RADARBANYUWANGI.ID - Konflik Iran-Israel telah memasuki babak paling panas. Dunia dikejutkan oleh serangan udara besar-besaran Israel ke wilayah Iran—dengan target utama fasilitas nuklir dan tokoh militer.
Tak berselang lama, Iran membalas dengan serangan rudal balistik dan drone ke wilayah jantung Israel. Mengapa Iran menyerang balik dengan intensitas setinggi ini?
Usut punya usut, ini memiliki alasan yang tidak sederhana.
Dirangkum dari berbagai sumber media asing ternama, setidaknya ada lima alasan utama yang melatarbelakangi serangan habis-habisan Teheran.
Dan semuanya berkaitan erat dengan geopolitik, strategi pertahanan, dan reputasi nasional Iran di mata dunia.
1. Balas Dendam atas Serangan Israel ke Fasilitas Nuklir dan Elit Militer
Pada 13 Juni 2025, Israel meluncurkan Operation Rising Lion, serangan militer paling berani dalam dekade terakhir. Targetnya yakni fasilitas nuklir Iran seperti Natanz dan Fordow, serta tokoh-tokoh penting seperti Kepala Staf Gabungan Mohammad Bagheri dan Komandan IRGC Hossein Salami.
Bagi Iran, serangan ini adalah pelanggaran brutal terhadap kedaulatan negara dan sinyal bahwa Israel tak lagi bermain lewat proksi.
Membalas secara langsung bukan hanya reaksi emosional—tapi kebutuhan strategis untuk mempertahankan kredibilitas militernya.
2. Luka Lama: Serangan Israel ke Konsulat Iran di Suriah (2024)
Serangan Israel pada April 2024 ke gedung konsulat Iran di Damaskus yang menewaskan tujuh anggota IRGC, termasuk dua jenderal, menjadi luka diplomatik yang belum sembuh.
Saat itu, Iran membalas dengan serangan drone ke Israel, tapi responnya masih terbatas.
Kini, ketika Israel kembali menyerang, Iran memutuskan tak hanya membalas, tapi melipatgandakan intensitasnya.
Pesan yang ingin disampaikan jelas setiap nyawa tokoh penting yang hilang akan dibayar dengan kekuatan penuh.
3. Menegaskan Daya Cegah (Deterrence) Iran ke Dunia
Selama ini Iran dikenal agresif melalui proksi Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, atau Houthi di Yaman.
Tapi kali ini, Iran menyerang langsung ke Tel Aviv dan Haifa.
Ini adalah pernyataan militer bahwa Teheran memiliki kemampuan serang langsung yang presisi dan tak lagi ragu menggunakannya.
Secara strategis, ini semacam "uji coba terbuka" untuk menguji sistem pertahanan Israel dan menunjukkan ke negara lain bahwa menyerang Iran punya konsekuensi besar.
4. Kegagalan Diplomasi Nuklir dan Ancaman Eksistensial
Perundingan nuklir Iran dan negara-negara barat mengalami kebuntuan total sejak awal 2025.
Ketika Israel menyerang situs nuklir Iran dengan dalih pencegahan senjata pemusnah massal, Teheran menilai itu sebagai serangan terhadap hak pembangunan energi nasional.
Iran bahkan mengancam keluar dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Serangan ke Israel menjadi bentuk penegasan bahwa Iran tak bisa ditekan secara sepihak tanpa membalas.
5. Konsolidasi Politik Domestik dan Pengaruh Regional
Iran sedang menghadapi tekanan internal: ekonomi tertekan, oposisi meningkat, dan sanksi belum dicabut.
Dalam situasi seperti ini, perang seberapa pahit pun bisa menjadi alat penyatu bangsa.
Selain itu, Iran juga ingin mempertegas dirinya sebagai pemimpin “Poros Perlawanan” terhadap Israel.
Dengan menggempur Israel secara terbuka, Iran memperkuat legitimasi di mata Hamas, Hizbullah, dan sekutu regionalnya.
Serangan Iran ke Israel kali ini bukan reaksi impulsif. Ini adalah puncak dari konflik laten yang telah mendidih sejak lama yang meledak karena serangan Israel, dan dibalas dalam skala penuh.
Di balik rudal dan drone, tersimpan pesan diplomatik, ancaman strategis, dan permainan kekuasaan yang melibatkan lebih dari dua negara.
Editor : Agung Sedana