RADARBANYUWANGI.ID - Konflik antara Iran dan Israel kini telah mencapai titik paling membahayakan dalam sejarah modern Timur Tengah.
Sejak Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran ke fasilitas nuklir dan markas militer Iran pada 13 Juni 2025, gelombang balasan dari Teheran datang bertubi-tubi.
Kini, dunia menahan napas menyaksikan dua kekuatan regional ini bertukar rudal dan drone setiap harinya.
Menurut laporan Times of India dan Washington Post, Iran telah meluncurkan sembilan gelombang serangan berupa rudal balistik dan drone ke wilayah Israel.
Beberapa berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Iron Dome, namun sisanya menghantam kota-kota besar seperti Tel Aviv dan Haifa.
Sementara itu, Israel membalas lewat serangan bertajuk Operation Rising Lion yang sebelumnya menghancurkan beberapa fasilitas nuklir Iran di Natanz dan Fordow.
Korban tewas sejauh ini dilaporkan mencapai lebih dari 220 orang di Iran dan sekitar 30 di Israel, menurut pantauan ABC News dan The Guardian.
Beberapa fasilitas sipil seperti rumah sakit dan kantor siaran Iran ikut terkena dampak serangan udara.
Iran menuding Israel sengaja menyerang warga sipil dan menyebutnya sebagai kejahatan perang.
Dunia Panik: Respon Amerika Serikat dan Sekutu
Amerika Serikat secara resmi menyatakan kekhawatiran atas eskalasi ini.
Gedung Putih mengerahkan kapal induk USS Nimitz, pesawat tanker, dan satuan pertahanan tambahan ke kawasan Teluk.
Pentagon, melalui laporan Washington Post, menyatakan pengerahan ini bukan untuk menyerang Iran, melainkan sebagai bentuk pertahanan terhadap kemungkinan perluasan konflik yang mengancam personel dan kepentingan AS di kawasan.
Presiden AS juga memperingatkan warga Teheran untuk mengungsi dari wilayah sensitif dan meminta Iran menahan diri dari aksi lanjutan.
Namun hingga saat ini, Iran belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.
G7 Terpecah, PBB Serukan Gencatan Senjata
Pertemuan G7 di Kanada menghasilkan desakan gencatan senjata, meski sempat diwarnai perbedaan sikap.
AS dilaporkan menolak menandatangani pernyataan bersama karena ingin menjaga opsi militer tetap terbuka, sementara Prancis, Inggris, dan Jerman mendesak jalur diplomasi.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan keprihatinan serius dan meminta kedua negara memprioritaskan perlindungan warga sipil.
Lembaga kemanusiaan seperti Palang Merah dan ICRC juga menyampaikan krisis kemanusiaan di Iran akibat kerusakan infrastruktur.
Sejumlah negara, termasuk Indonesia, Brasil, Venezuela, Oman, dan Nigeria, menyatakan kecaman terhadap serangan militer terbuka ini.
Mereka menuntut penghormatan terhadap hukum internasional dan mendesak penghentian kekerasan.
Sementara itu, Tiongkok, Rusia, dan Turki mengusulkan mediasi, meski hingga kini belum ada langkah nyata yang berhasil menurunkan tensi.
Hingga hari keempat setelah serangan Israel, belum ada sinyal gencatan senjata. Sebaliknya, kedua belah pihak tampak meningkatkan intensitas dan jangkauan serangan.
Menurut ABC World News Tonight, sistem pertahanan Israel kini beroperasi 24 jam penuh, sementara Iran dilaporkan memindahkan sebagian aset militer ke wilayah pegunungan.
Editor : Agung Sedana