mengeluarkan peringatan evakuasi kepada sekitar 300.000 warga di kawasan sekitar target militer di Teheran.

Kemacetan parah terjadi di jalur keluar ibu kota menuju provinsi Mazandaran, Gilan, dan Alborz.

Laporan dari media lokal menyebutkan bahwa stasiun pengisian bahan bakar kehabisan stok, koneksi internet terputus hingga 50 persen, dan terjadi pengetatan keamanan oleh aparat dalam upaya meredam kepanikan publik.

Di perbatasan Iran–Turki, fenomena serupa mulai tampak. Puluhan warga Iran mencoba menyeberang ke wilayah Van dan Bazargan, berharap dapat tinggal sementara waktu di Turki.

Meski demikian, Kementerian Dalam Negeri Turki menegaskan bahwa belum terjadi arus pengungsi besar-besaran ke negaranya, meskipun ada peningkatan jumlah pencari suaka harian.

“Saya hanya ingin anak-anak saya tidur tanpa suara rudal,” kata Shirin Talebi, warga Teheran yang ditemui di pos perbatasan Bazargan.

Ia mengaku akan tinggal selama dua bulan di kota Dogubayazit, Turki.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta warga sipil Teheran untuk segera mengungsi dan menekankan bahwa kawasan tersebut tidak lagi aman.

Trump juga mendesak negara-negara G7 untuk bersatu menghadapi ancaman program nuklir Iran.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, dalam pernyataan resminya, membuka jalur bantuan kemanusiaan dan mengizinkan warga Iran tinggal di negaranya tanpa visa hingga 90 hari.

Beberapa negara seperti Jerman, India, Inggris, dan Filipina juga telah memulai evakuasi warga negara mereka dari Iran sejak Senin pagi.

Meski perang belum meluas ke negara tetangga, dampak langsung konflik ini sudah terasa besar di ranah kemanusiaan.

Iran kini menghadapi tekanan besar, selain kehancuran infrastruktur, negara itu juga harus mengelola arus pengungsi internal dalam jumlah besar.

Sementara, dunia terus memantau dengan rasa khawatir bahwa perang regional ini bisa menjalar menjadi krisis global.

Editor : Agung Sedana
#Berita Terbaru #Perang Iran Israel #update #mengungsi